10 Produk RI yang Jadi Primadona di Iran: Sabun, Kopi Hingga Buah

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

03 March 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia- Sepanjang Januari-Desember 2025, ekspor Indonesia ke Iran mencapai US$249,1 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun (US$1=Rp 16.850). Angka ini naik 20,79% secara tahunan (year on year/yoy).

Kenaikan ini mempertebal surplus dagang Indonesia terhadap Iran, mengingat impor dari negara tersebut hanya berada di kisaran satu digit juta dolar AS.

Struktur ekspor masih terkonsentrasi pada komoditas konsumsi dan bahan baku ringan. Buah dan buah bertempurung (HS 08) menjadi penopang utama dengan nilai US$86,4 juta, tumbuh 49,6% yoy. Porsinya mencapai lebih dari sepertiga total ekspor Indonesia ke Iran.

Di bawahnya, kendaraan dan suku cadang (HS 87) mencatat US$34,1 juta, meski pertumbuhannya relatif tipis 2,0%. Lemak dan minyak nabati (HS 15) mencapai US$21,9 juta, naik hampir 20%. Kayu dan produk kayu (HS 44) menyentuh US$20 juta dengan kenaikan 22,3%.

Yang paling menonjol adalah kopi, teh, dan rempah (HS 09). Nilainya US$19,15 juta dan tumbuh 79,4% secara tahunan. Lonjakan ini memperlihatkan bahwa permintaan Iran terhadap komoditas konsumsi cepat dari Indonesia tetap solid di tengah tekanan ekonomi domestik mereka.

Selain itu, aneka produk kimia (HS 38) mencapai US$20,25 juta, sementara olahan makanan (HS 21) sebesar US$12 juta. Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) serta bahan kimia organik (HS 29) juga menunjukkan kenaikan masing-masing 48,7% dan 56,5%, meski basis nilainya lebih kecil.

Jika dilihat dari sisi pertumbuhan tertinggi, lonjakan ekstrem memang muncul di lapisan bawah. Kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) tumbuh lebih dari 4.000% menjadi US$0,55 juta. Produk tembakau olahan (HS 24) naik 1.412%, kaca (HS 70) 378%, serta barang logam tidak mulia (HS 83) 410%.

Namun seperti pola sebelumnya, basis nilai komoditas tersebut sangat kecil. Kenaikan persentase tinggi tidak mengubah struktur utama ekspor Indonesia ke Iran. Peta tetap didominasi buah, kendaraan, minyak nabati, kayu, dan rempah.

Konflik Meledak

Situasi geopolitik berubah drastis pada 28 Februari 2026 ketika Presiden Donald Trump mengumumkan operasi militer besar terhadap Iran bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Serangan menyasar fasilitas nuklir dan kepemimpinan Iran.

Laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan di Teheran. Iran kemudian meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Israel dan sejumlah titik di kawasan Teluk.

Eskalasi ini berpotensi mengubah lanskap perdagangan pada 2026. Jika gangguan meluas ke jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, risiko tidak hanya datang dari sisi Iran, tetapi juga dari volatilitas harga energi global dan premi asuransi pengiriman.

Ekspor Indonesia ke Iran masih bertumpu pada komoditas konsumsi yang relatif cepat berputar dan tidak membutuhkan skema pembiayaan kompleks.

Ini menjadi bantalan tersendiri di tengah ketidakpastian politik dan risiko pembayaran.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |