11 Cara Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan Agar Tidak Boros

2 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Bulan Ramadan identik dengan peningkatan aktivitas konsumsi, mulai dari belanja kebutuhan sahur dan berbuka, membeli takjil, hingga mempersiapkan kebutuhan Lebaran.

Tanpa perencanaan yang matang, pengeluaran selama Ramadan bisa membengkak dan berdampak pada kondisi keuangan setelah Idul Fitri. Padahal, Ramadan seharusnya menjadi momen untuk melatih pengendalian diri, termasuk dalam hal keuangan.

Dengan strategi yang tepat, Anda tetap bisa memenuhi kebutuhan ibadah dan keluarga tanpa harus mengalami masalah finansial di akhir bulan.

Berikut panduan lengkap cara mengatur keuangan selama Ramadan agar tetap hemat, stabil dan tidak boros

Mengapa Pengeluaran Selama Ramadan Sering Meningkat?

Banyak orang tidak menyadari bahwa pengeluaran rumah tangga cenderung naik selama bulan puasa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Belanja makanan berlebihan: Keinginan membeli berbagai menu berbuka sering kali dipicu oleh rasa lapar saat berpuasa.

  2. Konsumsi impulsif: Diskon Ramadan dan promo belanja online membuat banyak orang membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

  3. Persiapan Lebaran: Kebutuhan seperti pakaian baru, hampers, mudik, dan kue kering menambah daftar pengeluaran.

  4. Pengeluaran sosial dan keagamaan: Termasuk zakat, sedekah, buka bersama, dan kegiatan sosial lainnya.

Jika tidak direncanakan sejak awal, kombinasi pengeluaran tersebut dapat membuat kondisi keuangan menjadi tidak terkendali.

1. Buat Anggaran Khusus Ramadan

Langkah pertama yang paling penting adalah membuat anggaran khusus untuk kebutuhan Ramadan. Pisahkan dari anggaran bulanan biasa agar pengeluaran lebih terkontrol.

Contoh kategori anggaran Ramadan:

  • Kebutuhan makanan sahur dan berbuka

  • Takjil atau makanan tambahan

  • Zakat dan sedekah

  • Buka bersama

  • Persiapan Lebaran (pakaian, kue, hampers)

  • Biaya mudik (jika ada)

Tentukan batas maksimal untuk setiap kategori. Dengan adanya anggaran yang jelas, Anda dapat menghindari pengeluaran berlebihan.

2. Prioritaskan Kebutuhan, Bukan Keinginan

Selama Ramadan, penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Fokuskan pengeluaran pada hal-hal yang benar-benar penting, seperti:

  • Bahan makanan pokok

  • Kebutuhan ibadah

  • Zakat dan kewajiban lainnya

  • Biaya transportasi dan operasional harian

Sementara itu, pengeluaran seperti membeli pakaian baru dalam jumlah banyak, dekorasi berlebihan, atau berbuka di restoran mahal sebaiknya dibatasi.

Prinsip sederhana yang bisa digunakan adalah: Jika tidak dibeli hari ini, apakah masih berdampak besar? Jika tidak, kemungkinan itu hanya keinginan.

Salah satu penyebab pemborosan adalah belanja tanpa rencana. Untuk mengatasinya, buat daftar menu sahur dan berbuka selama satu minggu.

Manfaatnya:

  • Menghindari pembelian bahan yang tidak diperlukan

  • Mengurangi makanan terbuang

  • Menghemat waktu dan biaya belanja

  • Pilih menu sederhana namun bergizi

  • Manfaatkan bahan yang bisa digunakan untuk beberapa menu

  • Batasi membeli makanan siap saji

Dengan perencanaan menu, pengeluaran untuk konsumsi bisa ditekan secara signifikan.

4. Batasi Kebiasaan Membeli Takjil di Luar

Membeli takjil setiap hari mungkin terasa menyenangkan, tetapi jika dihitung, totalnya bisa cukup besar.

Contoh perhitungan: Jika rata-rata pengeluaran takjil Rp25.000 per hari, maka dalam 30 hari:
Rp25.000 x 30 = Rp750.000

Agar lebih hemat:

  • Tetapkan batas frekuensi membeli takjil, misalnya 2-3 kali seminggu

  • Sesekali buat sendiri di rumah

  • Gunakan bahan sederhana seperti buah, kolak, atau puding

Selain lebih hemat, membuat takjil sendiri juga lebih sehat.

Ramadan sering diwarnai berbagai promo dan diskon. Namun, diskon tidak selalu berarti hemat jika barang yang dibeli tidak diperlukan.

Agar tetap bijak:

  • Belanja sesuai daftar kebutuhan

  • Bandingkan harga sebelum membeli

  • Hindari belanja impulsif karena promo

  • Gunakan metode pembayaran yang tidak menimbulkan utang konsumtif

Ingat, tujuan utama promo adalah mendorong konsumsi. Jadi, tetaplah berpegang pada rencana anggaran.

6. Siapkan Dana Zakat dan Sedekah Sejak Awal

Ramadan adalah waktu terbaik untuk berbagi. Oleh karena itu, alokasikan dana zakat dan sedekah sejak awal bulan agar tidak mengganggu kebutuhan lainnya.

Beberapa jenis pengeluaran yang perlu disiapkan:

  • Zakat fitrah

  • Zakat maal (jika ada)

  • Sedekah harian atau mingguan

  • Donasi kegiatan sosial

Dengan perencanaan yang baik, kewajiban ibadah dapat terpenuhi tanpa membebani kondisi keuangan.

7. Atur Penggunaan THR dengan Bijak

Bagi karyawan, Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali dianggap sebagai "uang tambahan" untuk belanja. Padahal, tanpa pengelolaan yang tepat, THR bisa habis dalam waktu singkat.

Strategi pengelolaan THR:

  • 40% untuk kebutuhan Lebaran (pakaian, makanan, mudik)

  • 30% untuk tabungan atau dana darurat

  • 20% untuk membayar utang (jika ada)

  • 10% untuk sedekah atau berbagi

Dengan pembagian seperti ini, THR tidak hanya habis untuk konsumsi, tetapi juga memperkuat kondisi keuangan jangka panjang.

8. Hindari Utang Konsumtif

Godaan terbesar menjelang Lebaran adalah membeli barang dengan sistem cicilan atau paylater. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa menjadi beban setelah Ramadan.

Sebaiknya:

  • Hindari membeli barang di luar kemampuan finansial

  • Gunakan uang tunai atau dana yang sudah disiapkan

  • Tunda pembelian jika belum benar-benar diperlukan

Prinsipnya, jangan sampai kebahagiaan Lebaran harus dibayar dengan utang di bulan berikutnya.

9. Persiapkan Biaya Mudik dari Jauh Hari

Bagi yang berencana mudik, biaya transportasi biasanya meningkat menjelang Lebaran. Oleh karena itu, persiapkan dana mudik sejak awal Ramadan atau bahkan sebelumnya.

Tips hemat mudik:

  • Pesan tiket lebih awal

  • Tentukan anggaran perjalanan

  • Batasi belanja oleh-oleh berlebihan

  • Prioritaskan kebutuhan utama selama perjalanan

Perencanaan yang matang dapat membantu menghindari pengeluaran mendadak.

10. Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala

Selama Ramadan, lakukan pengecekan pengeluaran setiap minggu. Bandingkan antara anggaran dan realisasi. Jika pengeluaran mulai melebihi batas:

  • Kurangi pembelian takjil di luar

  • Tunda belanja non-prioritas

  • Sesuaikan kembali rencana belanja mingguan

Evaluasi rutin membantu Anda tetap berada dalam jalur yang sudah direncanakan.

11. Kelola Anggaran untuk Acara Buka Bersama

Salah satu tradisi yang sering dilakukan selama Ramadan adalah acara buka bersama (bukber), baik dengan keluarga, teman, rekan kerja, maupun komunitas. Meskipun menyenangkan dan mempererat hubungan sosial, kegiatan ini juga bisa menjadi sumber pengeluaran yang cukup besar jika tidak direncanakan dengan baik.

Dalam satu bulan, seseorang bisa menghadiri beberapa acara bukber di tempat berbeda. Jika rata-rata biaya sekali buka bersama di restoran mencapai Rp75.000-Rp150.000, maka total pengeluaran bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Agar tetap hemat, lakukan beberapa langkah berikut:

1. Tetapkan batas anggaran bukber: Tentukan berapa kali Anda akan menghadiri acara buka bersama dan berapa dana maksimal yang bisa dialokasikan.

2. Pilih tempat yang sesuai kemampuan: Tidak semua bukber harus dilakukan di restoran mahal. Alternatif yang lebih hemat antara lain:

  • Buka bersama di rumah

  • Potluck (setiap orang membawa makanan)

  • Memilih tempat makan dengan harga terjangkau

3. Selektif dalam menerima undangan: Tidak semua undangan harus dihadiri. Prioritaskan acara yang benar-benar penting atau memiliki nilai kebersamaan yang tinggi.

4. Hindari pengeluaran tambahan yang tidak perlu: Batasi kebiasaan menambah menu di luar paket atau membeli makanan berlebihan saat acara berlangsung.

Dengan pengelolaan yang tepat, Anda tetap bisa menikmati momen kebersamaan tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan.

(dag/dag)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |