250 Tahun Amerika Serikat: Masih Superpower, tapi Tak Sehebat Dulu

5 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

02 July 2026 20:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) tengah memasuki momen bersejarah. Pada 4 Juli 2026 mendatang, Negeri Paman Sam akan genap berusia 250 tahun sejak mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1776.

Selama hampir dua setengah abad, AS tumbuh dari negara baru di benua Amerika menjadi kekuatan terbesar dunia. Ekonominya menjadi yang terbesar, militernya menyebar ke berbagai kawasan, teknologinya mengubah kehidupan modern, dan dolarnya menjadi tulang punggung sistem keuangan global.

Namun menjelang usia 250 tahun itu, muncul satu pertanyaan besar. Apakah AS masih sedominan dulu?

Mengutip The Economist, sejumlah data menunjukkan bahwa AS memang masih sangat perkasa. Secara ekonomi, militer, dan teknologi, negara ini lebih kaya, lebih kuat, dan lebih maju dibandingkan masa-masa sebelumnya. Namun secara relatif, posisinya tidak lagi sejauh dulu dibandingkan negara-negara lain.

Perdebatan soal kekuatan AS memang kerap dibalut dengan bahasa yang berlebihan. Pada pidato pelantikan pertamanya pada 2017, Donald Trump menggambarkan kondisi AS dengan nada sangat suram. Sementara pada pidato pelantikan keduanya pada 2025, Trump menyatakan AS akan kembali merebut posisinya sebagai negara terbesar, terkuat, dan paling dihormati di dunia.

Menariknya, masyarakat AS sendiri juga mulai pesimis melihat posisi negaranya di panggung global. Enam dari sepuluh warga AS kini memperkirakan bahwa pada 2050, negara mereka akan menjadi kurang penting di dunia dibandingkan hari ini.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah AS sedang melemah. Pertanyaan yang lebih penting adalah seperti apa sebenarnya bentuk kekuatan AS hari ini.

The Economist mencoba menjawab pertanyaan itu dengan pendekatan berbasis data. Hasilnya, AS masih sangat kuat. Namun dominasi AS dalam banyak ukuran tidak lagi sekuat masa lalu.

Akar Kekuatan Amerika

Perjalanan AS menjadi kekuatan dunia paling mudah dilihat dari kenaikan ekonominya.

Pada 1820, AS masih merupakan negara kecil dengan penduduk sekitar 10 juta orang. Jumlah itu mencakup pemukim Eropa, budak, dan penduduk asli Amerika.

Luas wilayah AS saat itu juga belum sebesar sekarang. Wilayahnya masih kurang dari separuh luas AS hari ini. Dari sisi ekonomi, ukuran ekonominya hanya sekitar sepersepuluh dari Kerajaan Inggris.

Pada masa yang sama, China di bawah Dinasti Qing masih menjadi raksasa ekonomi dunia. China saat itu menguasai sekitar seperempat output ekonomi global.

Kekuatan Inggris kemudian melesat karena perang, kolonisasi, dan revolusi industri. Sekitar 1840, saat Perang Candu pertama antara Inggris dan China sedang berlangsung, Kerajaan Inggris menyalip China sebagai ekonomi terbesar dunia.

Namun AS juga mulai mengejar dengan cepat. Salah satu faktor pentingnya adalah produksi kapas. Penemuan mesin pemisah biji kapas pada 1793, ditambah penggunaan tenaga kerja budak secara brutal, membuat AS menjadi produsen besar kapas dunia pada 1850-an.

Pada saat yang sama, AS terus memperluas wilayahnya ke arah barat. Ekspansi ini sering dilakukan dengan cara yang penuh kekerasan. Namun dari sisi ekonomi, perluasan wilayah itu memberi AS akses ke sumber daya alam yang sangat besar.

Hutan yang luas menyediakan kayu untuk pembangunan lebih cepat. Pelabuhan-pelabuhan strategis dan Sungai di Mississippi menjadi jalur penting untuk perdagangan dan ekspor.

Tambang batu bara di Pennsylvania, Appalachia, dan Midwest menggerakkan kereta api serta pabrik. Sementara kandungan bijih besi di kawasan Great Lakes menjadi bahan baku utama industri baja.

Perang saudara sempat merusak banyak bagian dari AS, tetapi tidak sampai meruntuhkan negaranya. Perang itu berakhir pada 1865 dan sekaligus mengakhiri perbudakan.

Setelah itu, industrialisasi AS berjalan sangat cepat. Pada 1891, AS resmi menyalip Inggris dalam konsumsi energi.

Pada 1899, setelah Perang Spanyol-Amerika dan Perjanjian Paris yang membuat AS menguasai Puerto Rico, Guam, dan Filipina, AS diperkirakan memiliki lahan subur lebih luas dibandingkan hampir semua negara. Saat itu AS hanya kalah dari Kekaisaran Rusia.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1903, AS sudah menjadi ekonomi terbesar di dunia.

Dominasi AS makin kuat ketika Eropa terkuras oleh perang. Pada 1945, ketika banyak negara besar hancur akibat Perang Dunia II, posisi ekonomi AS mencapai puncaknya.

Berbeda dengan banyak kekuatan besar lain, wilayah AS hampir tidak tersentuh oleh perang. Saat itu, AS hanya memiliki sekitar 6% dari  total populasi dunia. Namun negara ini menguasai sekitar sepertiga output ekonomi global.

Setelah perang, ekonomi AS terus melesat. Kekuatan industri, konsumsi masyarakat yang besar, dan investasi negara menjadi pendorong utama. Pemerintah AS juga berinvestasi pada laboratorium nasional, jalan raya, dan infrastruktur penting lainnya.

AS juga diuntungkan oleh komoditas minyak. Setelah ditemukan di Pennsylvania pada pertengahan abad ke-19, minyak mulai mengalir deras dari sumur-sumur Texas pada abad ke-20.

Faktor lain turut mempercepat laju ekonomi AS. Di antaranya imigrasi, kepastian hukum, modal yang besar, dan semangat wirausaha.

Dari 1945 hingga 1999, ekonomi AS tumbuh lebih besar secara nominal dibandingkan negara mana pun. Para peneliti AS juga menciptakan berbagai fondasi kehidupan modern. Di antaranya transistor, chip komputer, komputer pribadi, hingga internet.

AS Masih Nomor Satu, tapi China Makin Dekat

Hari ini, ukuran ekonomi AS memang sudah lebih kecil dari China jika dihitung berdasarkan daya beli lokal atau yang disebut dengan purchasing power parity. Namun jika memakai nilai tukar 2025, AS masih menjadi ekonomi terbesar dunia.

Produk domestik bruto (PDB) AS mencapai US$32,4 triliun. Angka itu masih 55% lebih besar dibandingkan China yang berada di posisi kedua.

AS juga masih memimpin pengembangan kecerdasan buatan generatif atau generative artificial intelligence. Selain itu, AS kini menjadi produsen minyak mentah dan gas alam terbesar dunia.

GDP Per PersonGDP Per Person Foto: GDP Per Person

Dari sisi demografi, AS juga punya keunggulan dibandingkan banyak negara besar lain. Tidak seperti China, Rusia, serta banyak negara di Asia Timur dan Eropa, populasi AS masih mengalami pertumbuhan.

Dolar AS juga tetap sangat dominan. Mata uang ini masih memiliki porsi terbesar dalam transasksi perdagangan global dan mencapai sekitar separuh pembayaran internasional.

Kekuatan pengusaha di AS juga masih sulit ditandingi. Dalam 40 tahun terakhir, AS melahirkan lima dari sepuluh perusahaan paling bernilai di dunia. Empat di antaranya didirikan setidaknya sebagian oleh imigran.

Dengan posisi yang sangat sentral dalam ekonomi dunia, AS menggunakan kekuatannya untuk dua hal besar. Pertama, membantu negara-negara miskin. Kedua, menekan musuh-musuhnya.

Menurut perhitungan OECD, sejak 1960 AS telah memberikan bantuan pembangunan resmi sekitar US$2 triliun dalam nilai dolar 2026.

Dominasi dolar juga membuat AS mampu menggunakan sanksi ekonomi untuk mengisolasi individu, perusahaan, hingga negara tertentu.

Militer AS Masih Sulit Ditandingi

Gambaran yang mirip terlihat dari sisi militer. Secara relatif, kekuatan militer AS berada di titik paling tinggi pada 1945. Salah satu alasannya, AS saat itu menjadi satu-satunya negara yang memiliki senjata nuklir.

Dalam beberapa dekade setelahnya, peran AS menjadi semakin rumit. AS ikut membangun tatanan dunia pascaperang, lalu menempatkan diri sebagai penjaganya.

Dalam banyak wilayah, tentara Inggris dan AS seperti bergantian mengisi pos-pos strategis. Ketika Inggris mundur, AS masuk.

Pada 1965, AS memiliki lebih dari 600.000 tentara yang ditempatkan di luar negeri. Mereka tersebar di 108 negara.

Sejak saat itu, AS terus mengeluarkan belanja militer jauh lebih besar dibandingkan negara lain. Pada masa Perang Dingin, ancaman Pakta Warsawa menjadi salah satu alasan. Posisi AS di NATO juga menjadi faktor penting.

Global Military SpendingGlobal Military Spending Foto: Global Military Spending

Dalam aliansi besar, negara dengan kekuatan terbesar biasanya akan mengeluarkan biaya lebih besar. Sebab, negara itu juga punya kepentingan paling besar untuk dipertahankan.

Bahkan, perbandingan belanja militer saja bisa jadi belum sepenuhnya menggambarkan kerasnya kekuatan AS.

Tidak ada negara lain yang memiliki teknologi militer semaju AS. AS juga punya pengalaman besar dalam mengerahkan kekuatan militernya dalam skala luas.

Belanja besar selama puluhan tahun menghasilkan perlengkapan militer yang tahan lama. Kapal induk, misalnya, bisa beroperasi hingga sekitar setengah abad.

AS memiliki 11 kapal induk. China baru memiliki tiga, dan belum ada yang pernah digunakan dalam pertempuran.

Kuat, tapi Tidak Sedominan Dulu

Lalu, mengapa banyak orang bicara soal kemunduran AS?

Kuncinya ada pada perbedaan antara kekuatan dan dominasi. AS memang lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Namun dalam beberapa ukuran ekonomi, AS tidak lagi sedominan masa lalu.

Salah satu contohnya adalah dolar. Porsi dolar AS dalam cadangan devisa global telah menurun selama beberapa dekade dan berada di level 57% pada tahun lalu.

Hal penting lainnya, tatanan dunia yang dipimpin AS justru membantu banyak negara lain ikut naik kelas. Dari satu sisi, ini bisa dilihat sebagai keberhasilan. Namun dari sudut pandang lain, ini bisa dianggap sebagai penyebab dominasi AS berkurang.

Sejak 1945, ekonomi dunia telah tumbuh 19 kali lipat. Rata-rata pendapatan masyarakat dunia naik sekitar lima kali lipat.

Kebangkitan China, terutama setelah bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO pada 2001, menjadi salah satu hal yang paling membuat Trump geram.

Sekitar satu dekade lalu, China menjadi ekonomi terbesar dunia jika dihitung berdasarkan daya beli lokal.

Dalam dua ukuran yang sering menjadi perhatian Trump, yakni output manufaktur dan ekspor barang, AS sebenarnya tetap tumbuh secara absolut. Namun secara porsi global, AS tertinggal.

Pada 1945, AS memproduksi sekitar separuh barang manufaktur dunia. Pada 2024, porsinya turun menjadi sekitar 15%.

Sementara itu, porsi China dalam manufaktur dunia sudah lebih dari dua kali lipat AS.

Padahal, AS mengekspor jasa dua kali lebih banyak dibandingkan China. Namun Trump lebih sering menyoroti rendahnya ekspor barang AS secara relatif.

Di sisi lain, ada juga pandangan bahwa tatanan dunia pascaperang tidak memberi hasil sepadan bagi warga biasa AS.

Dalam perang Irak, Afghanistan, dan yang lebih baru Iran, terlihat bahwa kemampuan militer besar tidak selalu menjamin keberhasilan.

Sebanyak apa pun kapal induk AS, kekuatan itu tidak otomatis bisa mencegah Iran mengganggu jalur minyak di Selat Hormuz. Kekuatan militer juga tidak bisa langsung menghentikan China membatasi akses terhadap logam tanah jarang.

Survei pada 2024 menunjukkan hampir enam dari sepuluh warga AS menilai negara mereka lebih banyak rugi dibandingkan untung dari perdagangan dengan negara lain.

Trump pernah menyatakan bahwa kekayaan kelas menengah AS telah diambil dari rumah-rumah mereka dan disebarkan ke seluruh dunia. Pandangan ini terkait dengan apa yang sering disebut sebagai China shock.

Riset David Autor, David Dorn, dan Gordon Hanson menunjukkan China shock berdampak pada hilangnya hingga 2,4 juta pekerjaan pada 1999 hingga 2011.

Namun, meski menyakitkan bagi pekerja yang terdampak, kehilangan pekerjaan itu tidak mengguncang pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan.

Pada akhir 2011, pasar tenaga kerja AS masih mengalami perputaran rutin sekitar 4 juta pekerjaan setiap bulan.

Secara umum, tatanan dunia pascaperang tetap mendorong kemakmuran AS. Sejak 1960, pendapatan riil di AS naik lebih besar secara absolut dibandingkan negara besar atau kawasan mana pun.

Kenaikan pendapatan riil AS lebih dari lima kali lipat kenaikan pendapatan di India dan dua kali lipat kenaikan pendapatan di China.

Di antara negara dengan penduduk lebih dari 20 juta orang, AS masih menjadi yang paling kaya. Pendapatannya hampir 20% lebih tinggi dibandingkan Australia di posisi kedua.

Pendapatan median keluarga di AS juga telah naik lebih dari dua kali lipat secara riil sejak 1960.

Namun, ketimpangan di AS memang nyata dan berada di atas rata-rata negara kaya. Hal ini banyak terkait dengan meningkatnya imbal hasil kekayaan dan struktur pajak AS.

Trump Ingin Bangun Kekuatan Baru

Trump dan para pendukungnya kini ingin memperbarui kekuatan AS. Atau setidaknya, membentuk versi baru dari kekuatan tersebut.

Trump memiliki ketertarikan khas abad ke-19 terhadap wilayah baru dan sumber daya alam yang menyertainya.

Pada tahun lalu, belanja militer sekutu-sekutu AS, jika disesuaikan dengan harga lokal, telah melampaui belanja militer AS.

Gedung Putih mengusulkan anggaran pertahanan US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027. Angka itu naik 44% dari 2026.

Bahkan setelah disesuaikan dengan faktor seperti upah tentara yang lebih tinggi agar bisa dibandingkan antarnegara, belanja militer AS masih sekitar dua kali lipat lebih besar dibandingkan negara lain mana pun.

Namun Trump secara terbuka menegaskan bahwa kekuatan AS tidak otomatis berarti perlindungan bagi sekutu.

KTT NATO pada 7-8 Juli akan berfokus pada kebutuhan Eropa untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menjaga pertahanannya sendiri.

Kecerdasan buatan atau AI juga bisa menjadi alat pengaruh baru bagi AS.

Namun di sisi lain, Trump terlihat membiarkan sebagian kekuatan AS di bidang lain melemah.

USAID, lembaga utama bantuan pembangunan AS, dipangkas besar-besaran. Elon Musk, yang kini berstatus triliuner, menggambarkan lembaga itu seperti dimasukkan ke mesin penghancur kayu.

Transfer tahunan dipangkas menjadi US$29 miliar, sekitar separuh dari level sebelumnya.

R&DR&D Foto: R&D

Dengan jumlah itu, bantuan AS kini kurang lebih setara dengan Jerman, padahal ukuran ekonomi Jerman hanya sekitar seperlima ekonomi AS.

Trump juga tampak tidak terlalu khawatir terhadap risiko melemahnya posisi AS dalam riset dan inovasi.

AS masih memiliki universitas top dunia lebih banyak dibandingkan negara lain, yakni 35 dari 100 universitas terbaik. Namun jumlah itu terus menurun.

Menurut angka OECD, belanja riset dan pengembangan China telah melampaui AS pada 2024.

Lebih dari sepertiga artikel jurnal ilmiah papan atas kini ditulis oleh peneliti China. Pada 2025, peneliti China menerbitkan jumlah makalah sebanyak gabungan peneliti AS, Inggris, Jerman, dan Jepang.

Di level tertinggi sains, yakni Hadiah Nobel, AS masih dominan. Namun indikator ini kemungkinan tertinggal dari kondisi terbaru.

Dalam satu dekade terakhir, median usia penerima Nobel adalah 72 tahun.

Nature memperkirakan lebih dari 7.800 hibah riset dibekukan atau dihentikan pada tahun pertama masa jabatan kedua Trump. Sekitar 25.000 ilmuwan dan staf juga meninggalkan lembaga sains federal.

Trump juga terlihat rela menyerahkan inovasi teknologi hijau kepada para pesaing AS.

Perubahan paling mencolok terjadi pada isu imigrasi. Sepanjang sejarah 250 tahun AS, imigran menjadi salah satu kekuatan utama negara ini. Namun kini muncul pandangan yang makin kuat bahwa imigrasi justru merugikan AS.

AS diperkirakan bisa mengalami migrasi bersih mendekati nol pada 2025 dan 2026.

Survei Gallup menunjukkan AS memang masih menjadi tujuan utama migran secara umum. Namun hanya 15% orang dewasa yang ingin pindah permanen ke negara lain kini menyebut AS sebagai pilihan utama.

Angka itu turun dari 24% pada 2007-2009.

Dalam survei Nira Data terhadap 46.667 orang di 85 negara, responden menempatkan AS sebagai negara kelima yang paling tidak disukai di dunia. Posisinya bahkan lebih buruk dibandingkan Rusia atau China.

Perubahan sentimen ini bisa saja sementara, terutama karena dipengaruhi presiden yang tidak populer dan kebijakannya. Salah satu kekuatan terbesar AS adalah dinamismenya, yakni kemampuan untuk berubah arah ketika diperlukan.

Untuk saat ini, dunia melihat AS dengan hati-hati. Negara itu masih sangat kuat. Namun posisinya sedang bergerak, dan dominasinya tidak lagi sekuat dulu.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |