Amalia Zahira, CNBC Indonesia
09 April 2026 17:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Kekuatan udara masih menjadi salah satu indikator paling nyata dalam mengukur jangkauan militer suatu negara, sekaligus mencerminkan kemampuan proyeksi kekuatan secara global.
Laporan terbaru menunjukkan adanya kesenjangan yang sangat lebar antara Amerika Serikat dan negara lain dalam hal armada pesawat militer pada 2026.
Berdasarkan data GlobalFirepower, Amerika Serikat memimpin dengan total 13.032 pesawat militer. Jumlah ini bahkan melampaui gabungan tiga negara di bawahnya. Di posisi kedua, Rusia memiliki 4.237 pesawat, disusul China dan India dengan masing-masing 3.529 dan 2.183 pesawat.
Foto: Tensi antara Amerika Serikat dengan Venezuela memanas pekan ini. Washington bahkan mengerahkan lima jet tempur siluman tercanggih F-35 ke Puerto Rico pada Sabtu (13/9/2025), sekutu AS yang merupakan tetangga Venezuela. (AFP/MIGUEL J. RODRIGUEZ CARRILLO)
Tensi antara Amerika Serikat dengan Venezuela memanas pekan ini.Washington bahkan mengerahkan lima jet tempur siluman tercanggih F-35 ke Puerto Rico pada Sabtu (13/9/2025), sekutu AS yang merupakan tetangga Venezuela. (AFP/MIGUEL J. RODRIGUEZ CARRILLO)
Dominasi ini sejalan dengan strategi lama Amerika Serikat yang menempatkan superioritas udara sebagai prioritas utama.
Bahkan, hanya dari kategori pesawat tempur dan interseptor saja, AS memiliki 1.791 unit. Angka ini jauh lebih banyak dibanding total armada militer sebagian besar negara.
Bukan Hanya Jet Tempur
Meski jet tempur sering menjadi sorotan, sebagian besar armada angkatan udara sebenarnya terdiri dari pesawat pendukung, seperti:
-
Pesawat angkut untuk mobilisasi pasukan dan logistik,
-
Helikopter untuk operasi taktis,
-
Pesawat latih untuk pengembangan pilot,
-
Pesawat khusus untuk pengisian bahan bakar di udara,
-
Pesawat khusus pengawasan,
-
Pesawat khusus perang elektronik.
Keberadaan armada pendukung ini menjadi faktor krusial dalam menentukan seberapa jauh, cepat, dan efektif suatu negara dapat memproyeksikan kekuatan militernya.
Peta kekuatan udara global juga menunjukkan pergeseran ke Asia dan Timur Tengah. Sejumlah negara seperti China, India, Korea Selatan, Jepang, Pakistan, dan Turki masuk dalam jajaran delapan besar dunia. Sementara itu, Mesir dan Arab Saudi juga berhasil menembus 11 besar.
Hal ini mencerminkan meningkatnya investasi pertahanan di kawasan-kawasan tersebut, seiring dengan dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
Sementara itu, negara seperti Prancis, Taiwan, dan Arab Saudi menunjukkan bahwa ukuran armada bukan satu-satunya penentu kekuatan. Dengan proporsi pesawat tempur yang tinggi, negara-negara ini tetap mampu menjaga kapabilitas tempur yang signifikan.
(mae/mae)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)

