Jakarta, CNBC Indonesia - Investor global memasuki pekan perdagangan dengan ketidakpastian tinggi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Pasar kini dihadapkan pada dua kemungkinan ekstrem, yakni tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat atau eskalasi konflik yang lebih luas.
Trump memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi besar jika tidak membuka jalur pelayaran vital tersebut sesuai tenggat waktu, meski di saat yang sama ia juga menyebut peluang kesepakatan masih terbuka. Sinyal yang saling bertentangan ini membuat pelaku pasar kesulitan menentukan arah, sehingga volatilitas meningkat di berbagai aset.
Di sisi lain, Iran menolak tekanan tersebut dan tetap menahan pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan memperdalam ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
"Pasar berada dalam ketegangan, karena waktu semakin habis dan hasilnya bersifat biner, gencatan senjata atau eskalasi," ujar Kepala Riset Makro Global Nomura, Rob Subbaraman, seperti dikutip CNBC International, Senin (6/4/2026).
Ia menilai investor kini cenderung menyesuaikan posisi untuk mengantisipasi risiko terburuk.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu dampak langsung dari konflik ini. Harga minyak global melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya ancaman terhadap pasokan, bahkan sempat mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2020. Kenaikan ini memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.
Analis menilai, bahkan jika tercapai kesepakatan, dampak terhadap rantai pasok dan kepercayaan pasar tidak akan langsung pulih.
"Pasar kemungkinan akan tetap sensitif terhadap berita utama, dengan pergerakan tajam seiring perubahan narasi," kata Mohit Mirpuri dari SGMC Capital.
Tekanan juga terlihat di pasar keuangan lain, khususnya obligasi pemerintah AS. Kenaikan imbal hasil mencerminkan ekspektasi inflasi yang meningkat serta berkurangnya peluang pelonggaran kebijakan oleh bank sentral AS, Federal Reserve.
"Salah satu risiko terbesar yang diremehkan adalah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah. Jika ekspektasi inflasi terus naik, kondisi keuangan bisa semakin ketat di tengah pasar yang sudah rapuh," ujar Mirpuri.
Situasi ini juga memunculkan risiko stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, jika konflik berlarut-larut dan pasokan energi tetap terganggu.
Di tengah ketidakpastian, pasar kini bergerak sangat dipengaruhi sentimen berita. Setiap perkembangan dari Washington maupun Teheran berpotensi memicu pergerakan tajam dalam waktu singkat.
"Kita berada di pasar yang digerakkan oleh peristiwa, di mana risiko berita utama mendominasi pergerakan harian," ujar Hiroki Shimazu dari MCP Asset Management. Ia memperkirakan konflik akan cenderung memasuki fase kebuntuan panjang ketimbang resolusi cepat.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, investor cenderung mengambil sikap wait and see sambil mencermati arah kebijakan dan perkembangan diplomatik.
"Ketidakpastian jangka pendek sangat tinggi, dan bagi sebagian besar investor, yang bisa dilakukan saat ini adalah menunggu dan mengamati," kata Chetan Seth dari Nomura.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)


