Anggaran Subsidi Energi 2027 Naik, Prabowo Siapkan Rp28,7 T Buat BBM

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mempersiapkan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu dalam RAPBN 2027 lebih tinggi dibanding perkiraan realisasi APBN 2026.

Di dalam dokumen Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2027, nilai anggaran subsidi BBM jenis tertentu, seperti Pertalite hingga Solar sebesar Rp28,7 triliun, naik sekitar 8,71% dibanding outlook 2026 Rp26,4 triliun.

"Selain itu, untuk meningkatkan efisiensi belanja subsidi, penyaluran BBM bersubsidi dilakukan dengan registrasi konsumen penggunanya," sebagaimana dikutip dari dokumen Nota Keuangan beserta RAPBN 2027, Minggu (15/8/2026).

Naiknya anggaran subsidi BBM ini beriringan dengan kenaikan subsidi energi secara total. Di dalamnya termasuk anggaran subsidi untuk LPG tabung 3 kilogram serta subsidi listrik.

Rancangan anggaran subsidi energi untuk 2027 sendiri mencapai Rp272,94 triliun atau meningkat sebesar 20,1% apabila dibandingkan dengan outlook 2026 sebesar Rp227,25 triliun.

Adapun anggaran subsidi LPG 3 kg juga ikut naik menjadi Rp114,1 triliun dari outlook 2026 yang senilai Rp90,4 triliun, dan untuk subsidi listrik naik menjadi Rp130,1 triliun, dari perkiraan realisasi 2026 Rp110,4 triliun.

Perhitungan anggaran Subsidi Jenis BBM Tertentu dan LPG Tabung 3 kg pada RAPBN tahun anggaran 2027 menggunakan asumsi dan parameter, antara lain:

(1) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan ICP;
(2) subsidi tetap minyak solar sebesar Rp1.000/liter;
(3) volume Jenis BBM Tertentu minyak solar sebesar 19.558,5 ribu kiloliter dan minyak tanah sebesar 539,0 ribu kiloliter; dan
(4) volume LPG tabung 3 kg sebesar 8.945,0 juta kg.

Sementara itu, peningkatan alokasi subsidi listrik terutama dipengaruhi oleh peningkatan biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik serta peningkatan volume listrik bersubsidi. Kenaikan BPP tersebut disebabkan antara lain oleh:

(1) perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS;
(2) perubahan harga minyak mentah (ICP) akibat konflik geopolitik global; dan
(3) peningkatan produksi pada pembangkit gas.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |