Jakarta, CNBC Indonesia - Intelijen Amerika Serikat (AS) memperingatkan kemungkinan serangan balasan baru dari Iran dan jaringan proksinya. Peringatan itu muncul menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi militer bersama AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Penilaian ancaman yang dirilis Reuters dan disusun oleh Kantor Intelijen dan Analisis di Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menunjukkan bahwa, meski serangan fisik besar-besaran tetap tak mungkin, ancaman balasan masih nyata di berbagai bentuk, termasuk siber.
Dalam laporan itu dijelaskan bahwa Iran dan kelompoknya "mungkin" menjadi ancaman serangan berskala kecil hingga menengah, terutama melalui aksi terarah di dalam wilayah AS. Risiko serangan siber, seperti perusakan situs web dan serangan penolakan layanan terdistribusi (DDoS), bahkan dinilai lebih mungkin terjadi dalam waktu dekat.
"Kendati serangan fisik berskala besar tidak mungkin terjadi, Iran dan proksinya kemungkinan besar menimbulkan ancaman serangan terarah yang terus-menerus di tanah air dan hampir pasti akan meningkatkan tindakan pembalasan, atau seruan untuk bertindak, jika laporan kematian Ayatollah dikonfirmasi," bunyi laporan DHS itu, dikutip Rabu (4/3/2026).
Laporan DHS itu juga menilai Iran kemungkinan akan memperluas serangan terhadap target AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah, sekaligus menunjuk pejabat AS senior sebagai biang keladi gelombang protes akibat seruan perubahan rezim dari Presiden AS Donald Trump.
Menanggapi hal ini, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan pemerintah terus waspada.
"Saya berkoordinasi secara langsung dengan mitra intelijen dan penegak hukum federal kami saat kami terus memantau dan menggagalkan setiap potensi ancaman terhadap tanah air," katanya dalam pernyataan resmi.
Kematian Khamenei yang diumumkan pada akhir pekan lalu menjadi titik eskalasi konflik yang sudah memanas. Pasukan Iran disebut-sebut telah melancarkan serangan terhadap pangkalan AS di sejumlah negara Teluk sebagai respons, sementara Israel memperluas serangan ke Lebanon terkait aktivitas Hizbullah.
(tfa/tfa)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351436/original/075591100_1758049411-noqcog0f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403623/original/076212200_1762332363-PSS.jpg)





