Asia Masuk Fase Soft Market, Kompetisi Asuransi di RI Bakal Sengit

2 hours ago 1

Achmad Aris,  CNBC Indonesia

13 February 2026 12:30

Key Takeaway

  • Tarif asuransi di Indonesia lanjutkan penurunan pada kuartal IV/2025
  • Tarif asuransi siber mengalami penurunan paling dalam di Indonesia
  • Tren penurunan tarif asuransi secara global menandai peralihan fase hard market menuju soft market

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar asuransi komersial di Asia kembali mencatatkan penurunan tarif pada kuartal IV/2025. Laporan terbaru Marsh dalam Asia Insurance Market Rates: 2025 Fourth Quarter menunjukkan tarif asuransi komersial global turun 4% secara tahunan, menjadi penurunan kuartalan keenam berturut-turut.

Khusus Asia, tarif komposit asuransi turun 5% pada kuartal IV/2025, sama seperti kuartal sebelumnya. Khusus Indonesia, tarif komposit asuransi turun sebesar 5% pada kuartal IV/2025 atau lebih besar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya -3%.

Bagi Indonesia, tren ini mengonfirmasi satu fase penting yaitu pasar telah masuk ke periode soft market, di mana kapasitas melimpah dan kompetisi antarperusahaan asuransi bakal semakin ketat.

Di lini properti, tarif Asia turun 5% didorong kapasitas yang berlimpah dan kompetisi agresif antarpenanggung. Penurunan tarif terbesar dialami oleh Korea sebesar 18%, sedangkan di Indonesia turun sebesar 5%. Di sisi lain, Vietnam mencatatkan diri sebagai satu-satunya negara yang mengalami kenaikan tarif sebesar 18%.

Sepanjang 2025, grafik beberapa negara dalam laporan menunjukkan kecenderungan penurunan tarif yang konsisten, kecuali Jepang dengan kenaikan tarif dan Filipina dan Vietnam dengan tren fluktuatif.

Beberapa keuntungan yang dinikmati tertanggung dengan adanya tren penurunan tarif properti ini antara lain: perbaikan sublimit, deductible lebih fleksibel, pelonggaran klausul restriktif, dan skema long-term agreement dengan diskon multi-tahun.

Namun, underwriter tetap selektif terhadap perusahaan dengan histori klaim memburuk. Bagi sektor manufaktur, energi, hingga infrastruktur di Indonesia, kondisi ini membuka ruang negosiasi premi yang lebih kompetitif saat perpanjangan polis.

Untuk lini casualty, tarif premi di Asia turun tipis 1%. Di Indonesia, tren relatif stabil dengan stagnasi 0% dari kuartal sebelumnya yang sempat turun 2%. Kapasitas dari insurer regional dan global masih cukup kuat, membuat pembeli polis memiliki daya tawar lebih baik. Kenaikan signifikan justru terjadi di Jepang.

Penurunan Terdalam

Sementara itu, penurunan terdalam terjadi di lini financial & professional lines, yang turun 10% di Asia. Di Indonesia sendiri penurunannya sebesar 6%. Tarif Directors & Officers (D&O) liability melemah akibat kompetisi tinggi, kapasitas global kembali agresif, dan pergeseran IPO China ke Hong Kong yang menekan peluang premi.

Bagi Indonesia, emiten atau perusahaan publik domestik berpotensi mendapatkan premi D&O lebih rendah, sekaligus kesempatan meningkatkan limit pertanggungan. Namun di sisi lain, tekanan tarif bisa berdampak pada margin underwriting perusahaan asuransi nasional.

Menariknya, tarif cyber di Asia turun 10%, lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang turun 5%. Penurunan tarif ini terjadi di tengah intensitas insiden siber yang terus meningkat dan regulasi yang makin ketat.

Perusahaan asuransi terlihat terus memperluas cakupan meliputi kerusakan properti akibat serangan siber, social engineering fraud, serangan rantai pasok, dan risiko generative AI.

Indonesia berada dalam arus yang sama dengan penurunan tarif lebih dalam sebesar 13% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya turun 3%. Meski premi turun, proses underwriting semakin ketat, khususnya untuk risiko rantai pasok dan eksposur pihak ketiga.

Kondisi premi di kuartal IV/2025 ini menegaskan bahwa Indonesia berada dalam periode kompetisi tinggi dan tekanan tarif di hampir seluruh lini asuransi komersial. Meski kapasitas kuat dan fleksibilitas polis meningkat, tetapi industri harus menjaga disiplin underwriting agar tidak terjebak dalam perang harga.

Tren Global

Penurunan tarif asuransi global selama enam kuartal berturut-turut menunjukkan perubahan pasar asuransi dari fase hard market yang sudah berlangsung selama 7 tahun, menuju soft market. Di kondisi ini, penawaran lebih beragam dan harga lebih kompetitif. Bagi pelaku usaha dan pembeli korporat, tren ini membuka peluang untuk renegosiasi kontrak, memperluas cakupan perlindungan, dan mengoptimalkan struktur risiko.

Penurunan tarif global disebabkan oleh meningkatnya kapasitas industri asuransi, termasuk perluasan kapasitas reasuransi dan masuknya pemain baru. Hal ini mendorong persaingan yang lebih ketat dan memungkinkan penawaran premi yang lebih kompetitif serta cakupan risiko yang lebih luas.

Laporan Marsh menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah utama dunia mengalami penurunan tarif, kecuali Amerika Serikat. Pasar Pasifik terkontraksi paling dalam yaitu -12%, Eropa & Asia turun rata-rata 4%-5%, Kanada turun 3%, sedangkan Inggris, Amerika Latin & Karibia masing-masing turun sekitar 6%-7%.

Penurunan tarif juga terjadi di hampir semua lini bisnis yaitu asuransi properti turun sekitar 9%, lini finansial dan profesional turun 4%, dan asuransi siber turun 7%.

(ach/ach)

Read Entire Article
| | | |