Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
21 April 2026 13:39
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar diimbau untuk meninjau kembali posisi portofolio mereka seiring tingginya risiko kesalahan interpretasi terhadap dinamika konflik yang melibatkan Iran.
Optimisme yang berlebihan di bursa saham global dinilai tidak sejalan dengan realitas geopolitik di lapangan, terutama terkait ketidakpastian operasional Selat Hormuz.
Berbagai lembaga riset investasi memperingatkan bahwa pemisahan antara ekspektasi pasar dan fundamental ekonomi yang terdampak konflik dapat memicu koreksi pasar yang tajam di masa mendatang.
Ilusi Kendali dan Realitas Geopolitik
Penguatan bursa saham global sejak awal April didorong oleh ekspektasi bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara akan berujung pada resolusi damai permanen.
Namun, para analis melihat adanya kelemahan mendasar dalam cara investor memandang arsitektur konflik ini. Matt Gertken, Kepala Ahli Strategi Geopolitik di BCA Research AS, menyoroti bahwa pasar terlalu mengandalkan preseden kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump tahun lalu, di mana pasar mengasumsikan pemerintah AS memiliki kendali penuh untuk menaikkan atau meredakan ketegangan sesuai kebutuhan politik.
Situasi di Timur Tengah saat ini memiliki kompleksitas yang jauh berbeda. Gertken mencatat bahwa Iran, setelah menghadapi eskalasi langsung, memiliki ambang batas toleransi kerugian yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar.
Foto: Profil Trump. (REUTERS/Evan Vucci)
Hal ini mengindikasikan bahwa instrumen tekanan tradisional mungkin tidak akan menghasilkan penyelesaian yang cepat. Di sisi lain, pemerintah AS yang sedang berada dalam siklus pemilihan umum belum berhasil mengamankan jaminan konkret terkait pembatasan kemampuan nuklir Iran.
Kegagalan mencapai sasaran strategis ini berarti risiko makroekonomi dari konflik dapat berlanjut hingga setidaknya 12 bulan ke depan.
Kerentanan Rantai Pasok dan Ancaman Inflasi
Fokus utama dari eskalasi ini bermuara pada stabilitas rantai pasok energi global melalui Selat Hormuz. Perairan ini merupakan urat nadi bagi distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Harapan pasar yang sempat melambung saat selat tersebut dibuka kembali pada hari Jumat, langsung dipatahkan oleh pengumuman penutupan kembali sehari setelahnya. Fluktuasi kebijakan ini menunjukkan kerentanan struktural yang dapat mengganggu arus logistik maritim secara luas.
Patrick O'Donnell, Kepala Strategi Investasi di Orbis, menilai bahwa pasar ekuitas saat ini merespons dengan perspektif yang terlalu sempit. Keberlanjutan reli pasar saham sangat bergantung pada stabilitas harga energi.
Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama, gangguan pada distribusi energi ini berpotensi memicu lonjakan biaya logistik dan harga komoditas energi, yang pada gilirannya dapat mengembalikan tekanan inflasi global. Tekanan inflasi dari sisi suplai ini dapat memaksa bank sentral global untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari ekspektasi pasar.
Komparasi Historis dan Risiko Valuasi
Ketidaksesuaian antara pergerakan harga saham dan risiko geopolitik ini memunculkan kekhawatiran akan terulangnya siklus pasar pada tahun 2022. Jim Reid, Kepala Riset Makro Deutsche Bank, memberikan catatan peringatan mengenai pola pergerakan indeks S&P 500 pada awal konflik di Ukraina.
Pada masa itu, harapan akan penyelesaian negosiasi yang cepat mendorong reli indeks hingga lebih dari 10% pada minggu-minggu awal konflik.
Namun, ketika realitas dampak ekonomi jangka panjang mulai terefleksi pada fundamental perusahaan dan data makroekonomi, pasar mengalami penyesuaian valuasi yang masif.
Indeks S&P 500 pada akhirnya anjlok sekitar 25% dari titik puncaknya di awal tahun hingga mencapai titik terendah di bulan Oktober 2022. Mengabaikan preseden historis ini dan hanya berfokus pada sentimen jangka pendek berisiko menempatkan investor pada posisi yang sangat rentan jika skenario resolusi damai gagal terwujud.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5342854/original/002615400_1757402192-barba.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4890948/original/095825900_1720887428-Timnas_Indonesia_-_Ilustrasi_Logo_Timnas_Indonesia_dan_Timnas_Day_copy.jpg)
