Begini Dampak Ngeri Kenaikan Harga Dolar AS ke Sektor Perumahan

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembang perumahan buka suara soal dampak dari kenaikan dolar Amerika Serikat (AS) yang tak terbendung ke sektor perumahan.

Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto mengatakan dampak dari kenaikan dolar AS atau pelemahan rupiah bisa berdampak ke industri perumahan. Namun, dampak tersebut baru akan terasa tiga hingga enam bulan ke depan.

"Yang jelas itu dampak negatif atas kondisi kita. Kalau pada batas tertentu, ya 3 sampai 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu bakal menjadi sesuatu yang agak bahaya kan begitu," kata Joko dikutip Senin (1/6/2026).

Dia menambahkan, dampak dari kenaikan dolar AS paling terasa di industri manufaktur padat karya yang memiliki pinjaman dalam dolar AS atau bahan bakunya dari luar negeri. Hal inilah yang bisa berdampak ke industri perumahan dan pendukungnya, termasuk bahan bangunan.

Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah hunian masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

"Tapi yang jadi problem kan kalau itu termasuk kepada perusahaan manufaktur yang padat karya, yang punya pinjaman dalam dolar AS atau bahan bakunya dari luar negeri. Sehingga itu akan memberikan tekanan," lanjut Joko.

Joko menjelaskan, paling terdampak dari kondisi ini yakni sektor perumahan rakyat, termasuk rumah bersubsidi. Sedangkan sektor perumahan mewah tidak terlalu berdampak karena segmentasinya masih cukup tahan.

"Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan," terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad atau Andre Bangsawan mengatakan dampak dari kenaikan dolar AS sudah dirasakan oleh sebagian besar kontraktor perumahan dan pengusaha bahan bangunan. Namun, dampaknya masih belum terlalu besar.

"Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah," kata Andre.

Namun, jika pemerintah tidak mengantisipasi kenaikan dolar AS dalam tiga bulan ke depan, maka dampaknya bisa lebih besar lagi.

"Saat ini dampaknya belum signifikan. Karena kenapa? Persediaan bahan-bahan di kami itu masih banyak, apalagi kami akan bangun 1.000 rumah gitu kan. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan akan datang. Kenaikannya bisa lebih tinggi," jelas Andre.

Meskipun ada dampak cukup besar jika dolar semakin meninggi dalam tiga bulan ke depan, tetapi pihaknya berupaya untuk tetap memenuhi program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah.

"Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut," ujarnya.

(fys/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |