Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (19/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi ini di zona merah dengan pelemahan 0,06% ke level Rp17.650/US$.
Pelemahan ini memperpanjang tekanan pada rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (18/5/2026), mata uang Garuda ditutup melemah tajam 1,03% ke level Rp17.640/US$. Posisi tersebut sekaligus menjadi salah satu level terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau melemah. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,15% ke posisi 99,044.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen dari dalam dan luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dimulai hari selasa ini. Agenda tersebut akan berlangsung selama dua hari hingga Rabu (20/5/2026).
Dalam RDG kali ini, pelaku pasar menantikan keputusan terbaru BI mengenai arah suku bunga acuan. Keputusan tersebut menjadi sangat penting karena berlangsung di tengah tekanan berat terhadap pasar keuangan domestik, terutama rupiah dan pasar saham.
Pada RDG sebelumnya, yakni 21-22 April 2026, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap di 3,75%, sementara suku bunga Lending Facility dipertahankan di 5,50%.
Dari pasar global, pelaku pasar masih mencermati peluang berakhirnya perang Iran dalam waktu dekat, sekaligus menimbang apakah bank sentral global perlu kembali memperketat kebijakan jika harga minyak tetap tinggi.
Harga minyak sendiri naik sekitar 2% ke level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Senin kemarin.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat perang Iran, meski muncul laporan bahwa AS telah sepakat untuk memberikan keringanan sanksi terhadap minyak mentah Iran dalam proses pembicaraan.
Sebelumnya, dolar AS sempat menguat pada pekan lalu seiring kenaikan imbal hasil Treasury. Kenaikan yield terjadi karena pasar khawatir lonjakan harga energi akan merembet ke inflasi konsumen dan membuka peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Dengan melemahnya indeks dolar AS pada pagi ini, ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.
(evw/evw)
Addsource on Google









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5474971/original/089844900_1768545268-IMG_0142.jpg)








:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)