Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa saham Asia Pasifik dibuka beragam pada perdagangan Kamis (3/9/2026), di tengah aksi jual obligasi global dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang menekan sentimen investor.
Melansir CNBC, Kondisi tersebut membuat pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik sekaligus pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).
Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan tercatat naik 0,86%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,19%. Di Jepang, Nikkei 225 bergerak relatif datar, sedangkan Topix menguat 0,65%, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,12%.
Pergerakan pasar tersebut terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury melonjak pada perdagangan Rabu. Imbal hasil Treasury tenor dua tahun menyentuh 4,41%, level tertinggi sejak Januari 2025, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,818%, level tertinggi sejak November 2023.
Meski demikian, kedua imbal hasil tersebut akhirnya ditutup di bawah level tertingginya pada hari tersebut. Di sisi lain, harga minyak bergerak sedikit lebih tinggi dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 0,9% dan ditutup sedikit di atas US$91 per barel.
Kekhawatiran investor terhadap inflasi masih menjadi salah satu perhatian utama pasar. Namun, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan kepada CNBC bahwa kenaikan imbal hasil Treasury lebih mencerminkan prospek ekonomi AS yang solid setelah perusahaan-perusahaan mencatatkan laba kuartal II yang mencetak rekor.
Williams mengatakan kenaikan imbal hasil tersebut terutama didorong oleh kuatnya perekonomian AS dan prospek ekonomi yang ditopang investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (AI), pusat data, serta teknologi secara umum. Menurutnya, kondisi tersebut bukan terutama menunjukkan bahwa kondisi keuangan memengaruhi perekonomian, melainkan perekonomian yang memengaruhi kondisi keuangan.
Sebelumnya pada pekan ini, saham-saham AS mengalami tekanan sementara imbal hasil obligasi meningkat di tengah kembali pecahnya pertempuran antara AS dan Iran. Sebelumnya, pejabat AS sempat mengisyaratkan peralihan dari aksi militer terbuka menuju sanksi ekonomi sebelum konflik kembali memanas dan kedua negara saling melancarkan serangan.
Presiden emeritus Council on Foreign Relations Richard Haass mengatakan dirinya kesulitan memahami arah perkembangan konflik tersebut. Menurut dia, beberapa pekan sebelumnya kedua negara tampak beralih menuju pendekatan tekanan ekonomi karena ada anggapan bahwa aksi militer lebih lanjut tidak akan memberikan hasil yang diharapkan.
Pelaku pasar pada perdagangan Kamis akan mencermati data klaim pengangguran mingguan AS. Sementara itu, perhatian utama investor untuk data ekonomi akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan atau payrolls AS untuk Agustus yang akan dirilis pada Jumat.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418556/original/081909100_1763622046-bojan.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5302683/original/090005400_1754032598-Latihan_Persija_Jakarta-15.jpg)

