Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa kerusakan perangkat yang berada di dekat kawah Anak Gunung Krakatau dapat mengurangi cakupan pengamatan visual dari titik tertentu, termasuk kamera CCTV. Kendati demikian, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, memastikan hal tersebut tidak menghentikan pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
"Pemantauan yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM ini dilakukan secara multiparameter, dan tidak hanya bergantung pada satu CCTV atau satu instrumen saja," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (6/9/2026).
Ia memaparkan, parameter utama yang tetap digunakan mencakup jaringan seismik, pengamatan visual dari lokasi aman, deformasi serta emisi gas, citra satelit, hingga informasi lapangan.
Menurutnya, redundansi instrumen sangat penting karena peralatan yang ditempatkan di dekat gunung api aktif selalu memiliki risiko terkena lontaran material, paparan abu, cuaca ekstrem, maupun gangguan komunikasi.
"Untuk itu, PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM juga melakukan evaluasi kualitas dan kontinuitas data," imbuhnya.
Lana menegaskan, perbaikan atau penggantian alat akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas dan keselamatan petugas. "Selama aktivitas tinggi, personel tidak akan dikirim memasuki zona berbahaya hanya untuk memperbaiki sistem," ucapnya.
Potensi Tsunami Dinilai Kecil
Selain itu, Lana menjabarkan bahwa tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi.
Ia menekankan bahwa morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018, dan kemudian mengalami pertumbuhan serta perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya.
Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utama relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas dibandingkan pemetaan sebelumnya.
"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil, dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," sebutnya.
"Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif," tutupnya.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418556/original/081909100_1763622046-bojan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)

