Cerita Bos BRI yang Sukses Jadi Tokoh Kunci Merger Bank Besar

8 hours ago 1

Yogyakarta, CNBC Indonesia - Kesuksesan Hery Gunardi yang berhasil menjadi tokoh kunci merger pada bank-bank besar telah berlangsung sejak lama.

Hery yang saat ini menjadi Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bercerita, pengalamannya sebagai bankir dimulai di Bank Pembangunan Indonesia, Bapindo pada tahun 1998-1999.

Bank yang ditutup karena kena krisis, 1998-1999 itu telah dimerger menjadi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (sekarang). Ada empat bank pada saat itu dimerger, yakni Bapindo, Bumi Daya, Eksim, dan Bank BDN.

Dalam proses merger itu, Hery Gunardi mengaku ditunjuk menjadi salah satu tim dan secara langsung ikut membantu terbentuknya Bank Mandiri.

"Nah, kebetulan ya saya dulu dari Bapindo. Tapi mungkin garis tangan, pada saat merger 1998-1999 itu, saya nggak ngerti kenapa atasan saya, direksi saya, menugaskan saya untuk menjadi tim merger," ujar Hery dalam sesi Entrepreneur Talks di Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026).

Ia mengatakan, pada merger itu sendiri ia masuk dalam tim inti yang kerjanya adalah membangun dan juga mengintegrasi cabang produk retail dan sistem yang ada, termasuk brandingnya. Dan yang menarik pada waktu itu ia mengaku sebagai orang yang termuda.

"Jadi saya adalah orang yang masuk di core teamnya, membantu zaman dulu adalah Pak Roby Johan sama Pak Agus juga," jelasnya.

Ia juga mengaku, perjalanan dalam proses merger itu sendiri tidak mudah. Terlebih ia banyak di tinggal teman-temannya menjalankan kariernya di luar. Namun dengan ketekunan dan kesabaran ia berhasil sukses menjadi bankir yang memiliki brand merger.

"Nah, setelah merger, saya melihat bahwa pada saat merger itu adalah kondisi yang sulit ya. Jadi teman-teman saya, satu angkatan banyak yang pergi, keluar. Saya bilang, saya nggak, saya tungguin. Kalau kapalnya karam ya, nanti karam kita baru kita loncat. Dan memang harus ada nekatnya gitu. Akhirnya merger itu sukses ya. Nah, teman-teman saya yang keluar itu semuanya pergi, nggak jadi apa-apa, saya yang tinggal malah jadi direktur, dari situ kemudian berjalan karir, karena punya pengetahuan merger, akusisi M&A yang kuat, ini jadi brandingnya saya. Saya juga nggak tahu kenapa saya punya brand seperti itu," terangnya.

Dengan pengalamannya tersebut, ia pun kembali ditunjuk jadi ketua tim merger atau director project merger Bank Syariah di Indonesia (BSI) dari tiga bank syariah milik negara, yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.

Dari kesuksesan itu ia pun akhirnya diangkat menjadi Direktur Utama di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

"Nah BRI ini butuh bukan merger, tapi butuh transformasi. BRI ini kapal induk yang besar, yang kontribusinya luar biasa kepada negara dan penyetor dividen paling besar, penyetor danantara, pembayar pajak terbesar juga antara BUMN. Nah tugas saya adalah gimana membawa BRI menjadi bank yang modern, tetap fokus ke UMKM, tapi bank ini adalah menjadi bank yang bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi kepada negara, seperti itu," terangnya.

(dpu/dpu)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |