Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Kemerdekaan 1945-1949 membuat para prajurit Republik Indonesia harus bertahan dalam kondisi serba kekurangan. Di sejumlah medan pertempuran, persoalannya bukan hanya menghadapi tentara Belanda, tetapi juga bagaimana mendapatkan makanan.
Dalam kondisi tersebut, daging kucing pun pernah menjadi santapan para pejuang. Kisah ini salah satunya berkaitan dengan Mayor Jenderal TNI dr. Moestopo, seorang perwira yang dikenal memiliki cara berpikir eksentrik selama masa revolusi.
Moestopo bahkan pernah menganjurkan anak buahnya memakan daging kucing. Selain karena keterbatasan makanan, ia memiliki alasan lain.
"Ia pula yang menganjurkan anak buahnya untuk memakan daging kucing agar mampu melihat dalam gelap," tulis Robert Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949 (1990).
Kisah tersebut juga disaksikan langsung oleh Jenderal Oerip Soemohardjo. Pada 1946, Oerip sedang meninjau sebuah pos terdepan dan terpencil di bawah pimpinan Moestopo.
Saat berbincang dengan para prajurit, perhatian Oerip tertuju pada sebidang tanah yang dipenuhi beberapa gundukan. Masing-masing gundukan memiliki kayu sederhana seperti nisan.
"Itu makam?" tanya Oerip.
"Ya Jenderal!"
"Jadi, banyak korban di sini?" tanya Oerip lagi.
"Ya, ya Jenderal!" jawab seorang kadet. Namun, ia kemudian menjelaskan bahwa makam tersebut bukan untuk manusia.
"Tetapi, maaf Jenderal. Itu bukan makam manusia!"
"Lha? Terus makam apa?" tanya Oerip keheranan.
"Anu Jenderal. Itu hanya kuburan... ayam, kambing, kucing, dan lain-lain yang menjadi korban santapan kami sehari-hari."
Ternyata, pemakaman tersebut dibuat atas perintah Moestopo. Hewan-hewan yang menjadi makanan para prajurit tetap dibuatkan makam sebagai bentuk penghormatan.
Moestopo, seperti diceritakan Robert Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949 (1990), memang dikenal sebagai perwira yang eksentrik dan imajinatif. Selain soal makanan, ia juga pernah meminta anak buahnya mengolesi ujung bambu runcing dengan kotoran kuda. Tujuannya, menurut kisah yang beredar, agar luka akibat tusukan dapat menimbulkan tetanus pada musuh.
Di balik berbagai cara tidak biasa tersebut, Moestopo merupakan salah satu tokoh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Setelah perang, ia kembali menekuni profesinya sebagai dokter gigi.
Moestopo kemudian mendirikan lembaga pendidikan kedokteran gigi yang berkembang menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) di Jakarta. Ia meninggal pada 29 September 1986. Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Moestopo pada 2007.
(mfa/mfa)
[Gambas:Video CNBC]


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5563444/original/076459000_1776870755-rakha.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5559674/original/073360800_1776606411-IMG_1712.JPG.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469507/original/040248800_1768124715-20260111AA_BRI_Super_League_Persib_Bandung_vs_Persija_Jakarta-01.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560726/original/010388300_1776679757-HGVqeRxaUAAGzAN.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5558718/original/041624500_1776476442-20260417IQ_Persebaya_Surabaya_vs_Madura_United-43.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5559675/original/052780800_1776606412-IMG_1609.JPG.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5312155/original/068813000_1754906267-1000195601.jpg)

