Dalam Hitungan Jam, Dunia Akan Tahu "Kengerian" Wajah Baru The Fed

1 hour ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

21 April 2026 17:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Kongres Amerika Serikat (AS) pada Selasa (21/4/2026) dijadwalkan menggelar sidang Kevin Warsh pada hari ini, Selasa (21/4/2026) pukul 10.00 waktu Washington, D.C. atau sekitar 21.00 WIB. Sidang itu digelar oleh Senate Banking Committee di Dirksen Senate Office Building 538.

Ini adalah kali pertama dunia akan mendengar langsung arah kebijakan serta gaya kepemimpinan Warsh setelah 2,5 bulan dinominasikan Presiden Donald Trump.

Warsh merupakan sosok yang dipilih Presiden Donald Trump sebagai calon Ketua bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) untuk menggantikan Jerome Powell, yang masa jabatannya sebagai ketua akan berakhir pada 15 Mei 2026.

Sidang ini penting karena menjadi penampilan publik pertama Warsh sebagai calon bos bank sentral paling berpengaruh di dunia, sehingga pernyataannya sangat dinanti pelaku pasar global.

Nama Warsh akhirnya keluar sebagai pilihan Trump setelah menyingkirkan sejumlah kandidat yang sebelumnya dinilai kuat masuk bursa, mulai dari penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett, Gubernur The Fed Christopher Waller, hingga kepala investasi obligasi BlackRock Rick Rieder.

Dalam dokumen pidato yang disiapkan untuk sidang, Warsh menegaskan akan menjaga independensi kebijakan moneter, tetapi juga memberi sinyal ingin membatasi peran The Fed agar lebih fokus pada fungsi intinya.

Mengenal Lebih Dekat Kevin Warsh

Warsh bukan figur asing bagi lingkaran kekuasaan Washington. Dia pernah menjabat sebagai Gubernur The Fed pada 2006-2011, termasuk saat krisis keuangan global 2008.

Pada masa itu, Warsh dikenal sebagai salah satu penghubung utama antara Ketua The Fed saat itu, Ben Bernanke, dengan Wall Street.

Rekam jejak tersebut membuat Warsh dipandang memahami cara kerja pasar keuangan, terutama ketika tekanan ekstrem muncul. Ia juga dikenal sebagai ekonom di Hoover Institution dan pengajar di Stanford Graduate School of Business.

Hubungan Warsh dengan Trump juga bukan hal baru. Warsh sebenarnya sudah lama masuk radar untuk memimpin The Fed.

Pada 2017, dia sempat menjadi runner-up untuk kursi Ketua The Fed sebelum Trump akhirnya memilih Jerome Powell. Belakangan, Trump beberapa kali menyebut dirinya mendapat nasihat yang buruk saat memilih Powell, terutama setelah The Fed menaikkan suku bunga pada 2018.

Dari situ, nama Warsh tetap bertahan sebagai salah satu figur yang dinilai paling sejalan dengan keinginan Trump untuk membawa arah baru di bank sentral AS.

Koneksi Warsh ke lingkaran elite bisnis AS juga kuat. Pada 2002, dia menikahi Jane Lauder, cucu dari keluarga besar Estée Lauder yang memiliki kekayaan bersih sekitar US$2,7 miliar atau setara Rp46,27 triliun (asumsi kurs Rp17.140/US$1).

Dari jalur keluarga ini pula, Warsh terhubung dengan nama besar lain, yakni Ronald Lauder, ayah mertuanya yang juga miliarder.

Ronald Lauder diketahui merupakan teman sekelas Donald Trump pada era 1960-an dan kemudian menjadi salah satu penyumbang dana kampanye presiden Trump pada 2016.

Kekayaannya disebut mencapai sekitar US$5 miliar, atau setara Rp85,7 triliun. Ronald Lauder juga sempat dilaporkan ikut mendorong ketertarikan Trump terhadap gagasan agar Amerika Serikat membeli Greenland.

Kekayaan Kevin Warsh

Dalam dokumen keuangan yang dibuka ke publik menjelang sidang, Warsh melaporkan aset bernilai di atas US$100 juta atau sekitar Rp1,71 triliun. Jika nanti resmi menjabat, dia diperkirakan akan menjadi Ketua The Fed terkaya dalam sejarah.

Namun demikian, kekayaannya masih berada di bawah sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih.

Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) 2024 Erick Thohir tercatat mencapai Rp2,41 triliun, sementara Sakti Wahyu Trenggono sekitar Rp2,44 triliun. Sementara jika dibandingkan dengan Raffi Ahmad, nilainya tidak terlalu jauh, meski kekayaan Warsh masih sedikit lebih tinggi dari LHKPN Raffi sebesar Rp1,03 triliun.

Dokumen setebal 69 halaman itu menunjukkan bahwa Warsh memiliki dua investasi di Juggernaut Fund LP, yang masing-masing nilainya lebih dari US$50 juta. Dia juga tercatat menerima pemasukan US$10,2 juta dari jasa konsultasi untuk kantor investasi milik miliarder Wall Street, Stanley Druckenmiller.

Meski begitu, isi detail dari investasi di Juggernaut Fund itu tidak dibuka ke publik. Alasannya karena ada perjanjian kerahasiaan yang sudah berlaku sebelumnya.

Warsh mengatakan aset tersebut akan dilepas jika dirinya resmi dikonfirmasi, agar sesuai dengan aturan etik di The Fed.

Hal ini penting karena aturan etik di The Fed memang sangat ketat. Pejabat bank sentral AS dan keluarga dekat mereka tidak bebas memiliki semua jenis investasi.

Ada batasan soal aset apa yang boleh dimiliki, termasuk larangan atas saham bank dan aset yang terkait kripto. Aturan itu juga mengatur ketat cara membeli dan menjual aset.

Karena itu, yang akan dilihat dalam sidang nanti bukan hanya seberapa kaya Warsh, tetapi juga apakah ada potensi benturan kepentingan dan seberapa cepat dia bisa menyesuaikan diri dengan aturan tersebut.

Selain investasi besar tadi, Warsh juga tercatat punya sekitar dua lusin kepemilikan di THSDFS LLC.

Sebagian di antaranya masing-masing bernilai hingga US$5 juta. Detail aset-aset itu juga tidak dibuka, tetapi Warsh kembali menyatakan akan melepasnya bila nanti resmi menjabat.

Dokumen itu juga mencantumkan puluhan aset lain tanpa nilai yang dijelaskan secara rinci. Banyak di antaranya tampak terkait sektor kecerdasan buatan dan kripto.

Beberapa contohnya adalah Cafe X, platform kedai kopi robotik, Cionic, perusahaan wearable untuk membantu gerakan tubuh, Blast, proyek Ethereum layer two yang disebut menghasilkan imbal hasil, serta Contraline, perusahaan yang mengembangkan alat kontrasepsi pria yang bisa dibalikkan efeknya.

Di sisi lain, utang Warsh terlihat relatif kecil. Dia tercatat memiliki kredit rumah senilai US$5 juta dari JP Morgan Chase, fasilitas kredit hingga US$5 juta dari PNC Bank, serta komitmen modal US$1,95 juta ke THSDFS LLC, yang juga termasuk aset yang dijanjikan akan dilepas.

Apa yang Ditunggu Pasar dari Kevin Warsh

Yang paling ditunggu pasar dari Kevin Warsh adalah apakah dia masih akan mendorong penurunan suku bunga, atau mulai mengakui bahwa ruang untuk melonggarkan kebijakan kini makin sempit.

Sebab, inflasi Amerika Serikat terbaru justru kembali naik. Data pada Maret 2026 menunjukkan inflasi tahunan AS mencapai 3,3%, naik dari 2,4% pada Februari. Kenaikan ini didorong lonjakan harga energi, dengan indeks energi naik 12,5% secara tahunan. Di saat yang sama, suku bunga acuan The Fed saat ini masih berada di kisaran 3,50%-3,75%.

Pasar juga akan mencermati apakah Warsh melihat tekanan inflasi ini sebagai alasan untuk tetap berhati-hati.

Soalnya, bukan hanya harga energi yang naik, tetapi inflasi inti juga belum benar-benar jinak. Inflasi inti atau di luar makanan dan energi masih berada di 2,6% pada Maret. Ini menunjukkan tekanan harga di dalam ekonomi AS belum sepenuhnya reda.

Karena itu, pelaku pasar akan menunggu apakah Warsh tetap bicara soal peluang penurunan suku bunga, atau justru memberi sinyal bahwa The Fed perlu lebih sabar menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama.

Pasar juga akan menilai apakah pandangan Warsh masih sejalan dengan kondisi terbaru ekonomi AS, atau terlalu agresif di tengah inflasi yang kembali memanas.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |