Daun Ini Banyak Dibuang-buang di RI, Ternyata Diburu Jerman - Malaysia

1 hour ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

26 May 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Daun sirsak sering berakhir jadi limbah kebun. Daunnya dipangkas, ditumpuk, lalu dibakar bersama ranting.

Nilai ekonominya nyaris tak dihitung. Padahal di pasar herbal global, produk olahan daun sirsak sudah masuk rak e-commerce internasional dan dijual dalam bentuk teh, kapsul, sampai bubuk ekstrak.

Buah sirsak selama ini lebih dikenal karena rasa manis-asamnya. Kandungan vitamin C, serat, dan antioksidan membuat buah tropis ini cukup populer di pasar minuman dan bahan baku herbal. Malaysia menjadi pembeli paling konsisten untuk komoditas sirsak Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, nilai ekspor sirsak Indonesia ke Malaysia mencapai US$24.089 atau sekitar Rp 426,4 juta.

Ilustrasi daun sirsak. (Dok. Fakultas Pertanian UMSU)Ilustrasi daun sirsak. (Dok. Fakultas Pertanian UMSU) Foto: Ilustrasi daun sirsak. (Dok. Fakultas Pertanian UMSU)

Namun perhatian pasar luar negeri kini mulai bergerak ke bagian lain dari pohon sirsak, yakni daunnya. Di pasar herbal global, daun sirsak kering dipasarkan sebagai bahan teh herbal dan suplemen kesehatan. Produk ini banyak dijual dalam kemasan 40-60 sachet, lalu dipasarkan lewat platform seperti Amazon dengan harga belasan dolar AS per kotak.

Daun sirsak berasal dari tanaman Annona muricata, tumbuhan tropis yang banyak tumbuh di Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Afrika. Dalam praktik pengobatan tradisional, daun ini lama digunakan sebagai rebusan herbal. Kandungan fenolik, flavonoid, dan acetogenin membuat daun sirsak sering dikaitkan dengan aktivitas antioksidan dan antimikroba.

Dilansir dari jurnal Comprehensive Review on the Ethnomedicinal, Phytochemistry, and Pharmacological Aspects Focusing on Antidiabetic Propertie, popularitas daun sirsak terus meningkat di kalangan produsen herbal dan konsumen suplemen alami. Beragam klaim kesehatan ikut berkembang, mulai dari membantu tidur hingga dugaan aktivitas antikanker pada pengujian laboratorium.

Meski begitu, bukti klinis pada manusia masih terbatas. Sebagian penelitian baru berada pada tahap uji laboratorium dan hewan. Karena itu, banyak klaim terapeutik belum bisa dianggap sebagai standar medis. Peneliti juga menyoroti keberadaan senyawa acetogenin seperti annonacin yang dalam beberapa studi dikaitkan dengan potensi neurotoksisitas apabila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.

Pasar global tetap bergerak. Produk teh daun sirsak kini masuk kategori herbal niche dengan pembeli loyal di Eropa dan Asia Timur.

Jerman menjadi salah satu tujuan yang mulai dilirik eksportir Indonesia karena permintaan produk herbal alami terus tumbuh. Pelaku UMKM di Indonesia mulai mengeringkan daun, melakukan sortasi, lalu mengemasnya dalam bentuk teh celup maupun bubuk ekstrak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan ekspor daun sirsak Indonesia dalam kode HS 08109094 bergerak fluktuatif dalam enam tahun terakhir.

Pada 2021, sejumlah pelaku usaha dan pemerintah daerah mulai melakukan pengiriman daun sirsak kering ke pasar seperti Jerman dan Korea Selatan. Nilainya memang masih kecil dibanding komoditas hortikultura utama. Polanya pun belum stabil karena sangat bergantung pada pesanan niche dan kapasitas produksi UMKM.

Masalah terbesar ada di standar mutu. Importir luar negeri meminta konsistensi kualitas bahan baku, uji residu pestisida, sertifikat fitosanitasi, hingga pelabelan yang jelas. Banyak produsen domestik masih menjual daun kering mentah tanpa standarisasi industri pengolahan. Situasi ini membuat harga jual sulit naik dan suplai ekspor sulit berlangsung rutin.

Padahal margin produk olahan jauh lebih tinggi dibanding daun mentah. Di pasar internasional, nilai jual terbesar muncul pada produk yang sudah dikeringkan dengan standar higienis, dikemas modern, dan diposisikan sebagai teh herbal premium.

Artinya, keuntungan utama berada di proses hilirisasi, bukan di penjualan daun segar.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |