Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi hari ini tak akan membuat utang pemerintah yang berasal dari valuta asing (valas) di APBN membengkak signifikan.
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam Indonesia Economic Forum 2026 yang digelar di Jakarta awal pekan ini.
"Jadi bisa saya katakan bahwa memang APBN kita cukup fleksibel untuk merespons dan mengurangi tekanan-tekanan yang bersumber dari global itu," ungkap Juda Agung, Rabu (4/3/2026).
Juda Agung menjelaskan, meskipun kurs rupiah tengah menghadapi gejolak terhadap dolar AS saat ini, utang pemerintah bisa aman karena diversifikasi denominasi tengah gencar dilakukan saat ini.
"Kalau dulu pembiayaan berasal dari global itu banyak dari US dolar, dominantly dari US dolar, hampir 80-100% dari US dolar, sekarang ini kita melakukan diversifikasi market," tegasnya.
Pemerintah kata dia kini lebih banyak menerbitkan utang valas dalam mata uang renminbi China serta euro Eropa. Pekan lalu, penerbitan global bond dalam bentuk dua mata uang asing itu kata dia setara US$ 4,5 miliar.
"Equivalent dalam US dolar, tapi dalam mata uang euro dan renminbi, dan itu harganya masih sangat bagus," tegas Juda Agung.
"Yieldnya masih sangat bagus. Untuk renminbi antara 2-3% dan untuk euro itu 4-5%. Ini ukurannya masih sangat bagus sekali untuk pasar global kita," paparnya.
Sebagai informasi, data total nominal utang pemerintah pusat teranyar ialah senilai Rp 9.637,9 triliun per 31 Desember 2025, atau setara 40,46% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Namun, rinciannya kini sulit diketahui proporsi riilnya, setelah pemerintah tak lagi menerbitkan secara rutin data utang dalam buku kinerja dan fakta APBN yang biasanya terbit tiap bulan.
Terakhir detail data utang pemerintah bisa diketahui secara mudah ialah untuk data per akhir Kuartal II-2025, atau tepatnya Juni 2025. Saat itu, dari nominal utang Rp 9.138,05 triliun, sebanyak Rp 6.554,95 triliun dalam bentuk rupiah, dolar AS hanya setara Rp 1.755,30 triliun, yen Jepang Rp 283,19 triliun, euro Eropa Rp 519,49 triliun, dan dari mata uang lainnya Rp 25,11 triliun.
"Jadi ya kalau kita utangnya banyak dalam valas, dalam foreign currency, tentu kita akan terekspos dengan pergerakan kurs," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Suminto saat taklimat media di Bogor, Jawa Barat, dikutip Senin (13/10/2025).
Secara keseluruhan, utang pemerintah yang berbentuk valuta asing atau valas sebetulnya hanya setara 28,3% dari total. Itu pun turun dari catatan pada 2024 yang sebesar 28,7%. Dibanding periode 2020, proporsi utang dalam bentuk valas bahkan masih jauh lebih tinggi, yakni 33,5%.
Per Juni 2025, proporsi utang pemerintah yang berdenominasi rupiah memang masih mendominasi dengan besaran setara 71,73%, naik dari posisi 2024 sebesar 71,39%. Sementara itu, utang yang bersumber dari mata uang dolar hanya 19,21% menyusut dari 2024 sebesar 20,45%.
Sisanya, yang dalam bentuk mata uang yen hanya 3,10%, naik sedikit dari catatan 2024 sebesar 3,05%. Untuk euro 5,68%, juga naik dari sebelumnya 4,81%, serta mata uang lain yang porsinya 0,27% justru turun dari catatan 2024 sebesar 0,30%.
Karena itu, pemerintah menganggap, komposisi utang yang ada saat ini semakin stabil dalam menghadapi gejolak kurs. Data utang pemerintah per Juni 2025 itu pun tercatat turun dibanding posisi Mei 2025 yang sebesar Rp 9.177,48 triliun.
"Sehingga kalau misalnya terjadi pergerakan kurs, rupiah lagi terdepresiasi, kewajiban kita dalam US dolar secara agregat akan terkelola dengan baik, karena eksposur kita terhadap pergerakan valas hanya 28%," ucap Suminto.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar tertekan pada hari ini, Rabu (4/3/2026) hingga sempat di level Rp16.910/US$ atau melemah sebesar 0,36% pada pembukaan perdagangan, berdasarkan data Refinitiv.
Adapun, pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan kemarin, Selasa (3/3/2026), rupiah berhasil menutup hari dengan penguatan tipis 0,03% ke posisi Rp16.850/US$.
(arj)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351436/original/075591100_1758049411-noqcog0f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403623/original/076212200_1762332363-PSS.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)