Duh! Gula dan Perwarna Produk Tetangga RI Ini Ketinggian, Bikin Worry

2 days ago 6

Produk makanan dan minuman di India disorot karena kandungan gula dan pewarna buatan lebih tinggi dibandingkan produk serupa di negara lain.

Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India. Perbedaan kandungan produk makanan dan minuman di India dan negara lain menjadi sorotan, sebagaimana dimuat foto Reuters, Kamis (27/8/2026). (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Foto gabungan memperlihatkan botol Fanta ukuran 750 ml di sebuah kantor di Mumbai, India, pada 24 Agustus 2026, dan botol Fanta ukuran 500 ml di sebuah kantor di London, Inggris, pada 24 Agustus 2026.

Fanta yang dijual di London mengandung 63 kalori per kaleng, sementara produk serupa di India memiliki kandungan gula tiga kali lebih tinggi dan menggunakan pewarna buatan. Di Eropa, penggunaan pewarna tersebut mengharuskan produk mencantumkan peringatan kesehatan mencolok. Namun, di India, informasi mengenai pewarna hanya ditulis dalam huruf kecil di bagian belakang kemasan. (REUTERS/Francis Mascarenhas and Hiba Kola/Illustration)

Foto gabungan memperlihatkan botol Fanta ukuran 750 ml di sebuah kantor di Mumbai, India, pada 24 Agustus 2026, dan botol Fanta ukuran 500 ml di sebuah kantor di London, Inggris, pada 24 Agustus 2026.

Sorotan muncul setelah badan pengawas keamanan pangan India membatalkan rencana penerapan label peringatan berwarna di bagian depan kemasan. Sebagai gantinya, perusahaan akan diminta mencantumkan tabel hitam-putih berisi informasi kadar gula, lemak, dan garam. (REUTERS/Francis Mascarenhas and Hiba Kola/Illustration)

Kemasan mi instan Nestle Maggi 2-Minute Noodles dipajang di sebuah kedai makanan di Mumbai, India, pada 21 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel.

Keputusan tersebut kini ditinjau Mahkamah Agung (MA) India setelah mendapat petisi dari aktivis kesehatan masyarakat. Mereka menilai label interpretatif di bagian depan kemasan dapat membantu konsumen mengenali kandungan nutrisi dan membuat pilihan makanan yang lebih sehat. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Foto gabungan memperlihatkan sebungkus mi instan Nestle Maggi Masala 2-Minute Noodles di sebuah kantor di Mumbai, India, pada 20 Agustus 2026, dan sebungkus mi instan Nestle Maggi Masala 2-Minute Noodles di sebuah kantor di London, Inggris, pada 24 Agustus 2026.

Studi terbaru yang diterbitkan jurnal Lancet memperkirakan sekitar 450 juta penduduk India berisiko mengalami obesitas atau kelebihan berat badan pada 2050. Saat ini, sekitar 20 negara telah menerapkan label interpretatif pada bagian depan kemasan. (REUTERS/Francis Mascarenhas and Hiba Kola/Illustration)

Kemasan mi instan Nestle Maggi 2-Minute Noodles di dalam troli belanja di Mumbai, India, 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel.

Aktivis dan influencer India, Revant Himatsingka atau Food Pharmer, turut menyoroti perbedaan tersebut. Ia mengatakan Fanta di India mengandung sekitar 10 sendok teh gula per 300 mililiter, sedangkan produk di Eropa sekitar empat sendok teh. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Seorang wanita menyantap mi instan Nestle Maggi 2-Minute di sebuah kedai makanan kaki lima di New Delhi, India, pada 13 Agustus 2026.

Tekanan konsumen turut mendorong perubahan. Pada 2024, Nestle mengumumkan akan menjual Cerelac tanpa tambahan gula di India setelah aktivis mengkritik penjualan produk dengan tambahan gula selama sekitar 50 tahun, sementara versi tanpa gula telah lama tersedia di pasar lain.(REUTERS/Bhawika Chhabra)

Read Entire Article
| | | |