Gagal Menutup BRI Super League Musim Ini dengan Manis, Pelatih PSIM Soroti Fokus Pemain saat Dibungkam Arema FC

5 hours ago 2

Bola.com, Malang - PSIM Yogyakarta harus mengakhiri perjalanan di BRI Super League 2025/2026 dengan hasil mengecewakan. Laskar Mataram menyerah 1-3 dari Arema FC dalam pekan ke-34 di Stadion Kanjuruhan, Jumat (22/5/2026) sore WIB.

Gol tunggal PSIM Yogyakarta dicetak Deri Corfe pada menit ke-53. Sementara Arema FC unggul masing-masing via Joe Vinicius di menit ke-3, Dalberto Luan (49'), dan Valdeci Moreira (90').

Dengan hasil minor ini PSIM gagal menembus 10 besar klasemen akhir. Laskar Mataran finis di posisi ke-11 dengan koleksi 45 poin. Sementara Arema FC menutup musim di urutan ke-9 dengan raihan 48 angka.

Pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengakui anak asuhnya tampil kurang siap terutama pada babak pertama. Kesalahan individu jadi penyebab utama timnya kesulitan mengembangkan permainan sejak menit awal.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Babak Pertama Jadi Titik Masalah

Jean-Paul van Gastel menilai sebagian besar pemain PSIM tidak benar-benar fokus ketika pertandingan dimulai. Situasi itu membikin timnya langsung berada dalam tekanan selepas kebobolan cepat dari Arema FC.

"Sebagian besar pemain saya di babak pertama tidak benar-benar fokus ke dalam pertandingan. Akibatnya setelah empat menit berjalan kami kebobolan gol karena kesalahan pribadi," ujar Van Gastel seusai laga.

"Itu awal yang sulit terutama bermain tandang melawan Arema yang merupakan lawan kuat secara fisik. Setelah jeda babak pertama kami mengubah formasi dan kami memulai dengan baik. Namun, lagi-lagi kami kebobolan gol yang terhitung cukup awal," sambungnya.

Mencoba Bangkit di Paruh Kedua

Sesudah turun minum, Laskar Mataram mencoba bangkit dengan melakukan perubahan taktik. Permainan Laskar Mataram terlihat lebih hidup dibandingkan 45 menit pertama.

Pelatih asal Belanda itu menilai performa Franco Ramos dkk. jauh lebih baik setelah jeda pertandingan. Namun, kebutuhan untuk tampil menyerang membuat timnya harus mengambil banyak risiko di sisa laga.

"Namun, kami tetap terus bermain jauh lebih baik daripada babak pertama dan berhasil membawa diri kami kembali ke dalam permainan," kata juru taktik berusia 54 tahun tersebut.

"Skor menjadi 2-1 dan kemudian Anda harus mengambil banyak risiko, akhirnya kami kebobolan gol 3-1 melalui gol indah. Dan begitulah. Jadi, selamat untuk Arema," lanjut Van Gastel.

PSIM Memulai Laga dengan Buruk

Hal senada disampaikan penyerang PSIM Yogyakarta, Deri Corfe. Menurut pemain asal Inggris itu, timnya tidak memulai pertandingan dengan baik sehingga kesulitan mengontrol permainan sejak awal laga.

"Pertandingan dimulai dengan awal yang sulit. Secara keseluruhan kami tidak memulai dengan cara yang terbaik dan Anda tidak memberi diri Anda peluang terbaik untuk memenangkan pertandingan jika memulai seperti ini," ucapnya.

"Tapi saya pikir di babak kedua kami bermain seperti cara kami biasanya bermain, seperti memberikan performa yang lebih baik."

"Kemudian, ya, sayangnya begitu Anda kebobolan tiga gol, sangat sulit untuk memenangkan pertandingan. Tapi saya pikir kami sudah mencoba sampai akhir, hanya itu yang bisa diupayakan," tutup Corfe.

Persaingan di BRI Super League

Read Entire Article
| | | |