Gara-Gara Masalah di Indonesia, se-Asia Tenggara Bisa Kena Getahnya

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek pertumbuhan pasar penerbangan Asia Tenggara menjadi sorotan dalam Singapore Airshow. Sejumlah pelaku industri menilai kawasan ini berpotensi menjadi wilayah dengan pertumbuhan penumpang tercepat dalam dua dekade ke depan, ditopang kenaikan kelas menengah dan keterbatasan moda transportasi alternatif.

Namun, Brendan Sobie dari firma aviasi Sobie Aviation menyoroti realitas jangka pendek menunjukkan tantangan besar. Dalam tulisannya yang tayang di Channel News Asia pada 20 Februari 2026, ia menyebut Asia Tenggara menjadi kawasan paling lambat pulih dari pandemi COVID-19. Lantas, proyeksi pertumbuhan kerap terlihat terlalu optimistis karena bertumpu pada basis yang rendah.

Indonesia menjadi titik lemah utama. Pada 2025, kapasitas kursi penerbangan Asia Tenggara masih 8% di bawah level 2019, dengan lebih dari separuh selisih berasal dari pasar domestik Indonesia. Data BPS menunjukkan jumlah penumpang domestik RI masih jauh di bawah masa pra-pandemi, bahkan merosot 34% dibanding 2018.

Meski memiliki fundamental kuat berupa populasi besar dan karakter negara kepulauan, permintaan domestik Indonesia melemah. Tekanan pada kelas menengah, naiknya pengangguran, serta pelemahan rupiah memperburuk daya beli dan minat bepergian. Di sisi lain, biaya maskapai melonjak, sementara permintaan belum pulih.

Masalah diperparah oleh keterbatasan armada dan minimnya persaingan. Armada pesawat komersial Indonesia menyusut sekitar 30% dari sebelum pandemi, dengan ratusan pesawat masih tidak aktif. Dua grup maskapai menguasai sekitar 90% pasar domestik, membatasi dinamika persaingan.

Menurunkan tarif untuk mendorong permintaan bukan solusi. Harga tiket saat ini jauh lebih tinggi dibanding 2018, namun maskapai tak bisa kembali ke tarif lama karena biaya operasional kini jauh lebih mahal.

Situasi ini membuat proyeksi pertumbuhan jangka panjang, termasuk estimasi International Air Transport Association (IATA) yang memperkirakan Indonesia mencapai 390 juta penumpang pada 2037, dinilai terlalu ambisius. Tahun ini, total pasar Indonesia diperkirakan hanya sekitar 105 juta penumpang.

Tanpa pemulihan kuat dari Indonesia, target pertumbuhan penerbangan Asia Tenggara akan sulit tercapai. Laju pertumbuhan pra-pandemi yang agresif dinilai tidak realistis untuk kembali terulang dalam waktu dekat.

"Tanpa kontribusi yang lebih kuat dari Indonesia, hampir tidak mungkin bagi Asia Tenggara untuk mencapai angka perkiraan secara keseluruhan," kata Sobie dalam tulisannya, dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (21/2/2026).

Tidak hanya RI, beberapa pasar lain di kawasan Asia Tenggara menghadapi masalah serupa, meskipun tidak terlalu kentara. Sebagian besar negara kawasan memiliki populasi kelas menengah yang terus bertumbuh tetapi juga sensitif terhadap harga, yang menjadi masalah karena tarif perlu dinaikkan secara signifikan di era pasca-pandemi untuk menutupi biaya yang lebih tinggi.

"Maskapai penerbangan di kawasan ini perlu menghasilkan keuntungan untuk melanjutkan ekspansi, tetapi tarif rendah yang membantu merangsang pertumbuhan sebelum pandemi kini tidak lagi berkelanjutan," kata Sobie.

Ia membeberkan pasar transportasi udara Asia Tenggara meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun 2009 (setelah krisis keuangan global) hingga 2018, dari sekitar 200 juta menjadi 500 juta penumpang. Selama periode ini, pasar domestik Indonesia juga meningkat lebih dari dua kali lipat dari 44 juta menjadi 102 juta penumpang.

Menurut Sobie, itu adalah periode "bulan madu" dengan kondisi pasar yang menguntungkan dan banyak peluang mudah diraih, terutama untuk maskapai penerbangan berbiaya rendah.

"Tidak ada yang boleh berasumsi bahwa pertumbuhan seperti ini akan kembali terjadi untuk Indonesia dan Asia Tenggara secara keseluruhan," tutup Sobie.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |