Geger Polisi-Militer Gerebek Badan Intelijen, Bisa Bikin Perang Negara

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Para penyelidik kepolisian dan militer Korea Selatan (Korsel) dilaporkan menggerebek badan intelijen negeri itu, Selasa. Ini terkait serangan drone ke Korea Utara (Korut) di masa eks presiden yang digulingkan Yoon Suk-yeol.

Sebelumnya langkah Yoon menjadi preseden buruk yang mengancam rusaknya upaya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang. Presiden Korsel saat ini, Lee Jae-myung, telah berupaya memperbaiki hubungan dengan negara tetangganya yang bersenjata nuklir tersebut bahkan berjanji untuk menghentikan drone yang berterbangan di perbatasan kedua negeri.


Korut sendiri mengatakan telah menembak jatuh drone pengawasan di dekat pusat industri Kaesong pada bulan Januari, menuduh Korsel mengirimkan pesawat tersebut untuk mengumpulkan data intelijen tentang "target penting". Seoul awalnya membantah keterlibatan resmi apa pun, dengan Lee mengatakan tindakan seperti itu sama saja dengan "menembak ke Korut".

Namun, satuan tugas gabungan militer-polisi mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka sedang menyelidiki "tiga tentara aktif dan satu staf badan intelijen dalam upaya untuk menetapkan kebenaran secara menyeluruh". Para penyelidik menggerebek total 18 lokasi yang menjadi perhatian, termasuk Komando Intelijen Pertahanan dan Dinas Intelijen Nasional.

"Drone tersebut telah menyimpan rekaman target penting termasuk daerah perbatasan," kata seorang juru bicara dalam pernyataan tersebut, dimuat AFP.

Menteri Unifikasi Korsel, Chung Dong-young, sebelumnya mengisyaratkan bahwa serangan tersebut mungkin melibatkan pejabat pemerintah yang masih setia kepada mantan pemimpin garis keras Yoon. Tiga warga sipil telah didakwa atas dugaan peran mereka dalam skandal drone tersebut.

Salah satu dari mereka telah secara terbuka mengaku bertanggung jawab. Ia mengatakan bahwa dirinya bertindak untuk mendeteksi tingkat radiasi dari fasilitas pengolahan uranium Pyongsan Korsel.

Perlu diketahui eks presiden Yoon saat ini sedang diadili atas tuduhan mengirimkan drone secara ilegal ke Korut untuk membantu menciptakan dalih bagi deklarasi darurat militer pada akhir tahun 2024. Jaksa menuduh Yoon menginstruksikan militer Seoul untuk menerbangkan drone di atas Pyongyang dan menyebarkan selebaran anti-Korut dalam upaya memprovokasi respons.

Mereka mengatakan Yoon dan yang lainnya "bersekongkol untuk menciptakan kondisi" yang akan memungkinkannya untuk memperketat cengkeramannya pada kekuasaan dengan mendeklarasikan darurat militer. Upaya Yoongagal dan berujung penggulingan pemerintahannya.

Pria berusia 65 tahun itu pun dimakzulkan dan dicopot dari jabatannya pada April tahun lalu. Ia akan dijatuhi hukuman atas tuduhan pemberontakan minggu depan.

Sebagai balasan atas penyebaran propaganda, Korut pada tahun 2024 mengirimkan puluhan balon berisi sampah. Pemerintah Kim Jong Un lalu menyebarkan sampah tersebut di seluruh Korsel.

Perlu diketahui kedua Korea belum benar-benar berdamai dari perang. Status saat ini hanya gencatan senjata.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |