Gen-Z Mau Punya Rumah di Pusat Kota, Sebatas Mimpi atau Realita?

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Anak muda Indonesia, utamanya generasi Z, semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok berupa rumah. Hal ini dipicu karena harga tanah serta rumah yang semakin mahal, tapi gaji jumlahnya segitu-gitu saja.

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026 ada pengaruh orang super kaya terhadap kenaikan harga properti.

Celios menulis bahwa tanah, sebagai komponen utama harga rumah, banyak dikuasai segelintir elit yang memiliki akses izin, konsensi, hingga modal besar.

"Kepemilikan ini sering tidak diimbangi pajak yang proporsional, sehingga tanah ditimbun dan dispekulasikan, mendorong harga properti naik jauh lebih cepat dari pendapatan generasi muda," kata Celios.

Akibatnya, masalahnya bukan sekadar tidak mampu membeli rumah, tetapi karena akses terhadap tanah sudah dikuasai, sementara harga properti terus naik. Dampaknya, generasi muda terpaksa tinggal semakin jauh dari pusat ekonomi dan menanggung biaya hidup lebih tinggi.

Sebagai gambaran, harga rumah baru di Jakarta berkisar di atas Rp1 miliar. Misalkan mengambil program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan uang down payment (DP) 10% dan bunga berjenjang, maka cicilan per bulan bisa mencapai Rp7 jutaan.

Artinya, untuk membeli rumah tersebut minimal penghasilan anak muda sekitar Rp20 juta. Bagi anak muda berpenghasilan UMR Jakarta tentunya tidak bisa menjangkau rumah di Jakarta, yang notabene menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Pun jika memilih rumah di kota satelit Jakarta seperti Bekasi, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok, harga rumah yang dijual relatif masih tinggi sekitar Rp400 juta hingga Rp1 miliar tergantung luas. Sehingga dengan kondisi yang sama, para pekerja pun harus merogoh kocek sekitar Rp2 jutaan saat bunga flat dan sekitar Rp4 jutaan saat masuk floating rate.

Sehingga anak muda minimal punya penghasilan Rp8-Rp10 juta agar memiliki kondisi ideal untuk memiliki rumah di kota satelit.

Peluang anak muda membeli rumah yang terjangkau pun semakin terpinggirkan. Akses kepemilikan rumah menjadi terbatas di pusat kota dan satelitnya.

Bahkan menurut Celios, rumah subsidi Rp166-185 juta (DP 1-5%, bunga ±5%) tetap di luar jangkauan Gen Z: cicilannya menyerap 31-35% gaji UMR bulanan, bahkan hingga ±48% dari gaji Rp2,2 juta (studi kasus), membuat membeli rumah terasa hampir mustahil.

Pun tetap membeli rumah lebih murah ada konsekuensi jarak antara tempat tinggal dan pusat aktivitas ekonomi yang jauh dan membuat para pekerja harus extra duit untuk akomodasi, extra waktu, dan extra energi.

Perjalanan rumah ke kantor atau tempat kerja yang sedianya bisa hitungan menit jika memiliki rumah di pusat aktivitas ekonomi, harus berjam-jam di jalan. Begitu juga dengan uang transport yang harus dibayar lebih mahal dan menggerus arus dana kantong pribadi lebih dalam.

Harga properti terus terdorong naik, jauh melampaui kemampuan pendapatan generasi muda. Sementara itu, gaji mayoritas Gen Z hanya berkisar setara UMR dengan status "karjimut" atau karyawan gaji imut

"Rumah adalah kebutuhan dasar setara pangan dan kesehatan, sekaligus kunci akses pendidikan, pekerjaan, dan stabilitas hidup . Bagi generasi muda, kepemilikan rumah juga berarti kemandirian, kesiapan berkeluarga, serta alat akumulasi aset, bahkan menjadi "jaminan sosial" di tengah sistem perlindungan yang lemah," imbuh Celios.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |