Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
01 January 2026 11:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Setiap tahunnya bumi mengalami satu momen astronomi penting yang berdampak besar terhadap pola musim, durasi siang-malam, hingga iklim global.
Momen tersebut dikenal sebagai Solstis Juni, atau titik balik Matahari di bulan Juni dan Desember, yang menandai hari terpanjang dalam setahun di belahan bumi utara dan hari terpendek di belahan bumi selatan.
Makna Solstis dan Penyebabnya
Istilah solstis berasal dari bahasa Latin sol (matahari) dan sistere (berhenti), yang merujuk pada momen ketika pergerakan semu matahari ke utara atau selatan tampak berhenti sebelum berbalik arah. Sepanjang tahun, titik matahari tepat di atas mumi bergerak dari selatan ke utara dan sebaliknya.
Solstis adalah momen ketika matahari mencapai posisi paling utara atau selatan relatif terhadap bumi. Inilah titik hari terpanjang dan hari terpendek dalam setahun
Pada solstis Juni, pergerakan tersebut mencapai titik paling utara, lalu mulai bergerak kembali ke selatan. Pergerakan ini terjadi karena sumbu Bumi miring sekitar 23,4 derajat terhadap bidang orbitnya mengelilingi matahari. Demikian sebaliknya yang terjadi di Desember.
Perubahan arah ini juga terlihat dari posisi matahari terbit dan terbenam yang perlahan bergeser ke utara hingga hari solstis, sebelum kembali bergerak ke selatan.
Foto: earthsly.org
Solstice geometry
Solstis Juni: Hari Terpanjang di Utara, Terpendek di Selatan
Pada solstis Juni, belahan bumi utara menerima paparan sinar matahari paling lama karena posisinya sedang condong ke arah matahari.
Kondisi ini menjadikan hari tersebut sebagai hari terpanjang dalam setahun di wilayah utara khatulistiwa. Dampaknya semakin terasa di lintang tinggi. Di daerah tropis, panjang siang hanya sedikit melebihi 12 jam, di wilayah sedang jauh lebih panjang, sementara kawasan Lingkar Arktik mengalami midnight sun, ketika Matahari tidak terbenam sama sekali.
Solstis Juni menjadi hari terpendek dalam setahun di belahan bumi selatan. Semakin jauh dari khatulistiwa, durasi siang semakin singkat. Di wilayah Lingkar Antartika, Matahari bahkan tidak terbit sama sekali, menciptakan fenomena malam kutub.
Meski banyak orang menganggap 21 Juni sebagai tanggal tetap titik balik Matahari Juni, kenyataannya solstis Juni bisa terjadi antara 20 hingga 22 Juni, tergantung zona waktu dan perhitungan astronomi.
Titik balik di Jakarta terjadi pada Minggu, 21 Juni 2026 pukul 15.24 WIB, yang setara dengan 08.24 UTC. Momen ini menandai hari terpanjang di belahan Bumi utara, sementara belahan selatan mengalami hari terpendek. Di sekitar waktu tersebut, terjadi perubahan durasi siang dan malam, termasuk pergeseran waktu Matahari terbit dan terbenam.
Solstis Desember: Hari Terpanjang di Selatan, Terpendek di Utara
Solstis Desember terjadi setiap tahun sekitar 21-22 Desember, saat Matahari berada tepat di atas Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn). Fenomena astronomi ini menandai perbedaan ekstrem durasi siang dan malam antara belahan bumi Utara dan selatan.
Di Belahan bumi utara, Solstis Desember menjadi momen hari terpendek dalam setahun. Matahari berada pada posisi terendah di langit, membuat durasi siang sangat singkat dan menandai dimulainya musim dingin secara astronomi.
Sebaliknya, belahan bumi selatan, termasuk Indonesia, mengalami hari terpanjang. Matahari berada lebih lama di atas cakrawala, sehingga wilayah selatan khatulistiwa memasuki musim panas secara astronomi.
Namun, dampak Solstis Desember di Indonesia relatif terbatas. Karena letaknya yang dekat dengan khatulistiwa, perbedaan panjang siang dan malam tidak terlalu ekstrem. Selisih durasi siang-malam hanya sekitar 20-30 menit, jauh lebih kecil dibandingkan kawasan lintang tinggi seperti Eropa atau Amerika Utara.
Sejarah Solstis
Bagi kita yang hidup di dunia modern, titik balik matahari adalah momen untuk mengingat rasa hormat dan pemahaman masyarakat kuno terhadap langit. Sekitar 5.000 tahun lalu, manusia menempatkan batu-batu raksasa membentuk lingkaran di sebuah dataran luas di wilayah yang kini dikenal sebagai Inggris, dan menyelaraskannya dengan matahari terbit saat titik balik matahari Juni.
Kita mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahami makna Stonehenge. Namun, jelas bahwa pengetahuan semacam ini tidak terbatas pada satu wilayah saja. Pada periode yang hampir sama ketika Stonehenge dibangun di Inggris, dua piramida besar dan kemudian Sphinx juga didirikan di pasir Mesir. Jika Anda berdiri di dekat Sphinx pada saat titik balik matahari musim panas dan memandang ke arah dua piramida tersebut, Anda akan melihat matahari terbenam tepat di antara keduanya.
Setiap tahun, ribuan orang berkumpul di Stonehenge untuk merayakan titik balik matahari dan ekuinoks, menunggu fajar menyingsing sebagai simbol pergantian musim.
Foto: Summer Solstice (REUTERS/Hannah McKay)
The sun rises as revellers welcome in the Summer Solstice at the Stonehenge stone circle, in Amesbury, Britain June 21, 2019. REUTERS/Hannah McKay
Pada saat solstis, matahari tampak tepat berada di atas kepala pada tengah hari jika diamati dari wilayah Garis Balik Utara (Tropic of Cancer), yang terletak pada lintang 23,5° LU.
Fakta ini dimanfaatkan oleh astronom Yunani kuno Eratosthenes sekitar 200 SM untuk menghitung jari-jari Bumi untuk pertama kalinya. Ia mengetahui bahwa pada pertengahan musim panas, Matahari tampak tepat di atas kepala di kota Swenet di Mesir (kini Aswan), karena cahaya Matahari dapat menembus hingga dasar sumur-sumur yang dalam.
Eratosthenes kemudian melakukan perjalanan ke Alexandria, di pesisir utara Mesir, yang berjarak sekitar 5.000 stadion dari Swenet. Di sana, ia menggunakan tongkat yang ditancapkan ke tanah dan menemukan bahwa Matahari berada sekitar 7 derajat dari titik zenit pada pertengahan musim panas. Ini berarti bahwa jarak 5.000 stadion di permukaan Bumi setara dengan 7 derajat kelengkungan Bumi.
Berkat percobaan ini, bangsa Yunani kuno telah mengetahui bahwa Bumi berbentuk bulat dan bahkan memiliki perkiraan yang cukup akurat tentang ukurannya, jauh sebelum manusia berhasil mengelilingi Bumi.
(mae/mae)
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339916/original/010495200_1757135510-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-108.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)






