Investor Ancang-Ancang, Ini Deretan Sentimen Penting Pekan Depan

9 hours ago 4

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

22 February 2026 19:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri tertuju pada arah likuiditas perbankan. Dari luar negeri, investor menghadapi kombinasi inflasi produsen Amerika Serikat, kekuatan sektor industri, hingga memanasnya risiko geopolitik. Pergerakan pasar berpotensi lebih aktif dibandingkan pekan sebelumnya.

Likuiditas Awal Tahun

Senin (23/2/2026), Bank Indonesia dijadwalkan merilis data Perkembangan Uang Beredar Januari 2026. Angka ini menjadi indikator awal kondisi likuiditas perekonomian pada tahun berjalan.

Pada Desember 2025, uang beredar luas (M2) tumbuh 9,6% secara tahunan menjadi Rp10.133,1 triliun, meningkat dari November sebesar 8,3%. Pertumbuhan didorong oleh kenaikan M1 sebesar 14% serta uang kuasi 5,5%.

Ekspansi juga terlihat dari pertumbuhan kredit yang mencapai 9,3% serta kenaikan tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 13,6%. Pasar akan melihat apakah dorongan likuiditas tersebut masih berlanjut atau mulai melambat setelah periode akhir tahun.

Perubahan arah M2 biasanya menjadi petunjuk awal tekanan inflasi maupun stabilitas suku bunga pasar uang.

Rilis Data Negeri Paman Sam

Dari eksternal, perhatian terbesar tertuju pada data inflasi produsen Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat (27/2/2026).

Inflasi produsen diperkirakan naik 0,3% secara bulanan setelah sebelumnya meningkat 0,5%. Inflasi inti produsen bahkan diproyeksi naik 0,2% setelah sebelumnya 0,3%.

Pergerakan inflasi di tingkat produsen sering menjadi sinyal awal tekanan harga konsumen. Jika angka lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve bisa kembali mundur.

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan yield obligasi global dan memberi tekanan pada mata uang emerging markets.

Selain itu, sejumlah indikator menunjukkan ekonomi Amerika masih relatif solid.

Pesanan pabrik Desember tercatat tumbuh 2,7% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,1%. Indeks aktivitas ekonomi Chicago diperkirakan berada di kisaran 0,3 setelah sebelumnya sempat negatif.

Data tersebut memberi gambaran bahwa sektor industri masih bertahan meski suku bunga tinggi.

Kondisi ekonomi yang kuat biasanya membuat kebijakan moneter bertahan ketat lebih lama.

Risiko Tarif AS Masuk Fase Baru

Risiko global juga datang dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

Situasi berkembang cepat setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif global yang sebelumnya diterapkan melalui International Emergency Economic Powers Act (IEEPA).

Putusan tersebut diambil dengan suara 6 banding 3 dan sekaligus menggugurkan sebagian besar tarif yang menjadi kebijakan utama pemerintahan Trump. Sepanjang 2025, tarif berbasis IEEPA tercatat menghasilkan penerimaan sekitar US$133,5 miliar. Bahkan nilai pengembalian dana kepada importir Amerika berpotensi mencapai sekitar US$170 miliar tergantung hasil proses hukum lanjutan.

Kekalahan hukum tersebut tidak menghentikan rencana proteksionisme Washington. Pemerintah AS menyiapkan kebijakan baru berupa tarif global sekitar 10% melalui Section 122 Trade Act 1974. Instrumen ini memberi kewenangan presiden untuk mengenakan pembatasan impor dalam kondisi defisit perdagangan atau tekanan ekonomi.

Perubahan dasar hukum tarif menciptakan ketidakpastian baru karena pelaku usaha harus menyesuaikan kembali kontrak perdagangan dan struktur biaya. Pasar biasanya merespons negatif fase transisi kebijakan seperti ini karena sulit memperkirakan tarif akhir yang berlaku.

Indonesia Masih dalam Masa Konsultasi

Indonesia termasuk negara yang masih berada dalam masa penyesuaian kebijakan tarif tersebut. Pemerintah memiliki waktu sekitar 60 hari untuk melakukan konsultasi sebelum implementasi penuh kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Tariff, sekitar 1.819 pos tarif ekspor Indonesia memperoleh fasilitas tarif nol persen, termasuk minyak sawit, kopi, kakao, karet, rempah-rempah, komponen elektronik, dan semikonduktor. Sebagian produk tekstil juga mendapat tarif nol persen melalui skema kuota.

Kesepakatan ini muncul setelah tarif awal yang dikenakan kepada Indonesia sempat mencapai sekitar 32%. Hasil negosiasi menurunkan tarif dasar menjadi sekitar 19%, dengan sebagian produk memperoleh tarif antara 0% hingga 10%.

Masa konsultasi 60 hari membuat kepastian tarif belum sepenuhnya terbentuk. Pemerintah Amerika masih harus berkoordinasi dengan parlemen, sementara Indonesia perlu membahas implementasi bersama DPR dan kementerian terkait.

Selama kepastian kebijakan belum tercapai, eksportir dan pelaku pasar cenderung menahan ekspansi karena risiko perubahan tarif masih terbuka. Kondisi seperti ini biasanya meningkatkan volatilitas nilai tukar dan saham berbasis ekspor.

Ketegangan geopolitik ikut memperkuat tekanan. Amerika Serikat memberi batas waktu sekitar 10-15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Pemerintah AS juga membuka kemungkinan serangan terbatas.

Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia naik sekitar 5,7% dalam sepekan terakhir.

Kenaikan energi biasanya berdampak langsung pada negara pengimpor minyak seperti Indonesia karena meningkatkan tekanan inflasi dan kebutuhan devisa.

Dengan kombinasi inflasi Amerika, kebijakan perdagangan, dan kenaikan harga energi, pasar global masih berada dalam fase sensitif. Arah rupiah dan aset domestik akan sangat dipengaruhi perubahan sentimen eksternal dalam waktu dekat.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
| | | |