Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan mendesak China untuk mengambil peran yang lebih besar sebagai mediator dalam kesepakatan nuklir guna mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS). Teheran bahkan membuka peluang bagi Beijing untuk mengambil alih pengawasan terhadap cadangan uranium yang diperkaya milik mereka di tengah kebuntuan negosiasi dengan pemerintahan Donald Trump.
Mengutip laporan Newsweek pada Senin (27/04/2026), meskipun gencatan senjata telah berhasil meredam perang yang sempat mengguncang ekonomi global akibat terganggunya ekspor minyak, pembicaraan antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu.
Kedua belah pihak bersikeras pada tuntutan maksimal, di mana pemerintahan Presiden Donald Trump menuntut penghentian total pengayaan uranium dan dukungan terhadap proksi regional, sementara Iran menuntut kompensasi atas pengeboman yang dilakukan AS dan Israel sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Filantropis dan pengusaha yang memiliki kontak dekat dengan negosiator Iran, Mohamed Amersi, mengungkapkan bahwa pihak Iran berada di bawah tekanan ekonomi yang luar biasa untuk mencapai kesepakatan. Amersi menyampaikan bahwa Iran secara terbuka menginginkan keterlibatan China yang lebih dalam untuk mengakhiri konflik tersebut.
"100%, mutlak, Iran menginginkan China. Jika China benar-benar ingin dihormati sebagai kekuatan yang sedang bangkit, mereka harus menyingsingkan lengan baju dan melakukan sesuatu. Ini bukan berarti memihak Iran. Mereka perlu menyampaikan kebenaran yang pahit kepada Iran dan juga pergi ke Amerika Serikat untuk mengatakan: 'Dengar, kami berada dalam posisi yang dipercaya oleh Iran'," kata Amersi.
Dalam sebuah konferensi di Center for China and Globalization (CCG) di Beijing pada akhir pekan lalu, Mohamed Amersi memaparkan rincian spesifik mengenai peran potensial China. Ia menyebut Beijing bisa mengambil alih penjagaan uranium tingkat tinggi Iran, yang saat ini hanya tinggal selangkah lagi menuju pembuatan senjata nuklir, serta memberikan jaminan pada kerangka kerja nuklir baru yang dikaitkan dengan investasi pembangunan di Iran.
Amersi menambahkan bahwa usulan ini dapat menjadi poin utama dalam pertemuan yang direncanakan antara Trump dan pemimpin China, Xi Jinping, pada bulan Mei mendatang. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri China, Departemen Luar Negeri AS, dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan komentar resmi.
Di sisi lain, Presiden Trump awal bulan ini sempat memberikan kredit kepada China karena telah membantu membawa Iran ke meja perundingan. Meskipun klaimnya mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz tidak sepenuhnya terjadi, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Xi Jinping akan menyambutnya dengan hangat dalam pertemuan mendatang.
"Kami bekerja sama dengan cerdas dan sangat baik!" ujar Trump.
Pendiri CCG, Henry Huiyao Wang, menilai posisi China sangat strategis untuk mengakhiri konflik tersebut karena Beijing kini merupakan pemangku kepentingan global yang terdampak langsung. Menurut Wang, stabilitas di Iran sangat penting bagi semua pihak, terutama dalam hal pasokan energi.
"Apa yang terjadi di Iran tidak benar-benar membantu siapa pun. Kita sekarang adalah pemangku kepentingan seperti seluruh dunia. Segalanya harus terkendali. Jika ada keinginan di kedua belah pihak untuk tenang-AS ingin tenang dan Iran juga ingin tenang-mungkin sangat mudah bagi China untuk menjadi pihak ketiga yang datang dan menengahi untuk menenangkan kedua belah pihak," ujar Wang.
Meskipun serangan Trump terhadap Iran dan sekutunya sempat mengganggu impor energi China, para pakar di Beijing melihat China justru muncul lebih kuat saat perang Iran berlarut-larut. Hal ini dikarenakan ketergantungan China terhadap minyak mentah mulai terkompensasi oleh masifnya penggunaan kendaraan listrik di dalam negeri.
Associate Professor di Beijing Language and Culture University, Shou Huisheng, menilai bahwa meskipun Iran dekat dengan China karena faktor energi, prioritas utama Beijing tetaplah menjaga hubungan dengan Washington agar tidak terjadi konflik besar antar kekuatan utama.
"Iran, tentu saja, sangat dekat dengan China. Tapi itu terutama karena energi. Di luar itu, saya tidak melihat hal lain yang sangat krusial bagi China untuk memegang hubungan yang sangat erat. Tidak ada alasan bagi China untuk membantu mereka, karena itu pasti akan menyakiti China dengan membuat Amerika marah. Iran, tidak peduli seberapa kritis Anda membicarakannya bagi China, AS lebih penting bagi China. Prioritas utama bagi China adalah berurusan dengan AS dan memastikan kedua negara tidak akan memiliki masalah besar," tutur Huisheng.
Sementara itu, Direktur Pusat Keamanan dan Strategi Internasional di Universitas Tsinghua, Da Wei, berpendapat bahwa dinamika kekuatan telah bergeser. Ia menilai posisi internasional AS justru melemah akibat kebijakan perang pemerintahan Trump, yang secara tidak langsung membuat China merasa lebih aman dari tekanan Barat dibandingkan dua tahun lalu.
"Mungkin Anda bisa mengatakan China berada dalam posisi yang lebih kuat. Pandangan saya adalah pemerintahan Trump justru memperlemah posisi internasional mereka sendiri dalam perang ini. Saya pikir Pax Americana telah diakhiri oleh Presiden Trump. Ini bukan hanya karena perang ini; banyak hal terjadi dalam beberapa tahun terakhir," kata Wei.
Pertemuan puncak antara Trump dan Xi di Beijing diperkirakan akan menjadi penentu arah konflik ini. Shou Huisheng menambahkan bahwa kebuntuan di Iran justru menempatkan Trump pada posisi tawar yang lebih rendah saat berhadapan dengan China.
"Situasi di Iran membuat Trump berada dalam posisi yang lebih lemah. Semakin lama situasi ini berjalan, semakin lemah posisi Trump dalam hal bernegosiasi dengan China," lanjut Huisheng.
Terkait hal tersebut, Henry Huiyao Wang dari CCG menegaskan bahwa AS saat ini membutuhkan bantuan China untuk keluar dari kesulitan diplomatik di Timur Tengah. Ia menyiratkan adanya kemungkinan barter kepentingan antara pelonggaran tekanan AS terhadap China dengan bantuan Beijing dalam menstabilkan situasi Iran.
"Trump sekarang berada dalam kesulitan. Saya pikir mereka membutuhkan China untuk benar-benar berada di pihak mereka, untuk benar-benar menenangkan kedua belah pihak. Dan saya pikir jika AS dapat merelaksasi tekanan mereka terhadap China, China tentu bersedia melakukan lebih banyak bantuan untuk menstabilkan kesulitan AS. Maksud saya, kita perlu saling membantu," pungkas Wang.
(tps/tps)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5455820/original/092741900_1766735258-1000332649.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400289/original/016439100_1681829426-000_334Q8WU.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457680/original/088321900_1767015163-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-4.jpg)



