Jadi Jangkar Ekonomi RI, Seberapa Perkasa Manufaktur Kita?

1 hour ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

12 February 2026 11:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pengolahan kembali menjadi jangkar pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi lapangan usaha. Dari industri makanan-minuman hingga mesin, laju sejumlah subsektornya pun mencerminkan aktivitas yang makin bertumbuh.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Kamis (5/2/2026). Dalam rilis tersebut, BPS mencatat ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11% (yoy). Sementara pada kuartal IV-2025, ekonomi tumbuh 5,39% (yoy) dan secara kuartalan (qoq) naik 0,86%.

Angka ini menegaskan pertumbuhan Indonesia masih bertahan di atas 5% dan akselerasi terlihat pada akhir tahun, seiring menguatnya aktivitas ekonomi di kuartal IV-2025.

Industri Pengolahan Tumbuh Tinggi

Di dalam struktur PDB berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan kembali mencatatkan posisinya sebagai sektor dengan porsi terbesar dalam perekonomian Indonesia.

Kontribusi industri pengolahan tercatat mencapai 19,20% pada kuartal IV-2025 dan 19,07% sepanjang 2025. Porsi yang besar ini mencerminkan kuatnya peran manufaktur sebagai jangkar utama aktivitas ekonomi, karena nilai tambah yang dihasilkan masih menjadi yang terbesar dibanding sektor lain.

Dari sisi kinerja, industri pengolahan menunjukkan pertumbuhan yang solid. Pada kuartal IV-2025, sektor ini tumbuh 5,4% secara tahunan. Ini adalah angka tetringgi sejak kuartal IV-2022 atau tiga tahun terakhir. Untuk setahun penuh 2025 mencatat pertumbuhan 5,3% secara tahunan.

Sebagai informasi, industri pengolahan merupakan kegiatan usaha yang mengubah bahan mentah menjadi barang jadi maupun setengah jadi. Di dalamnya, industri pengolahan terbagi menjadi industri batubara dan pengilangan migas serta industri pengolahan nonmigas.

Industri batubara dan pengilangan migas pun tumbuh pesar di 2025, dengan pertumbuhan sebesar 6,92%. Dengan kontribusi sebesar 1,78% dari total industri pengolahan.

Libur Akhir Tahun Dorong Pertumbuhan Makanan dan Minuman

Di kelompok industri pengolahan nonmigas, subsektor makanan dan minuman masih menjadi penopang utama. Kontribusinya tercatat sebesar 7,13% pada 2025, menjadikannya motor terbesar di dalam industri pengolahan nonmigas.

Kinerja pertumbuhannya juga relatif kencang. Sepanjang 2025, industri makanan dan minuman tumbuh 6,38% secara tahunan, sekaligus menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak 2020 atau pasca pandemi Covid-19. Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan subsektor ini bahkan mencapai 6,81% secara tahunan, menjadi yang tertinggi sejak kuartal IV-2022.

Menguatnya industri makanan dan minuman di akhir tahun sejalan dengan pola musiman konsumsi domestik. Kuartal terakhir cukup lazim menjadi salah satu puncak belanja masyarakat karena ditopang momen libur Natal dan Tahun Baru.

Tren ini juga selaras dengan sinyal dari Mandiri Spending Index (MSI) yang menggambarkan aktivitas belanja masyarakat yang meningkat di akhir tahun.

Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional Makin Bergairah

Selain makanan dan minuman, subsektor kimia, farmasi, dan obat tradisional menjadi kontributor kedua di dalam industri pengolahan nonmigas, dengan kontribusi sebesar 1,83% pada 2025.

Subsektor ini mencakup pembuatan produk farmasi dasar dan berbagai produk farmasi, mulai dari obat jadi dan produk medis, produk diagnostik, hingga obat tradisional atau jamu, suplemen kesehatan, serta produk botanikal untuk kebutuhan farmasi.

Dari sisi kinerja, subsektor ini mencatat akselerasi kuat. Pada kuartal IV-2025, industri kimia tumbuh 8,68% secara tahunan, sedangkan sepanjang 2025 pertumbuhannya mencapai 8,35% secara tahunan, menjadi laju pertumbuhan tahunan terbesar sejak 2021 atau dalam empat tahun terakhir.

Penguatan ini terjadi di tengah dorongan penguatan industri kesehatan sekaligus masih kuatnya perhatian pada pengurangan ketergantungan bahan baku obat impor yang selama ini mendominasi struktur pasok sektor farmasi nasional.

Permintaan Logam Mulia Menguat, Industri Logam Dasar Catat Rekor Pertumbuhan

Subsektor lain yang juga mencuri perhatian adalah industri logam dasar. Sepanjang 2025, subsektor ini tumbuh 15,71% secara tahunan, menjadi laju pertumbuhan tertinggi setidaknya sejak 2010 atau dalam 15 tahun terakhir.

Kinerja kencang ini turut dipengaruhi kuatnya permintaan terhadap logam, termasuk logam mulia. Dorongan tersebut tercermin dari tren kenaikan harga emas dan perak sepanjang 2025.

Dengan kenaikan harga kedua logam mulai tersebut di sepanjang 2025 mencapai 64% dan 146%. Hal tersebut tentunya ikut mengerek aktivitas di rantai industri logam dasar. Terutama pada kelompok logam dasar mulia dan logam dasar bukan besi lainnya.

Pada kuartal IV-2025, industri logam dasar tetap ekspansif dengan pertumbuhan 14,76% secara tahunan. Kontribusinya di dalam industri pengolahan nonmigas tercatat sebesar 1,15%.

Industri Mesin dan Perlengkapan

Subsektor industri mesin dan perlengkapan menjadi yang pertumbuhannya paling tinggi di antara subsektor industri pengolahan. Pada kuartal IV-2025, subsektor ini melesat 26,6% secara tahunan, sementara sepanjang 2025 tumbuh 13,98% secara tahunan.

Industri ini mencakup kegiatan pembuatan berbagai jenis mesin dan peralatan untuk kebutuhan produksi maupun operasional, mulai dari mesin industri dan perlengkapan pabrik, komponen dan suku cadang, hingga peralatan mekanik yang digunakan di sektor manufaktur, konstruksi, pertambangan, dan berbagai kegiatan usaha lainnya.

Dengan perannya sebagai pemasok peralatan produksi, kinerja subsektor ini biasanya ikut menguat ketika aktivitas investasi dan ekspansi kapasitas di sektor-sektor terkait sedang meningkat.

Ke depan, momentum penguatan industri pengolahan ini perlu dijaga agar menjadi pijakan pertumbuhan yang lebih kuat pada 2026.

Pasalnya, kemajuan industri pengolahan sangat menentukan kecepatan ekonomi sebuah negara untuk maju. Industri ini juga menjadi kunci bagi terciptanya lapangan pekerjaan formal.

Konsistensi permintaan domestik memang penting, tetapi dorongan yang lebih berkelanjutan akan datang dari investasi, ekspansi kapasitas produksi, serta penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir, termasuk pengurangan ketergantungan bahan baku impor di subsektor strategis.

Jika suasana usaha tetap kondusif dan produktivitas manufaktur terus naik, industri pengolahan berpeluang tetap menjadi jangkar ekonomi sekaligus menjaga laju pertumbuhan Indonesia tetap melaju kencang sepanjang 2026.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |