Kebutuhan LPG RI Mendadak Naik 26 Ribu Ton/Hari, Impor Melejit 84%

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kebutuhan harian Liquefied Petroleum Gas (LPG) mengalami peningkatan di awal tahun 2026 ini.

Tercatat, pada tahun 2025 kebutuhan LPG harian mencapai 25 ribu metrik ton per hari. Sementara data Februari 2026 mencapai 26 ribu ton per hari.

Untuk mendukung keamanan kebutuhan LPG tersebut, Indonesia masih mengandalkan porsi impor karena produksi domestik tercatat masih jauh di bawah angka kebutuhan harian masyarakat.

Hingga April 2026, impor LPG terbesar untuk RI didatangkan dari Amerika Serikat (AS) dengan volume 68,91%, dari Uni Emirat Arab dengan volume 11,83%, dan Arab Saudi dengan volume 7,36% dari total impor yang dilakukan.

Sisanya, Indonesia mengimpor LPG dari Qatar, Australia, Kuwait dan China.

"Dari grafik yang kami sampaikan terlihat bahwa produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan sehingga import LPG tetap mendominasi pasokan nasional," jelas Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam RDP bersama Komisi XII DPR, Kamis (9/4/2026).

Untuk menekan porsi impor, pemerintah juga melakukan pergeseran bahan baku nafta pada kilang domestik seperti RDMP Balikpapan untuk memperkaya produk LPG.

"Dengan seluruh langkah strategis mitigasi yang telah kami lakukan, dapat kami tegaskan bahwa pasokan BBM dan LPG nasional saat ini dalam kondisi aman," tandasnya.

Lewati masa sulit

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, bahwa Indonesia telah melewati masa sulit mengenai stok LPG. Sekarang cadangan LPG RI sudah berada di atas level 10 hari.

Menteri Bahlil meyakini, bahwa impor LPG dari beberapa negara sebentar lagi akan masuk ke Indonesia. "Masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4 (4 April 2026). Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari, sebentar lagi kapal kita masuk," terang Bahlil di Istana Negara, Rabu malam (8/4/2026).

Sesdirjen Migas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan terdapat pengalihan sumber impor LPG dari kawasan Timur Tengah ke negara-negara alternatif guna menghindari kendala distribusi di Selat Hormuz. Amerika Serikat kini menjadi salah satu sumber utama dalam daftar pemasok untuk menutupi tingginya ketergantungan impor LPG nasional.

"Kami mengalihkan sumber impor yang tadinya berasal dari negara Timur Tengah yang terkendala dengan masalah di selat hormuz menjadi ke negara-negara lain seperti Amerika, Afrika, Asia, dan negara-negara di ASEAN," ujarnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |