Jakarta, CNBC Indonesia - Kuba menghadapi krisis energi yang makin dalam seiring menipisnya pasokan minyak, yang menjadi tulang punggung kebutuhan listrik negara tersebut.
Melansir Reuters, pada akhir Maret, Amerika Serikat (AS) mengizinkan kapal tanker berbendera Rusia mengirim sekitar 700.000 barel minyak mentah ke Kuba. Pengiriman ini sempat mematahkan blokade minyak ketat yang membuat negara Karibia tersebut kekurangan bahan bakar selama berbulan-bulan.
Namun, berdasarkan perkiraan resmi dan rata-rata impor sebelumnya, pasokan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 7 hingga 10 hari atau hingga pertengahan April mendatang.
Sebagai negara yang memproduksi kurang dari sepertiga kebutuhan minyaknya, Kuba sangat bergantung pada impor energi. Selama ini, Venezuela dan Meksiko menjadi pemasok utama, tetapi keduanya mengalami kesulitan mempertahankan produksi dalam beberapa tahun terakhir.
Venezuela, yang selama lebih dari dua dekade menjadi pemasok utama, terakhir mengirim minyak ke Kuba pada Desember 2025. Sementara itu, pengiriman terakhir dari Meksiko tiba sekitar awal Januari 2026.
Situasi semakin rumit setelah militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, yang turut memengaruhi dinamika pasokan energi di kawasan.
Sepanjang Februari, hanya pengiriman kecil dari Jamaika yang masuk. Hingga akhirnya, Rusia mengirimkan pasokan terbatas pada akhir Maret.
Kondisi ini membuat sistem energi Kuba berada di ambang krisis. Jika pasokan kembali terhenti, pemadaman listrik besar-besaran hampir tak terhindarkan.
Kuba diketahui sangat bergantung pada minyak untuk pembangkit listrik termoelektrik, yang mengonsumsi bahan bakar dua kali lebih banyak dibandingkan seluruh penggunaan lainnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, kekurangan minyak mentah dan bahan bakar telah memicu kegagalan jaringan listrik. Sekitar 10 juta penduduk terdampak, dengan sebagian warga mengalami pemadaman hingga 16 jam per hari, termasuk di ibu kota Havana.
"Amerika perlu membiarkan kami hidup sedikit, membiarkan kami bernapas," ujar Ismael de la Luz (67), warga Havana. Ia menegaskan bahwa rakyat sipil menjadi pihak yang paling menderita akibat krisis ini. "Kami berada dalam situasi yang sangat buruk."
Krisis energi juga berdampak pada sektor kesehatan. Pejabat kesehatan Kuba memperingatkan meningkatnya risiko kematian, terutama bagi pasien kanker anak.
Di sisi lain, gangguan listrik turut memicu krisis air bersih. Warga harus mengantre untuk mendapatkan pasokan dari truk tangki setelah banyak jaringan air berhenti beroperasi akibat kekurangan listrik. Perusahaan air negara, Aguas de La Habana, mengonfirmasi bahwa operasional mereka terganggu.
Kondisi ini memicu gelombang protes di sejumlah wilayah. Pada 14 Maret, demonstran bahkan menyerang kantor Partai Komunis di Kuba tengah. Ini merupakan sebuah aksi penentangan publik yang jarang terjadi.
Berbeda dengan negara tetangga seperti Jamaika dan Republik Dominika yang telah mendiversifikasi sumber energi ke batu bara, gas alam, dan energi terbarukan, Kuba masih sangat bergantung pada minyak. Embargo perdagangan AS yang berlangsung lama turut membatasi kemampuan negara tersebut untuk beralih ke sumber energi alternatif.
Dengan pasokan yang semakin menipis dan ketergantungan tinggi pada impor, krisis energi Kuba diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)

