Klaim Trump Terbantahkan, Iran Masih Punya Drone Canggih Buat Hajar AS

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran menyatakan telah menggunakan sistem pertahanan udara baru untuk menembak jatuh pesawat nirawak atau drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat (AS) di dekat Selat Hormuz awal pekan ini. Insiden ini menunjukkan Teheran masih mempertahankan kapasitasnya untuk membalas serangan AS dan Israel meskipun situs militernya telah digempur selama berbulan-bulan.

Media Iran melaporkan bahwa drone tersebut jatuh di dekat Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Pencegatan tersebut menandai penggunaan tempur pertama dari sistem yang dikembangkan secara lokal bernama Arash-e Kamangir. Hingga kini, belum ada pembuktian independen mengenai klaim sistem pencegatan baru milik Iran tersebut.

Kehilangan drone AS di dekat salah satu rute pelayaran paling sensitif di dunia ini terjadi saat Washington dilaporkan meluncurkan serangan baru ke situs militer Iran di dekat Bandar Abbas. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kemudian menyatakan telah menyerang pangkalan udara Amerika sebagai bentuk pembalasan.

Mengutip Al Jazeera, Jumat (29/5/2026), klaim Iran ini memicu pertanyaan mengenai seberapa besar kemampuan pertahanan udara Iran yang tersisa dan apakah Teheran mampu menahan serangan berikutnya jika negosiasi gencatan senjata gagal.

Mengenai sistem tersebut, kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa Arash-e Kamangir memiliki kemampuan mendeteksi teknologi siluman (stealth), meskipun hanya sedikit rincian teknis yang diberikan.

Media Iran menyebutnya sebagai peringatan bagi pesawat musuh yang beroperasi di dekat ruang udara dan perbatasan maritim Iran, terutama saat Teheran berupaya memanfaatkan kendali parsialnya atas selat tersebut dalam negosiasi gencatan senjata dengan AS.

"Operasi ini, yang dilakukan dengan menggunakan sistem dengan kemampuan tersembunyi, adalah pesan yang jelas dan tegas dari Iran," demikian pernyataan pejabat yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip dari Al Jazeera.

Nama sistem pencegat baru ini dalam bahasa Farsi berarti "Arash sang pemanah", yang diambil dari pahlawan mitologi Persia. Meskipun klaim kemajuan militer Iran ini sulit diverifikasi secara independen, para ahli menilai konsep di balik sistem tersebut sangat masuk akal karena Iran berinvestasi besar-besaran pada sistem pertahanan seluler yang murah dan diproduksi di dalam negeri untuk mengancam drone tanpa bergantung pada radar tetap yang mudah dideteksi.

Dosen senior di sekolah studi keamanan King's College London, Mark Hilborne, menilai meskipun informasi terverifikasi mengenai Arash-e Kamangir sangat sedikit, serangan ini cocok dengan pola yang lebih luas. Hilborne menambahkan bahwa sistem yang murah dan sederhana seperti ini mampu menempatkan sistem AS yang jauh lebih kompleks dalam risiko tinggi.

"Iran telah menjadi cukup mandiri dalam berbagai bentuk desain rudal dan, seperti Ukraina, telah cerdas dalam mengubah ekonomi peperangan. Sistem yang murah dan sederhana dapat menahan sistem yang jauh lebih kompleks dalam risiko," kata Mark Hilborne kepada Al Jazeera.

Jatuhnya drone Reaper ini dinilai dapat memaksa AS untuk lebih bergantung pada rudal mahal seharga jutaan dolar daripada menggunakan drone saat menyerang Iran. Sementara itu, Teheran dapat terus menggunakan drone Shahed yang relatif murah untuk diproduksi, sehingga berpotensi memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang bagi Teheran dalam konflik yang berkepanjangan.

Analis keamanan dari Horizon Engage, Alex Almeida, menduga bahwa Arash-e Kamangir bukanlah senjata revolusioner yang benar-benar baru, melainkan langkah lanjutan dari peralihan Iran ke pertahanan udara seluler berbiaya rendah. Almeida menduga sistem ini menggunakan panduan elektro-optik atau pencari panas yang mudah dipasang dan diluncurkan.

"Saya menduga ini adalah pengembangan lebih lanjut dari salah satu sistem tersebut. Sistem ini tidak bergantung pada panduan tetap dari situs radar pertahanan udara tradisional. Ini mungkin menggunakan semacam panduan elektro-optik atau pencari panas-pada dasarnya sistem SAM (surface-to-air missile) portabel yang mudah diatur dan diluncurkan," ujar Alex Almeida kepada Al Jazeera.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |