Megaproyek Raksasa Telan Uang Rp 10.000 Triliun, Hasilnya Ditagih

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Belanja besar-besaran untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh raksasa teknologi dunia mulai dipertanyakan investor. Setelah tiga tahun menggelontorkan ratusan miliar dolar, pasar kini menuntut kepastian, apakah investasi raksasa tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan.

Laporan keuangan kuartalan Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon yang dirilis Rabu waktu AS menjadi momen krusial. Hasilnya akan menunjukkan apakah pengeluaran AI besar bisa mendorong pertumbuhan bisnis cloud dan iklan digital untuk membenarkan biaya yang dikeluarkan.

Empat perusahaan tersebut diperkirakan menghabiskan sekitar US$600 miliar atau lebih dari Rp10.000 triliun tahun ini untuk pengembangan AI.

Pengeluaran bersejarah ini menekan arus kas dan mulai menguji kesabaran investor Wall Street, meski harga saham masih bertahan karena ekspektasi keuntungan jangka panjang.

Dampak jor-joran AI ini mulai terlihat. Amazon dan Meta, induk Instagram, telah mengumumkan pemutusan hubungan kerja yang memengaruhi ribuan karyawan. Microsoft bahkan meluncurkan program buyout karyawan pertama dalam lebih dari 50 tahun.

"Apa yang dicari investor, termasuk kami, adalah berapa pengembalian dari seluruh belanja modal (capex) ini?" kata Joe Maginot, manajer portofolio saham kapitalisasi di Madison Investments, dikutip dari Reuters, Rabu (29/4/2026).

"Jelas ini membutuhkan waktu, tetapi, ini adalah bisnis yang sebelumnya menghasilkan arus kas bebas yang besar, dan hari ini hampir seluruh arus kas operasional terserap untuk capex. Jadi, ekonomi bisnisnya sedang berubah," imbuhnya.

Perubahan itu tercermin pada bisnis cloud yang menjadi tulang punggung monetisasi AI. Pada kuartal Januari-Maret, pertumbuhan diperkirakan meningkat tipis, Amazon Web Services tumbuh 25%, Microsoft Azure 40%, dan Google Cloud 50,1%.

Secara keseluruhan, pendapatan perusahaan teknologi besar tetap solid. Penjualan Alphabet diperkirakan naik 18,7% menjadi US$107,06 miliar. Amazon diproyeksikan tumbuh 13,9% menjadi US$177,30 miliar, sementara Microsoft meningkat 16,2% menjadi US$81,39 miliar.

Meta sendiri diperkirakan mencatat lonjakan pendapatan paling besar, yakni 31% menjadi US$55,45 miliar. Pertumbuhan tercepat dalam lebih dari empat tahun itu didorong peningkatan efektivitas iklan berbasis AI serta posisi perusahaan di pasar digital.

Sorotan utama tertuju pada Microsoft. Saham perusahaan tersebut tertinggal dibanding pesaing dan mencatat kinerja kuartalan terburuk sejak krisis keuangan 2008.

Investor juga mulai meragukan kemampuan Microsoft memonetisasi Copilot. Dari lebih dari 450 juta pelanggan enterprise, hanya 3,3% yang berlangganan asisten AI tersebut dengan biaya US$30 per bulan.

Di saat bersamaan, model AI dari mitra Microsoft seperti Anthropic berpotensi menggantikan perangkat lunak tradisional yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan perusahaan. Microsoft mencoba mengubah ancaman itu menjadi peluang dengan mengintegrasikan model AI pesaing ke dalam ekosistemnya.

Sementara itu, kemitraan Microsoft dengan OpenAI juga tidak lagi eksklusif. Meski perusahaan akan menerima bagian 20% dari pendapatan OpenAI hingga 2030, OpenAI kini bebas bekerja sama dengan penyedia cloud pesaing seperti Amazon.

"Perusahaan harus menjelaskan mengapa model bisnis mereka tidak akan terganggu secara signifikan oleh AI dan mengapa investasi serta hubungan mereka dengan OpenAI akan membuat mereka tetap kompetitif," kata Melissa Otto, kepala riset di S&P Global Visible Alpha.

"Nadella harus menjawab itu." imbuhnya.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |