Megaproyek Triliuan Batal, Bawa Petaka Besar Buat Manusia

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek bernilai miliaran dolar milik Amazon, Microsoft, dan Google dilaporkan batal dibangun setelah mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Kini, giliran investor yang mulai teriak karena dampak penggunaan air dan listrik dinilai berpotensi menjadi risiko besar.

Tekanan itu muncul menjelang rapat umum pemegang saham tahunan perusahaan teknologi global. Para investor meminta transparansi lebih rinci mengenai konsumsi air, kebutuhan listrik, hingga strategi konservasi yang dilakukan untuk menopang lonjakan kebutuhan komputasi, terutama akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Kekhawatiran investor ink bukan tanpa alasan. Pusat data dikenal sebagai fasilitas yang sangat haus energi sekaligus air. Data dari Mordor Intelligence menunjukkan pusat data di Amerika Utara mengonsumsi hampir 1 triliun liter air sepanjang 2025. Angka tersebut setara dengan kebutuhan tahunan Kota New York.

Lonjakan kebutuhan energi juga menjadi perhatian. Trillium Asset Management mengajukan resolusi kepada Alphabet untuk menjelaskan bagaimana perusahaan tetap bisa mencapai target iklimnya, di tengah kebutuhan listrik pusat data yang terus meningkat.

Alphabet sebelumnya berjanji memangkas emisi hingga 50% dan beralih ke energi bebas karbon pada 2030.

Namun, investor mencatat emisi perusahaan justru meningkat 51%. Kondisi ini membuat pemegang saham mempertanyakan kesiapan raksasa teknologi dalam menjaga komitmen lingkungan di tengah ekspansi AI.

Tekanan serupa juga mulai diarahkan ke perusahaan lain di ekosistem AI. Green Century Capital Management bahkan mempertimbangkan resolusi kepada Nvidia untuk memastikan keuntungan jangka pendek dari AI tidak menciptakan risiko iklim dan finansial jangka panjang.

Selain listrik, konsumsi air juga menjadi isu penting. Laporan lingkungan menunjukkan penggunaan air sejumlah raksasa teknologi meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, penggunaan air oleh salah satu perusahaan meningkat lebih dari 50% dalam empat tahun terakhir, cukup untuk memasok puluhan ribu rumah tangga selama setahun.

Meski perusahaan teknologi mulai menggunakan sistem pendingin tertutup yang lebih hemat air, investor menilai data yang disampaikan masih belum transparan.

Sebagian hanya melaporkan penggunaan total, sebagian lain hanya per unit daya, sementara data tingkat lokasi yang berdampak langsung ke masyarakat belum diungkap secara detail.

Investor menilai transparansi lokasi penting karena proyek pusat data dapat menekan pasokan air dan listrik di wilayah tertentu. Risiko tersebut juga bisa berdampak pada biaya operasional hingga konflik dengan komunitas lokal.

Analis teknologi Calvert Research and Management Jason Qi mengatakan perusahaan teknologi belum cukup terbuka soal dampak konsumsi air terhadap masyarakat sekitar. Padahal, ekspansi pusat data skala besar berpotensi membebani sumber daya lokal.

"Kami belum melihat pengungkapan yang cukup tentang konsumsi air dan dampaknya terhadap komunitas lokal," kata Qi, dikutip dari Reuters, Selasa (7/4/2026).

Di sisi lain, pelaku industri pusat data mengakui keterlibatan komunitas kini menjadi prioritas.

"Transparansi terkait penggunaan energi dan air penting agar warga memahami proyek ini tidak akan membebani sumber daya mereka dan melindungi mereka sebagai pelanggan listrik," kata Wakil Presiden Data Center Coalition, Dan Diorio.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |