Militer AS Ngaku Bisa Keteteran Lawan Iran, Tak Kuat Hadapi Alat Ini

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat tinggi militer Amerika Serikat (AS) memberikan peringatan serius kepada para anggota parlemen dalam sebuah pengarahan tertutup pada Selasa waktu setempat. Militer AS menyatakan kemungkinan besar mereka tidak akan mampu menembak jatuh setiap drone Iran yang diluncurkan ke instalasi dan aset militer AS dalam serangan balasan.

Berdasarkan laporan dua orang yang mengetahui masalah tersebut, para pejabat yang dipimpin oleh Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan bahwa Iran telah mengerahkan ribuan drone serang sekali jalan. Meskipun militer AS memiliki kapasitas untuk menjatuhkan sebagian besar drone tersebut, mereka mengakui tidak bisa menghalau seluruh rentetan serangan yang masuk.

Sebagai dampaknya, dalam pengarahan rahasia di Capitol Hill tersebut, para pejabat menyatakan bahwa fokus utama AS kini beralih pada penghancuran lokasi peluncuran drone dan rudal konvensional secepat mungkin. Informasi ini disampaikan oleh sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas detail yang sangat sensitif.

Iran diketahui meluncurkan drone Shahed sekali jalan yang berbiaya rendah sebagai bentuk pembalasan terhadap serangan AS. Dengan terbang rendah dan lambat, drone-drone ini dinilai lebih mampu menghindari sistem pertahanan udara konvensional dibandingkan dengan rudal balistik.

Seorang pejabat senior pemerintahan menyatakan bahwa strategi drone Iran yang tampak ingin memaksa AS mengorbankan pencegat Patriot dan Thaad yang canggih adalah langkah yang salah dan tidak berhasil. Hal ini dikarenakan AS telah menjatuhkan drone-drone tersebut dengan berbagai metode pengukuran yang berbeda.

Meski demikian, sejumlah petinggi Demokrat di Kongres tetap menyatakan kekhawatiran bahwa AS telah menghabiskan terlalu banyak stok pencegat untuk bertahan dari serangan rudal balistik Iran. Jenderal Caine mengakui kekhawatiran tersebut secara internal, walaupun di depan publik ia tetap menyatakan keyakinannya terhadap level stok persenjataan yang ada.

"Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas yang sedang dihadapi, baik untuk serangan maupun pertahanan," ujar Caine dalam konferensi pers di Pentagon pada Rabu pagi tanpa memberikan rincian spesifik dikutip The Guardian, Kamis (5/3/2026).

Tingginya intensitas penggunaan senjata ini memakan biaya yang sangat mahal. Pada hari-hari pertama konflik, AS menghabiskan sekitar US$2 miliar atau hampi Rp34 triliun per hari, meskipun angka tersebut kini turun menjadi sekitar US$1 miliar dan diperkirakan akan terus menurun seiring berlanjutnya konflik.

Pihak Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai hal ini. Sementara itu, juru bicara Kepala Staf Gabungan menolak berkomentar dengan alasan keamanan operasional yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Donald Trump melalui media sosial pada Senin malam menulis bahwa AS dapat mempertahankan tingkat penggunaan senjata tersebut tanpa batas waktu. Ia menyebut bahwa stok amunisi kelas menengah dan menengah atas militer AS secara praktis tidak terbatas, meski ia mengakui senjata di level tertinggi tidak berada di posisi yang diinginkan.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan dalam pengarahan pers hari Rabu bahwa AS memiliki lebih dari cukup senjata untuk melakukan perang berkepanjangan dengan Iran. Ia juga mengklaim bahwa unggahan Trump tersebut sebenarnya adalah kritik terhadap keputusan pemerintahan Biden sebelumnya yang mengirimkan senjata ke Ukraina.

"Kami memiliki cadangan senjata di tempat-tempat yang bahkan tidak diketahui oleh banyak orang di dunia ini. Presiden ingin menunjukkan bahwa, sayangnya, kita memiliki pemimpin yang sangat bodoh dan tidak kompeten di Gedung Putih ini selama empat tahun yang memberikan banyak senjata terbaik kita secara cuma-cuma," tegas Leavitt.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |