Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
20 April 2026 17:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia masih menjadi salah satu raksasa minyak dunia dan diuntungkan oleh perang Iran. Produksi tetap berjalan, ekspor terus mengalir, kapal tanker masih berlayar dari Baltik hingga Pasifik.
Sejumlah negara Asia Tenggara mulai memburu minyak Rusia di tengah krisis energi akibat perang AS-Israel melawan Iran yang sudah memasuki pekan kedelapan.
Setelah Filipina, Vietnam, dan Malaysia, Indonesia juga mendekati Rusia untuk mengamankan pasokan.
India sudah terlebih dahulu melipatgandakan impor minyak dari Rusia sementara banyak negara Eropa dan Barat yang dulu menjatuhkan sanksi kini ikut berebut minyak Negeri Beruang Merah.
Lonjakan minat ini dipicu kenaikan harga minyak global akibat gangguan di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% pengiriman minyak dunia.
Krisis Minyak di Rusia Sudah Berlalu?
Banyaknya permintaan minyak Rusia tak bisa dilepaskan dari dilepaskannya sanksi perdagangan negara tersebut oleh Presiden Amerika Serikat (AS0 Donald Trump. Pencabutan sanksi ini membangkitkan kembali kehidupan sektor energi Rusia yang mengalami tekanan hebat setelah sanksi karena perang Rusia-Ukraina.
Laporan Russian Oil Tracker edisi Desember 2025 menggambarkan tekanan yang membuat minyak Rusia harus dilepas agar tetap terserap pasar.
Di saat yang sama, awal 2026 dibuka dengan lonjakan harga global akibat memanasnya Selat Hormuz. Kombinasi ini membuat posisi Rusia menarik: pemasukan tertekan pada 2025, tetapi gejolak geopolitik memberi peluang harga lebih tinggi pada 2026.
Pada perdagangan Senin pagi 20 April 2026, harga minyak dunia melonjak tajam setelah Selat Hormuz kembali terganggu.
Menurut data Refinitiv, Brent naik ke US$94,99 per barel, melesat 5,10% dari penutupan Jumat. WTI menanjak ke US$88,77, naik 5,87%.
Reuters melaporkan pasar bereaksi setelah Amerika Serikat dan Iran saling menuduh melanggar gencatan senjata, disertai gangguan terhadap kapal di kawasan tersebut. Hormuz adalah jalur strategis tempat sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasa melintas. Saat rute ini terganggu, premi risiko langsung masuk ke harga.
Bagi Rusia, Lonjakan Harga Global Seperti Ini Memberi Napas Tambahan
Sepanjang 2025, problem utama Moskow bukan volume semata, tetapi harga jual.
Dalam skenario dasar laporan tersebut, pendapatan ekspor minyak Rusia diperkirakan turun ke US$156 miliar pada 2025 dari US$189 miliar pada 2024. Untuk 2026, pendapatan diproyeksikan turun lagi ke US$106 miliar jika tekanan sanksi berlanjut. Artinya, setiap kenaikan brent menjadi faktor penting karena dapat memperbaiki pendapatan negara meski diskon terhadap minyak Rusia masih besar.
Foto: Statistica
Pembeli minyak Rusia
Dari sisi fisik, Rusia masih mengekspor dalam skala raksasa.
Melansir CEIC ekspor minyak mentah Rusia berada di 4.524 juta barel per hari pada 2024, turun tipis dari 4.586 juta barel per hari pada 2023. Sebelum pandemi, Rusia sempat mencetak 5.241 juta barel per hari pada 2019, salah satu level tertinggi dalam satu dekade. Pandemi menekan angka itu ke 4.617 juta barel per hari pada 2020, lalu pulih sebagian setelahnya.
Rusia kehilangan sebagian pasar, namun belum kehilangan kapasitas ekspor.
Jika ditarik lebih panjang, tren satu dekade menunjukkan daya tahan struktur energi Rusia. Pada 2013 ekspor crude tercatat 4.689 juta barel per hari, naik ke atas 5 juta barel per hari pada 2016-2019, lalu turun setelah pandemi dan sanksi. Dengan kata lain, Barat berhasil mengubah rute perdagangan Rusia, tetapi belum berhasil menutup keran ekspor sepenuhnya.
Data November 2025 menjadi potret paling jelas tekanan finansial itu. Pendapatan ekspor bulanan Rusia turun ke US$11 miliar, terendah sejak invasi dimulai. Nilai crude tercatat US$7,1 miliar, sedangkan produk olahan US$3,9 miliar. Pada saat bersamaan, ekspor laut turun 7,2% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan. Saat volume melemah dan harga jual rendah, pendapatan langsung tergerus.
Secara geografis, pembeli utama Rusia kini terkonsentrasi di Asia. India menjadi tujuan terbesar dengan sekitar 1,4 juta barel per hari atau 40% ekspor crude laut Rusia pada November 2025.
China berada di posisi kedua sekitar 1,105 juta barel per hari. Turki penting sebagai pembeli produk olahan seperti diesel dan fuel oil. Ketergantungan pada beberapa pembeli besar membuat Rusia harus lebih fleksibel soal harga, syarat pembayaran, dan logistik.
Shadow Fleet
Masalah logistik inilah yang melahirkan fenomena shadow fleet. Istilah ini merujuk pada armada tanker yang digunakan untuk mengangkut minyak Rusia di luar sistem pelayaran Barat.
Kapal-kapal ini umumnya memakai perusahaan cangkang, pergantian bendera negara, jalur kepemilikan rumit, asuransi non-Barat, serta transaksi kapal-ke-kapal di laut agar asal muatan sulit dilacak. Shadow fleet tumbuh setelah G7 dan Uni Eropa menerapkan embargo serta batas harga minyak Rusia. Jika Rusia bergantung pada kapal dan asuransi Barat, ekspornya bisa tersendat. Maka dibangunlah jaringan alternatif.
Laporan tersebut memperkirakan sekitar 173 tanker shadow fleet aktif mengangkut minyak Rusia pada November 2025. Rinciannya sekitar 99 kapal untuk minyak mentah dan 74 kapal untuk produk olahan.
Sekitar 78% armada itu berusia lebih dari 15 tahun. Untuk crude saja, porsi kapal tua mencapai 79%, sedangkan produk olahan 77%. Ini berarti banyak kapal beroperasi dengan usia teknis yang sudah matang, biaya perawatan tinggi, dan risiko kecelakaan lebih besar.
Mengapa shadow fleet penting? Karena tanpa armada ini, Rusia akan kesulitan memindahkan jutaan barel per hari ke India, China, dan pasar lain.
Namun ada harga yang dibayar. Ongkos pengiriman lebih mahal, waktu tempuh lebih panjang, risiko sanksi lebih besar, dan potensi tumpahan minyak meningkat. Hingga 19 Desember 2025, total 621 kapal telah masuk daftar sanksi kolektif negara-negara Barat. Setiap kapal yang terkena sanksi memaksa Rusia mencari kapal baru, mengubah rute, atau menambah diskon kepada pembeli.
Dari sisi harga, grade utama Rusia yakni Urals sempat berada di kisaran US$42,6-US$43,5 per barel pada November 2025. Jaraknya sangat jauh dari Brent global. Selisih itu adalah biaya geopolitik yang harus dibayar Moskow. Saat Brent kini kembali mendekati US$95 akibat krisis Hormuz, spread tersebut bisa menyempit atau tetap lebar tergantung pembeli dan risiko sanksi. Jika menyempit, Rusia diuntungkan. Jika tetap lebar, kenaikan harga global tidak sepenuhnya masuk ke kas negara.
Rusia masih punya minyak, masih punya pasar, dan masih punya kapal. Namun seluruh sistem bekerja dengan friksi lebih tinggi dibanding era sebelum perang.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5342854/original/002615400_1757402192-barba.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4890948/original/095825900_1720887428-Timnas_Indonesia_-_Ilustrasi_Logo_Timnas_Indonesia_dan_Timnas_Day_copy.jpg)
