Negara Ini Jadi Korban Perang AS-Israel Vs Iran, Kondisi Babak Belur

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Bencana Siklon Ditwah masih menyisakan luka mendalam bagi warga Sri Lanka hingga kini. Hal ini pun diperparah dengan adanya perang Iran-Amerika Serikat.

Melansir Reuters, salah satu korban bencana tersebut, Indrani Ravichandran dan keluarganya terpaksa tinggal di satu-satunya bagian rumah yang masih berdiri setelah banjir menghancurkan desa mereka.

Siklon yang melanda pada November lalu tersebut membawa dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara itu. Dalam tiga hari, wilayah dataran tinggi tengah Sri Lanka diguyur hujan hingga 500 mm, memicu banjir besar dan longsor yang menghanyutkan rumah serta permukiman.

Dampak kemanusiaan pun sangat besar dengan 643 orang tewas dan 173 lainnya hilang. Indrani menceritakan bagaimana ia dan keluarganya harus melarikan diri dalam gelap saat air bah menyapu sebagian rumah mereka di Distrik Kandy.

Ia mengatakan air naik dengan sangat cepat sehingga mereka hampir tidak sempat menyelamatkan barang apa pun. Dalam kondisi gelap, hujan deras, dan medan licin, mereka juga khawatir menginjak hewan beracun, namun beruntung berhasil selamat.

Kerusakan akibat banjir ini bahkan disebut melampaui dampak Tsunami Samudra Hindia 2004 dari sisi infrastruktur. Meski korban jiwa tidak sebesar tsunami, skala kerusakan fisik dinilai lebih parah menurut ekonom Ganeshan Wignaraja.

Di tengah pemulihan, Sri Lanka kini menghadapi tekanan tambahan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampak global dari perang tersebut datang di saat yang sangat buruk bagi ekonomi Sri Lanka yang belum pulih dari krisis 2022.

Negara yang sebelumnya dikenal dengan kemajuan ekonominya ini kini menghadapi apa yang disebut sebagai "triple shock". Tekanan tersebut berasal dari bencana banjir, lonjakan harga energi, dan ancaman kekeringan di beberapa wilayah.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah terpaksa melakukan penjatahan bahan bakar dan menaikkan harga. Selain itu, diberlakukan pekan kerja empat hari, kenaikan tarif listrik hingga 40%, serta pemadaman air dan listrik.

Kendaraan mengisi bahan bakar di sebuah SPBU, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, Senin (6/4/2026). (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)Foto: Kendaraan mengisi bahan bakar di sebuah SPBU, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, Senin (6/4/2026). (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Kendaraan mengisi bahan bakar di sebuah SPBU, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, Senin (6/4/2026). (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Kelangkaan bahan bakar dan gas memasak memicu panic buying di masyarakat. Kondisi ini mengingatkan pada krisis 2022 saat negara kehabisan devisa dan gagal bayar utang luar negeri.

Krisis tersebut sebelumnya memicu gelombang protes besar yang berujung pada lengsernya Presiden Gotabaya Rajapaksa. Kini muncul kekhawatiran bahwa Sri Lanka dapat kembali terjerumus ke krisis ekonomi.

Padahal pemerintah sebelumnya telah melakukan berbagai langkah pemulihan seperti mencabut subsidi listrik dan menaikkan pajak penghasilan hingga 36%. Kondisi sempat membaik sebelum akhirnya dihantam Siklon Ditwah.

Menurut World Bank, bencana ini berdampak pada hampir dua juta orang dan 500.000 keluarga di seluruh distrik. Aktivitas ekonomi, layanan dasar, dan mata pencaharian masyarakat ikut terganggu.

Kerugian total diperkirakan mencapai US$4 miliar atau sekitar 4% dari PDB Sri Lanka menurut United Nations. Presiden Anura Kumara Dissanayake bahkan menyebutnya sebagai bencana ekonomi terburuk dalam sejarah negara tersebut.

Pemerintah telah menyalurkan bantuan, termasuk 50.000 rupee untuk perbaikan rumah rusak sebagian. Selain itu, dijanjikan hingga 5 juta rupee untuk rumah yang hancur total serta sekitar 1 juta rupee bagi keluarga korban meninggal.

Namun hingga kini lebih dari 165.000 orang masih mengungsi dan menunggu bantuan tempat tinggal permanen. Situasi mereka semakin sulit karena tekanan ekonomi akibat konflik global yang masih berlangsung.

Pendanaan rekonstruksi juga masih jauh dari cukup dengan pemerintah baru menerima sekitar US$750 juta atau seperlima kebutuhan. Respons bantuan internasional pun dinilai lebih lambat dibanding saat tsunami 2004.

India menjadi negara yang paling cepat memberikan bantuan melalui misi "Operation Sagar Bandhu". India mengerahkan kapal perang, helikopter, serta bantuan logistik lebih dari 1.000 ton dan dana sekitar US$450 juta.

Sebaliknya, China hanya memberikan bantuan terbatas kurang dari US$2 juta. Pemerintah Sri Lanka pun telah meminta dukungan tambahan dari Beijing untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak.

Pemerintah mengklaim sebagian besar rumah rusak ringan telah mendapatkan bantuan perbaikan. Namun diakui masih ada keterlambatan kompensasi bagi korban yang kehilangan rumah dan usaha sepenuhnya.

Pejabat manajemen bencana menyebut pemerintah tengah menyiapkan lahan aman untuk pembangunan kembali. Fokusnya adalah membangun ulang dengan standar yang lebih tahan terhadap bencana di masa depan.

Cadangan devisa Sri Lanka saat ini berada di kisaran US$7 miliar. Meski dinilai cukup untuk bertahan sementara, para ekonom memperingatkan risiko akan meningkat jika dampak konflik Timur Tengah berlanjut.

Selain itu, Sri Lanka juga terancam kehilangan pemasukan devisa dari remitansi pekerja migran. Tahun lalu, negara ini menerima sekitar US$7 miliar dari pekerja di luar negeri, terutama kawasan Teluk.

Dengan berbagai tantangan tersebut, langkah pemerintah dalam menangani rekonstruksi dan stabilitas ekonomi akan menjadi ujian besar. Hal ini sekaligus akan menentukan arah kepemimpinan Presiden Dissanayake ke depan.

(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |