Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Kuba khawatir serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela, sekutu ideologis kiri sekaligus pemasok utama minyak bagi Havana, akan membuat kondisi negara yang selama bertahun-tahun sudah tertekan oleh krisis ekonomi, kelangkaan kebutuhan pokok, dan pemadaman listrik rutin akan memburuk.
Kekhawatiran itu mencuat setelah pasukan Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi dini hari. Menyusul operasi tersebut, Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu melontarkan ancaman terhadap sejumlah pemimpin kiri lain di kawasan dan menyatakan keyakinannya bahwa Kuba "siap runtuh".
Trump meremehkan kebutuhan akan aksi militer langsung terhadap Kuba. Ia mengatakan Havana akan sulit "bertahan" tanpa pasokan minyak dari Venezuela dan menambahkan bahwa "kelihatannya itu akan jatuh".
"2026 akan menjadi tahun yang berat, sangat berat," kata Axel Alfonso (53), seorang sopir yang bekerja di perusahaan milik negara, kepada AFP di Havana pada Senin (5/1/2025).
"Kalau Venezuela adalah pemasok utama, setidaknya untuk minyak, ini akan jadi sedikit rumit," ujar Alfonso, yang seperti mayoritas warga Kuba, telah menghabiskan seluruh hidupnya di bawah embargo perdagangan Amerika Serikat yang diberlakukan sejak 1962.
Pulau yang diperintah Partai Komunis itu telah menyaksikan pergantian 13 pemerintahan Amerika Serikat, dengan kebijakan yang tingkat tekanannya berbeda-beda.
"Kami sudah bertahan dan berjuang selama 60 tahun dan kami harus terus maju," kata Alfonso.
Bayang-Bayang Ketidakpastian
Terletak sekitar 90 mil atau sekitar 145 kilometer dari pantai Florida, Kuba terakhir kali menghadapi ujian ekonomi besar setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, yang sebelumnya menjadi mitra dagang utama sekaligus sumber kredit. Kuba mampu bertahan kala itu dengan membuka diri terhadap pariwisata dan investasi asing.
Sejak 2000, Havana semakin bergantung pada minyak Venezuela melalui kesepakatan yang dirintis oleh pendahulu Maduro, Hugo Chavez, dengan imbalan pengiriman dokter, guru, dan pelatih olahraga asal Kuba ke Venezuela.
Pada kuartal terakhir 2025, Venezuela mengirimkan rata-rata 30.000 hingga 35.000 barel minyak per hari ke Kuba. Jumlah tersebut "mewakili 50% dari defisit minyak pulau ini," kata Jorge Pinon, pakar energi dan peneliti di University of Texas, kepada AFP.
Angka itu jauh lebih tinggi satu dekade lalu, sebelum krisis ekonomi Venezuela yang dipicu anjloknya harga minyak global memangkas drastis kapasitas negara itu.
Pinon mengatakan "tidak jelas apakah pengiriman minyak Venezuela ke Kuba akan berlanjut", terutama dalam konteks penyitaan kapal tanker minyak di Karibia oleh Amerika Serikat baru-baru ini.
Ia menambahkan bahwa "Kuba tidak memiliki sumber daya untuk membeli volume minyak sebesar itu di pasar internasional, juga tidak memiliki mitra politik yang bisa menyelamatkannya."
Selama 6 tahun terakhir, Kuba terjebak dalam krisis yang semakin dalam akibat kombinasi sanksi Amerika Serikat yang diperketat, pengelolaan ekonomi domestik yang buruk, serta runtuhnya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19.
Produk domestik bruto Kuba telah menyusut 11% dalam lima tahun terakhir. Pemerintah menghadapi kekurangan devisa yang parah untuk membiayai layanan sosial dasar, mulai dari listrik dan layanan kesehatan hingga penyediaan pangan bersubsidi dan barang kebutuhan pokok lain yang selama ini menjadi sandaran banyak warga.
Tekanan ekonomi tersebut menjadi pemicu demonstrasi antipemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 11 Juli 2021. Saat itu, ribuan warga turun ke jalan sambil meneriakkan "Kami lapar" dan "Kebebasan!".
Sejak demonstrasi tersebut, pemadaman listrik yang semakin sering dan berkepanjangan serta kelangkaan pangan dan obat-obatan terus memperdalam ketidakpuasan publik, memicu aksi protes sporadis dalam skala lebih kecil yang dengan cepat berhasil dikendalikan pemerintah.
Kini, banyak warga takut kehilangan pasokan minyak Venezuela akan memperburuk situasi yang sudah rapuh.
"Kami hidup dalam masa penuh ketidakpastian," kata Daira Perez (30), seorang pengacara, kepada AFP.
Meski diliputi kecemasan akan masa depan, banyak warga Kuba tetap berusaha tegar.
"Dia [Trump] terus melontarkan ancaman keras," kata Roberto Brown (80), warga Havana yang masih mengingat dengan jelas Krisis Rudal Kuba 1962, ketika dunia nyaris terjerumus ke perang nuklir.
"Kami sudah bilang padanya dulu: kami hanya berjarak 90 mil, rudal jarak jauh dari sana bisa sampai ke sini, tapi yang dari sini juga bisa sampai ke sana," ujar Brown.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







