Ngeri! FAO Ungkap Cuaca Ekstrem Bisa Rusak Panen Dunia

3 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

23 April 2026 17:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Panas ekstrem bergerak masuk ke lahan pertanian, kandang ternak, tambak ikan, hingga jam kerja para buruh tani.

Suhu siang dan malam bertahan jauh di atas normal dalam waktu lama, hasil panen turun, hewan ternak stres, ikan mati kehabisan oksigen, dan jutaan pekerja kehilangan kemampuan untuk bekerja di lapangan.

Peringatan itu datang dari laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO bersama Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Extreme Heat and Agriculture yang dirilis 22 April 2026 di mana sistem pangan global sedang berada di garis depan krisis panas.

FAO mencatat lebih dari 1 miliar orang saat ini terpapar ancaman panas ekstrem. Dampaknya langsung terasa pada produktivitas tenaga kerja. Sekitar 500 miliar jam kerja hilang setiap tahun karena suhu terlalu tinggi untuk bekerja dengan aman. Sektor pertanian memikul beban terbesar karena sebagian besar aktivitasnya berlangsung di ruang terbuka, di bawah matahari, dengan perlindungan terbatas.

Dalam laporan tersebut, panas ekstrem didefinisikan sebagai periode ketika suhu siang dan malam naik melewati kisaran normal cukup lama hingga memicu tekanan fisiologis dan kerusakan fisik pada tanaman, ternak, ikan, pohon, serta manusia. Ini penting, sebab kerusakan sering datang saat malam ikut panas.

Tubuh manusia, hewan, dan tanaman kehilangan waktu untuk pulih.

Frekuensi, intensitas, dan durasi gelombang panas telah meningkat tajam dalam setengah abad terakhir. Ketika suhu rata-rata bumi naik, ruang aman biologis makin menyempit. FAO menyebut intensitas panas ekstrem berpotensi dua kali lipat pada pemanasan global 2 derajat Celsius, dan empat kali lipat pada kenaikan 3 derajat Celsius, dibanding level 1,5 derajat Celsius.

Di ladang, suhu di atas 30 derajat Celsius sudah cukup untuk memangkas hasil banyak komoditas utama. Dinding sel tanaman melemah, serbuk sari menjadi steril, senyawa oksidatif beracun meningkat, dan proses pembentukan biji terganggu. Kentang serta barley lebih rentan karena ambang tekanannya lebih rendah. Dalam praktiknya, petani melihat gejala sederhana: tanaman berbunga tapi tak berisi, daun cepat layu, buah mengecil.

Laporan FAO memberi contoh di pegunungan Fergana, Kyrgyzstan, pada musim semi 2025. Kawasan itu mengalami suhu 30,8 derajat Celsius, sekitar 10 derajat di atas normal untuk periode tersebut. Gandum dan tanaman buah terkena kejutan termal. Penguapan meningkat, kapasitas irigasi turun, serangan belalang merebak, dan panen serealia akhirnya merosot 25%.

Di kandang, tekanan mulai terasa pada suhu di atas 25 derajat Celsius untuk banyak spesies ternak. Ayam dan babi lebih rentan karena tidak berkeringat. Saat panas datang, hewan mencari tempat teduh, minum lebih banyak, makan lebih sedikit, dan bergerak seperlunya. Bila paparan berlanjut, gangguan pencernaan, kerusakan organ, hingga syok kardiovaskular dapat terjadi. Pada sapi perah, produksi susu turun bersama kadar lemak dan protein.

Di perairan, panas bekerja lewat cara berbeda. Air yang lebih hangat menyimpan oksigen lebih sedikit. Ikan harus bernapas lebih cepat untuk bertahan. Saat ambang toleransi terlampaui, kegagalan jantung dapat terjadi. FAO mencatat 91% lautan dunia mengalami setidaknya satu gelombang panas laut sepanjang 2024.

Panas ekstrem lalu bertemu ancaman lain. Tanah cepat kehilangan kelembapan, akar kekurangan air, dan kekeringan mendadak atau flash drought muncul. Kasus seperti ini tercatat di Amerika Serikat, Rusia, Australia, China, dan Brasil. Di Brasil pada akhir 2023 hingga 2024, hasil kedelai turun sampai 20% ketika suhu rata-rata bertahan sekitar 7 derajat di atas normal dalam periode panjang.

Buruh tani bekerja sambil mengangkat beban, berjalan jauh, dan terpapar matahari langsung. Risiko dehidrasi, cedera ginjal, penyakit kronis, hingga kematian meningkat. Menurut FAO, jumlah hari dalam setahun ketika cuaca terlalu panas untuk bekerja dapat mencapai 250 hari di banyak wilayah Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara tropis, serta sebagian Amerika Tengah dan Selatan.

Sistem peringatan dini menjadi jalan keluar pertama. Petani yang menerima informasi suhu tinggi beberapa hari sebelumnya bisa mengubah jadwal tanam, menambah mulsa, menyimpan air, memindahkan jam irigasi ke pagi atau malam, dan memberi peneduh pada tanaman sayur. Untuk ternak, pakan diberikan pada jam yang lebih sejuk agar panas metabolik berkurang.

FAO mencontohkan proyek di Kamboja yang membantu sekitar 450 ribu petani melalui stasiun cuaca dan aplikasi ponsel berisi panduan spesifik komoditas. Saat prakiraan suhu melewati 38 derajat Celsius, petani menerima peringatan untuk menjaga kelembapan tanah, menyiapkan cadangan air, menaungi tanaman, dan melindungi hasil panen dari matahari.

Pilihan lain adalah bibit tahan panas dan tahan kering, pergantian jenis ternak ke kambing atau domba di wilayah tertentu, hingga penyimpanan dingin bertenaga surya agar hasil panen tidak cepat rusak. FAO menghitung sekitar 526 juta ton pangan dunia hilang atau terbuang akibat minimnya pendinginan. Saat gelombang panas datang, angka itu berisiko membesar.

Ketahanan pangan masa depan akan ditentukan oleh kecepatan adaptasi hari ini. Sawah, kebun, kandang, dan laut sedang menerima tagihan pertama dari suhu yang terus naik. Jika respons bergerak lambat, tagihan berikutnya akan terlihat di pasar, harga pangan lebih mahal, pasokan lebih rapuh, dan musim panen yang makin sulit ditebak

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |