Pasien di Nias Rela Tempuh Puluhan KM Demi Bertemu Dokter Spesialis

3 hours ago 2

Nias Utara, CNBC Indonesia - Akses layanan kesehatan masih menjadi tantangan bagi sebagian warga di wilayah kepulauan seperti Nias Utara, Sumatra Utara. Demi mendapatkan penanganan dokter spesialis, sejumlah pasien bahkan harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju rumah sakit.

Hal itu dialami Lastiaw Harefa yang membawa anaknya, Stephen Lase, untuk berobat di RSUD Tafaeri, Lolofaoso, Kecamatan Lotu, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Ia mengaku harus menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer dari rumahnya di Lahewa agar anaknya bisa mendapatkan penanganan dokter spesialis.

"Kalau dari rumah kami ke sini sekitar 30-31 kilometer. Karena di Nias Utara ini rumah sakit yang paling memadai ya di sini," kata Lastiaw kepada CNBC Indonesia, Jumat (5/3/2026).

Perjalanan menuju rumah sakit tersebut juga tidak sepenuhnya mudah. Berdasarkan pengamatan CNBC Indonesia di lapangan, terdapat sekitar 2,5 hingga 3 kilometer ruas jalan yang rusak menuju RSUD Tafaeri Nias Utara. Kondisi jalan tersebut membuat perjalanan kendaraan harus berjalan sangat lambat.

Untuk melintasi ruas jalan rusak tersebut saja, kendaraan membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Kondisi ini berpotensi menjadi kendala bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis cepat, terutama dalam kondisi darurat.

Lastiaw sendiri mengatakan, akses jalan menuju rumah sakit memang menjadi salah satu tantangan bagi warga yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.

"Kalau pasiennya parah, menjangkau ke sini cukup berat. Jalannya juga ada yang rusak, jadi kadang kewalahan di perjalanan," ujarnya.

Awalnya, anaknya mengalami demam dan muncul bengkak di sekitar bibir. Ia sempat membawa anaknya ke dokter di kampung yang hanya memiliki layanan dokter umum.

Namun karena kondisi anaknya belum membaik, keluarga memutuskan membawa Stephen ke RSUD Tafaeri agar mendapatkan penanganan lebih lanjut dari dokter spesialis anak.

"Di kampung hanya ada dokter umum. Jadi kami pikir lebih baik bawa ke rumah sakit ini supaya penanganannya lebih bagus," ujarnya.

Setelah tiba di rumah sakit, Stephen langsung mendapatkan perawatan intensif, mulai dari infus, pemberian obat, hingga injeksi. Lastiawati bilang, kondisi anaknya kini mulai menunjukkan perkembangan.

"Yang sebelumnya susah bicara karena bibirnya bengkak, sekarang sudah mulai membaik sejak ditangani dokter di sini," ungkapnya.

Ia juga mengaku proses penggunaan BPJS Kesehatan berjalan cukup mudah meskipun awalnya datang tanpa rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.

"Kami awalnya langsung ke poli, tapi setelah itu disarankan pakai BPJS. Prosesnya mudah, tidak ada kesulitan," katanya.

Meski demikian, ia menilai masih ada beberapa fasilitas rumah sakit yang perlu ditingkatkan, seperti pendingin ruangan dan pasokan air.

"AC ada tapi sudah agak rusak, jadi kami bawa kipas sendiri. Air juga ada tapi alirannya kurang deras," ujarnya.

Ia berharap ke depan fasilitas dan akses layanan kesehatan di wilayah Nias Utara bisa semakin ditingkatkan agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan pengobatan.

Penyakit terbanyak
Dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit umum daerah (RSUD) Tafaeri, Nias Utara, dr. Davinda Filarshi mengatakan, penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga tuberkulosis (TB) menjadi kasus yang paling sering ditangani. Menurutnya, ketiga penyakit tersebut mendominasi pasien yang datang untuk berobat.

"Yang paling banyak di sini diabetes melitus tipe 2, kemudian hipertensi, dan TB paru," kata Davinda kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/3/2026).

Selain penyakit kronis tersebut, sejumlah pasien juga datang dengan keluhan gangguan pencernaan seperti dispepsia hingga diare. Namun menurutnya, kasus penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi tetap menjadi yang paling dominan.

Menurut Davinda, salah satu tantangan dalam penanganan penyakit kronis di wilayah ini adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengobatan rutin. Ia mengungkapkan masih banyak pasien yang takut mengonsumsi obat karena khawatir dapat merusak ginjal.

"Banyak pasien yang takut minum obat karena mereka pikir obat diabetes atau darah tinggi bisa merusak ginjal. Padahal sebenarnya kalau diminum teratur justru bisa melindungi ginjal," ujarnya.

Selain itu, edukasi kesehatan kepada masyarakat juga menghadapi kendala bahasa, terutama bagi warga yang tidak fasih berbahasa Indonesia.

"Sebagian masyarakat, terutama yang sudah tua, tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia. Jadi edukasi kesehatan sering harus melalui penerjemah," kata dia.

Dari sisi fasilitas, dokter Davinda menilai layanan penunjang di rumah sakit tersebut sebenarnya sudah cukup memadai, seperti laboratorium, rontgen, dan USG. Namun beberapa alat kesehatan masih perlu dilengkapi.

Salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah belum tersedianya layanan patologi anatomi untuk pemeriksaan jaringan, yang penting untuk diagnosis kanker.

"Kalau ada pasien dengan kecurigaan kanker harus dirujuk karena di sini belum ada patologi anatomi. Biasanya sampel atau pasien dirujuk ke Medan," ujarnya.

Selain itu, alat CT scan di wilayah Nias juga dilaporkan sedang mengalami kerusakan sehingga membatasi pemeriksaan lanjutan bagi pasien tertentu. Ke depan, ia berharap peningkatan kelas RSUD Tafaeri Nias Utara dapat memperkuat layanan kesehatan di wilayah tersebut, termasuk menambah jumlah dokter spesialis dan fasilitas medis.

"Harapannya dokter spesialis makin lengkap di sini, seperti penyakit dalam, anak, bedah, obgyn, dan anestesi, sehingga layanan kesehatan untuk masyarakat bisa semakin baik," kata dr. Davinda.

RSUD Tafaeri saat ini sedang dipersiapkan untuk naik kelas dari rumah sakit tipe D menjadi tipe C. Peningkatan kelas rumah sakit tersebut diharapkan dapat memperluas layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Nias Utara.

Dari peningkatan kapasitas tersebut, rumah sakit ditargetkan memiliki layanan dokter spesialis yang lebih lengkap, termasuk penyakit dalam, anak, bedah, dan kebidanan. Penguatan fasilitas ini juga diharapkan dapat mengurangi kebutuhan rujukan pasien ke rumah sakit di luar daerah, seperti ke Kota Gunungsitoli atau bahkan ke Medan.

Salah satu sudut di RSUD Tafaeri, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatra Utara. (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)Foto: Salah satu sudut di RSUD Tafaeri, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatra Utara. (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

(miq/miq)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |