Aisha Mayra, CNBC Indonesia
28 May 2026 18:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia sains hari ini menghasilkan lebih banyak riset dibanding sebelumnya. Paper akademik terus bertambah, jurnal baru bermunculan, dan dana penelitian global semakin besar.
Namun di tengah ledakan itu, muncul pertanyaan yang mulai sering dibahas ilmuwan sendiri: kenapa penemuan besar justru terasa semakin jarang?
Sebuah studi di jurnal Science pada 2026 menemukan pola menarik. Semakin panjang karier seorang ilmuwan, semakin kecil kemungkinan mereka menghasilkan riset yang benar-benar "disruptif" atau mengubah arah bidang ilmunya.
Sebaliknya, banyak peneliti senior cenderung menghasilkan karya yang tetap penting, tetapi lebih sering memperpanjang teori lama dibanding menantangnya.
Temuan ini memperkuat kekhawatiran yang sebenarnya sudah muncul beberapa tahun terakhir. Sains modern dinilai semakin inkremental. Pengetahuan terus bertambah, tetapi lompatan besar terasa lebih jarang.
Ide Baru Lebih Sering Datang di Awal Karier
Penelitian tersebut menganalisis karier sekitar 12,5 juta ilmuwan yang menerbitkan paper antara 1960 hingga 2020.
Hasilnya cukup konsisten di banyak bidang, mulai dari matematika hingga kedokteran. Peneliti muda lebih sering menghasilkan paper yang dianggap disruptif.
Dalam studi itu, paper disruptif diukur dari seberapa jauh riset baru menggeser karya lama. Artinya, penelitian tersebut membuka jalur baru, bukan sekadar melanjutkan ide sebelumnya.
Peluang seorang ilmuwan* menghasilkan makalah yang masuk 10% paling disruptif†Berdasarkan disiplin ilmu, 1960–2020, % Foto: E
Peluang menghasilkan paper seperti itu terlihat paling tinggi di awal karier, lalu perlahan menurun seiring bertambahnya usia akademik seorang ilmuwan.
"Sains menjadi kurang transformatif," tulis para peneliti.
Ilmuwan Senior Lebih Dekat dengan Teori Lama
Salah satu pola paling menarik muncul dari cara ilmuwan memilih referensi.
Penelitian menemukan bahwa paper yang paling sering dikutip peneliti biasanya berasal dari awal masa karier mereka sendiri. Akibatnya, semakin lama seseorang berada di dunia akademik, semakin tua pula fondasi ide yang terus digunakan.
Perubahan usia referensi dalam makalah ilmiah AS*, tahun Foto: Economist
Pola ini terlihat makin jelas di Amerika Serikat setelah aturan pensiun wajib dosen usia 70 tahun dihapus pada 1994. Dibanding akademisi Inggris yang saat itu masih menghadapi batas usia pensiun 65 tahun, ilmuwan AS mulai lebih sering mengutip paper lama.
Peneliti senior juga ditemukan lebih sering mengkritik riset baru sambil memakai teori lama sebagai pembanding. Di sisi lain, karya mereka sendiri relatif lebih jarang dikritik secara eksplisit.
Negara dengan Banyak Peneliti Muda Punya Keunggulan
Temuan tersebut ikut memunculkan implikasi geopolitik.
Negara dengan populasi ilmuwan lebih muda cenderung menghasilkan proporsi paper disruptif lebih besar dibanding negara dengan komunitas akademik yang menua.
Dalam grafik penelitian tersebut, China, India, Indonesia, hingga Bangladesh terlihat memiliki tingkat riset disruptif relatif lebih tinggi dibanding Amerika Serikat atau Jepang.
Tingkat disruptive ilmuwan Foto: Economist
Artinya, persaingan teknologi global mungkin bukan cuma soal dana riset atau jumlah laboratorium. Struktur usia ilmuwan juga mulai menjadi faktor penting.
"Generasi muda lebih mungkin membuka jalur penelitian baru," tulis studi tersebut.
Sains Modern Dinilai Semakin "Aman"
Fenomena ini ikut memunculkan kritik lebih luas terhadap dunia akademik modern.
Banyak peneliti menilai sistem sains hari ini semakin mendorong riset yang aman. Tekanan publikasi, perebutan pendanaan, hingga kompetisi karier membuat ilmuwan lebih cenderung memilih proyek dengan peluang berhasil tinggi dibanding ide yang terlalu berisiko.
Padahal, banyak penemuan besar dalam sejarah justru lahir dari eksperimen yang awalnya dianggap aneh atau melawan arus utama. Dan mungkin, itu yang membuat temuan ini terasa menarik.
Dunia modern menghasilkan lebih banyak pengetahuan dibanding sebelumnya. Tetapi di saat yang sama, sebagian ilmuwan mulai bertanya apakah sains hari ini masih cukup berani untuk benar-benar menemukan sesuatu yang baru.
(mae/mae)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)








