Ramai Order Baju Lebaran-Penjahit Belum Happy, Ternyata Gegara Ini

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Musim baju baru saat Lebaran biasanya jadi momen panen cuan bagi pengusaha konveksi, juga penjahit baju. Orderan biasanya melonjak signifikan untuk Baju Lebaran.

Hal ini juga terkonfirmasi saat CNBC Indonesia mencoba melihat langsung ke pusat penjahit di Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, pada hari Jumat pekan lalu (20/2/2026). Tampak kesibukan para penjahit Pasar Sunan Giri sudah terlihat. Namun, omzet mereka belum sepenuhnya pulih. Bahkan, sejumlah penjahit mengaku tak bisa lagi menerima orderan baru karena harus menyelesaikan permintaan yang mulai menumpuk. 

Hanya saja, di tengah kondisi ini, pengaku tampak seperti masih menyimpan ganjalan dalam hati alias tidak terlalu berseri-seri.

Ternyata, usut punya usut, hal itu karena lonjakan order tahun ini belum menutup anjloknya order di tahun lalu. 

Disebutkan, pemesanan tahun lalu drastis hingga 30%-50%. Penyebabnya mulai dari daya beli masyarakat yang masih lesu, adanya efisiensi anggaran yang membuat order-an jahit seragam berkurang drastis, hingga pola pergeseran selera masyarakat.

Salah satunya diungkap oleh Fadli, di mana meski jumlah order mulai banyak, tetapi Ia tidak dapat memastikan omzet pulih.

"Belum, omzet masih belum pulih, walaupun mulai ramai, karena kan tahun lalu turunnya lumayan, ada 50%," kata Fadli saat ditemui CNBC Indonesia, dikutip Senin (23/2/2026).

"Nah, tahun lalu kan ada efisiensi anggaran. Kalau di sini kan kebantu banget sama jahit seragam PNS, karena tahun lalu enggak ada, ya akhirnya penghasilan turun drastis, dampaknya ke sekarang," jelasnya.

Dengan adanya fenomena Lebaran 2026, Ia berharap kondisinya membaik dari tahun lalu.

"Ya berharap bisa lebih baik di tahun ini, enggak sepi-sepi lagi," ujarnya.

Senada dengan Fadli, Gilang juga mengungkapkan hal yang sama, di mana omzet dari jahit kemeja dan kebaya masih belum sebesar sebelum 2025.

"Ya masih begini-begini saja, belum banyak yang mau jahit, tahun lalu ada sekitar 30% turunnya," kata Gilang.

Penyebabnya yakni daya beli masyarakat dan juga kini masyarakat lebih menyukai untuk membeli langsung pakaian daripada harus menjahit lagi.

"Karena daya beli sih, sama kan sekarang orang-orang lebih suka beli langsung jadi, langsung pakai, sudah mulai enggak mau jahit-jahit dulu," ucapnya.

Seorang penjahit menerima pesanan di Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (23/2/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Foto: Seorang penjahit menerima pesanan di Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (23/2/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Seorang penjahit menerima pesanan di Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (23/2/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |