RI Ternyata Masih Ekspor Minyak Mentah, Ini Datanya

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini masih melakukan ekspor minyak mentah (crude oil). Namun, jumlah ekspor minyak mentah ini masih relatif sangat kecil dibandingkan dengan total produksi minyak nasional.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebutkan bahwa saat ini hampir seluruh hasil produksi minyak dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi dalam negeri sudah dialokasikan untuk kebutuhan kilang domestik. Bahkan, lanjutnya, hampir 100% dari total produksi minyak nasional kini ditujukan untuk pasar kilang dalam negeri.

Adapun salah satu perusahaan migas yang menjual produksi minyaknya untuk diolah di kilang dalam negeri adalah ExxonMobil. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini merupakan produsen minyak terbesar di RI, tepatnya berasal dari Blok Cepu.

"Sekarang sudah 90 hampir 98%, membaik," ungkap Djoko saat ditanya berapa besar porsi produksi minyak nasional yang diolah di kilang domestik.

"Alhamdulillah yang untuk Exxon Mobil bagian KKKS-nya sudah 100% diolah dalam negeri bisa. Medco tinggal nunggu surat dari Bapak Menteri. Saya sebenarnya sudah kirim surat bahwa kontrak ekspornya dia, kita apa di dalam klausul kontraknya Medco dengan pembeli luar itu apabila pemerintah membutuhkan, maka ini bisa ditunda pengiriman tahun berikutnya," jelas Djoko saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Rabu (8/4/2026).

Hingga saat ini, pemerintah memang belum mengeluarkan kebijakan resmi mengenai larangan ekspor minyak mentah secara total. Djoko mengatakan pihaknya tetap memberikan ruang ekspor bagi perusahaan yang sudah terikat kontrak, namun dengan tetap melakukan upaya negosiasi jika kebutuhan domestik meningkat.

"Tahun ini belum ada, belum ada kebijakannya tahun ini tidak diberikan rekomendasi ekspor kecuali kan yang sudah terkontrak. Nah yang sudah terkontrak itu kontraknya kita melakukan negosiasi karena ada klausul bahwa untuk menghentikan kontrak menunda gitu pelaksanaannya itu harus ada kebijakan dari pemerintah," tambahnya.

Dengan adanya penemuan baru dari lapangan migas dan hasil negosiasi pengalihan kargo ekspor, pihaknya optimis ketahanan energi di dalam negeri dipastikan terjaga. Strategi memprioritaskan pasokan domestik tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan angka serapan minyak dan gas nasional di masa mendatang.

"Jadi yang penting dalam negeri sudah penuh dulu sisanya tetap diekspor," pungkasnya.

Data Ekspor Minyak RI

Mengutip data Handbook of Energy and Economic 2024 yang dirilis Kementerian ESDM pada 2025 lalu, Indonesia masih mengekspor minyak mentah ke berbagai negara.

Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor adalah Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan negara lainnya.

Pada 2024 misalnya, Indonesia tercatat mengekspor minyak mentah 27,19 juta barel. Jumlah ekspor minyak ini tercatat "hanya" sekitar 13% dari total produksi minyak mentah RI sebesar 212,33 juta barel pada 2024.

Jumlah ekspor minyak mentah ini terpantau turun pada 2022, namun kembali naik pada 2023 dan 2024.

Indonesia mengekspor minyak mentah sebanyak 25,9 juta barel pada 2019. Lalu, meningkat pada 2020 sebanyak 31,4 juta barel per tahun. Meningkat lagi pada tahun 2021 sebanyak 43,7 juta barel per tahun.

Kemudian, menurun pada tahun 2022 sebanyak 15,4 juta barel per tahun. Lalu, pada 2023 Indonesia mengekspor minyak mentah sebanyak 21,3 juta barel. Kemudian, meningkat kembali tahun 2024 sebanyak 27,1 juta barel per tahun.

Berikut data ekspor minyak Indonesia pada tahun 2019-2024 beserta negara tujuannya. Melansir data Handbook of Energy and Economic 2024 yang dirilis Kementerian ESDM:

2019: 25,97 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Taiwan, Singapura, dan lainnya)

2020: 31,44 juta barel/tahun (Korsel, Singapura, dan lainnya)

2021: 43,76 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Taiwan, Singapura, dan lainnya)

2022: 15,49 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Singapura, dan lainnya)

2023: 21,39 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Singapura, dan lainnya)

2024: 27,19 juta barel/tahun (Jepang, Singapura, dan lainnya).

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |