Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
01 March 2026 22:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Investor asing mencatatkan akumulasi pembelian pada saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama satu bulan terakhir, merespons kebijakan penundaan (freeze) Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Di tengah kebijakan MSCI yang menunda penambahan saham standar baru dari Indonesia pada rebalancing periode bulan Februari kemarin, aliran dana asing terpantau berpusat pada saham big caps yang memiliki likuiditas tinggi. Berdasarkan data perdagangan satu bulan terakhir, sektor alat berat, perbankan, dan konglomerasi menjadi sasaran utama akumulasi.
PT United Tractors Tbk (UNTR) memimpin dengan net foreign flow mencapai Rp788,44 miliar, diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp668,20 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp499,60 miliar.
Tren akumulasi ini mengindikasikan bahwa likuiditas dan kestabilan bisnis tetap menjadi proksi utama bagi penempatan modal asing di pasar saham Indonesia walaupun secara total Indonesia masih mengalami outflow sekitar Rp 11,23 triliun sejak pengumuman MSCI tersebut pada 28 Januari 2026.
Berikut adalah daftar 10 saham dengan Net Foreign Flow tertinggi dalam satu bulan terakhir:
Pergerakan Harga Saham Sebulan Terakhir
Berdasarkan data perdagangan periode 27 Januari hingga 27 Februari 2026, arus masuk dana asing yang masif ini memberikan dampak yang bervariasi pada performa harga saham kesepuluh emiten tersebut. Sebagian besar saham memang mencetak apresiasi harga, namun beberapa di antaranya tetap mencatatkan koreksi.
Kenaikan harga tertinggi dalam kurun waktu satu bulan dipimpin oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 16,18% dari level Rp6.800 menjadi Rp7.900 per saham.
Posisi selanjutnya diisi oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dengan kenaikan 11,65%, diikuti oleh PT United Tractors Tbk (UNTR) yang naik 11,39%. Saham-saham blue chip lainnya seperti BMRI, ASII, BBRI, dan ADRO turut mencetak pertumbuhan moderat pada rentang 2,18% hingga 9,67%.
Di sisi lain, tidak seluruh saham yang menjadi target akumulasi tersebut berujung pada kenaikan harga. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tercatat turun tipis sebesar 1,92%.
Koreksi yang lebih tajam justru dialami oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang melemah 25,10% dari Rp1.295 menjadi Rp970, serta PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) yang turun hingga 29,40%.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tingginya net foreign buy pada sebuah emiten tidak selalu langsung tercermin pada lonjakan harga sahamnya secara linier dalam jangka pendek.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351436/original/075591100_1758049411-noqcog0f.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403623/original/076212200_1762332363-PSS.jpg)



