Jakarta, CNBC Indonesia - Struktur kepemilikan saham menjadi salah satu indikator fundamental yang krusial bagi investor pasar modal. Fenomena menarik terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI), di mana sejumlah emiten mencatatkan tingkat kepemilikan saham publik (free float) yang sangat tinggi, bahkan beberapa di antaranya menyentuh angka 100%.
Tingginya porsi saham publik ini mengindikasikan bahwa emiten tersebut tidak lagi memiliki Pemegang Saham Pengendali yang dominan. Kondisi ini kerap disebut pelaku pasar sebagai "saham tanpa tuan", di mana ketiadaan pengendali utama dapat berdampak pada ketidakjelasan arah strategis perusahaan hingga volatilitas harga saham yang liar.
Berdasarkan data registrasi pemegang efek terbaru, berikut adalah bedah profil 10 emiten dengan porsi kepemilikan publik terbesar serta rekam jejak pemilik sebelumnya.
1. PT HK Metals Utama Tbk (HKMU) - Free Float 100,00%
Emiten manufaktur bahan bangunan ini menempati posisi teratas dengan kepemilikan publik mutlak sebesar 100%. Sebelumnya, HKMU dikendalikan oleh Keluarga Ngasidjo Achmad melalui entitas PT Hyamn Sukses Abadi.
Namun, pengendali lama secara bertahap melakukan divestasi total dengan melepas seluruh kepemilikannya ke pasar reguler. Absennya pengendali utama membuat perseroan kerap mengalami kendala tata kelola, salah satunya kesulitan mencapai kuorum kehadiran dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2. PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) - Free Float 100,00%
Mantan penguasa transportasi taksi konvensional ini juga mencatatkan kepemilikan publik sebesar 100%. Dahulu, TAXI merupakan portofolio dari Grup Rajawali milik konglomerat Peter Sondakh.
Setelah kinerja bisnis tergerus disrupsi transportasi daring dan beban utang yang menumpuk, pemegang saham pengendali memilih untuk keluar sepenuhnya. Saham TAXI kini sepenuhnya dimiliki oleh investor ritel tanpa adanya institusi yang menyuntikkan modal segar.
3. PT Bintraco Dharma Tbk (CARS) - Free Float 94,51%
Dikenal sebagai diler resmi Toyota untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta (Nasmoco), CARS memiliki porsi saham publik yang sangat dominan. Sebelumnya, emiten ini dikendalikan oleh Keluarga Sebastian melalui PT Ahabe Niaga Selaras.
Peningkatan drastis free float terjadi akibat aksi divestasi berkelanjutan yang dilakukan oleh PT Ahabe Niaga Selaras dan manajemen lama pasca-restrukturisasi keuangan perusahaan, sehingga kepemilikan saham menjadi sangat terdispersi di masyarakat.
4. PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) - Free Float 94,05%
Emiten sekuritas ini mencatatkan porsi publik yang besar pasca-kegagalan rencana akuisisi Bank Muamalat beberapa tahun silam. Perusahaan ini identik dengan pemain pasar modal senior Edy Suwarno melalui Minna Padi Resources.
Penurunan harga saham yang tajam disinyalir memicu mekanisme forced sell atau jual paksa oleh kreditur atas saham-saham yang digadaikan (repo) oleh pengendali, sehingga saham tersebut beralih tangan ke pasar reguler.
5. PT WIR Asia Tbk (WIRG) - Free Float 93,89%
Perusahaan teknologi yang bergerak di bidang Metaverse ini mengalami lonjakan free float yang signifikan tidak lama setelah melantai di bursa. Hal ini disebabkan oleh aksi profit taking atau realisasi keuntungan yang agresif oleh para pendiri, yakni Daniel Surya dan rekan melalui PT WIR Global Kreatif serta PT Laut Biru Teknologi. Aksi jual masif dari pihak internal pasca-IPO ini menyebabkan struktur kepemilikan kini didominasi oleh investor publik.
6. PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) - Free Float 86,18%
Bergerak di bidang jasa teknologi informasi dan keamanan siber, ENVY mengalami tekanan kinerja fundamental yang berat. Pemegang saham pengendali awal, PT Envy Kapital (yang terafiliasi dengan investor Malaysia Dato' Sri Mohd Sopiyan), tercatat mengurangi porsi kepemilikan mereka secara signifikan. Saat ini, mayoritas saham beredar di pasar sekunder tanpa adanya kejelasan arah pembenahan kinerja dari pemilik modal mayoritas.
7. PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) - Free Float 84,98%
Emiten logistik ini memiliki riwayat pergerakan saham yang fluktuatif. Sebelumnya dikendalikan oleh PT Bimada Pradana, tingginya porsi publik pada DEAL berkaitan erat dengan isu gagal bayar atas fasilitas pendanaan yang menggunakan saham sebagai jaminan (repo). Akibatnya, saham-saham milik pengendali terdahulu disita dan dilepas ke pasar oleh pihak sekuritas atau kreditur.
8. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) - Free Float 84,83%
Sebagai bagian dari Grup Bakrie, tingginya free float pada ELTY merupakan konsekuensi dari langkah restrukturisasi utang korporasi yang kompleks. Perseroan melakukan skema Debt to Equity Swap (konversi utang menjadi saham) dalam jumlah besar kepada para kreditur. Penerbitan saham baru ini mengakibatkan kepemilikan Keluarga Bakrie terdilusi secara signifikan, sementara saham hasil konversi tersebut beredar di publik.
9. PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) - Free Float 82,29%
Perusahaan transportasi dan logistik ini sudah lama dikenal sebagai saham yang tidak aktif bergerak di level harga terendah. Secara historis, emiten ini dikendalikan oleh Keluarga Prananto dan Thesman. Tingginya porsi publik terjadi karena pengendali lama telah lama mengurangi aktivitas maupun kepemilikan di perusahaan ini seiring dengan stagnasi bisnis yang dialami perseroan selama bertahun-tahun.
10. PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) - Free Float 78,78%
Emiten penyedia layanan data pasar modal dan informasi keuangan ini juga mencatatkan dominasi publik yang tinggi. Didirikan dan dikendalikan oleh Itek Bachtiar, struktur kepemilikan LMAS menjadi sangat cair seiring berjalannya waktu. Kepemilikan saham tercatat menyebar ke berbagai pihak nominee dan publik, sehingga konsentrasi kepemilikan pada satu entitas pengendali menjadi minim.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378193/original/050455500_1760219906-TIMNAS_INDONESIA.jpg)

