Jakarta, CNBC Indonesia - Perjalanan sumber energi memasak di Indonesia terus berubah mengikuti kondisi energi nasional. Adapun, jika dulu masyarakat bergantung pada minyak tanah, kini pemerintah mendorong penggunaan LPG, jaringan gas rumah tangga (jargas), hingga compressed natural gas (CNG).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa keputusan pemerintah mengganti minyak tanah ke LPG sebenarnya sudah dipikirkan sejak awal 1990-an.
"Jadi LPG itu C3, C4 fasenya cair kita sedikit sehingga pada tahun 93, 94 kita sudah mulai memikirkan walaupun implementasinya itu di atas tahun 2000 untuk menggantikan minyak tanah menjadi LPG," ujar Laode dalam acara Podcast, dikutip Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, minyak tanah sebenarnya berasal dari fraksi minyak bumi bernilai tinggi yang kualitasnya mendekati bahan bakar pesawat atau avtur.
"Jadi sebenarnya itu kandungan avtur. Jadi kalau kita pakai minyak tanah itu mirip kita goreng pisang goreng pakai avtur," kata Laode.
Adapun, saat disinggung apakah penggunaan minyak tanah untuk memasak sama mahalnya seperti memakai avtur, Laode menjawab "Kurang lebih begitu," katanya.
Pemerintah lalu menjalankan program konversi minyak tanah ke LPG secara masif pada era 2000 an. Saat itu konsumsi LPG domestik masih relatif kecil sehingga dianggap lebih ekonomis dibanding subsidi minyak tanah.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, konsumsi LPG nasional terus melonjak hingga sekitar 8,7 juta ton per tahun. Sementara, sebagian besar kebutuhan LPG tersebut masih dipenuhi impor.
"Nah akhirnya kita mulai memikirkan alternatif yang lain dan banyak juga wilayah Indonesia sebenarnya yang belum pakai LPG, masih minyak tanah sampai hari ini," kata Laode.
Sebagaimana diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pengembangan CNG ukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi.
Menurut Bahlil, langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang terus membebani devisa negara.
"CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya. CNG ini diharapkan dalam rangka mencari salah satu alternatif terhadap substitusi impor kita yang besar," kata Bahlil usai cara pelantikan di Kementerian ESDM, dikutip Kamis (7/5/2026).
Bahlil menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik impor LPG Indonesia saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Kondisi ini membuat pemerintah harus mengeluarkan devisa yang cukup besar setiap tahunnya.
"Bayangkan kita impor per tahun itu 8,6 juta ton untuk konsumsi. Di saat bersamaan, devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun," ujarnya.
(ven)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)














:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471174/original/058386200_1768279410-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482119/original/085386600_1769161243-IMG_9502.jpeg)
