Selat Hormuz Ditutup, Pasokan LPG RI Ternyata Juga Ikut Terancam

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz ternyata tidak hanya mengancam pasokan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) saja. Namun kondisi tersebut juga berpotensi mengguncang ketersediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) domestik.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengingatkan pemerintah agar segera mengantisipasi risiko gangguan distribusi energi, khususnya LPG yang menyangkut kebutuhan dasar rumah tangga.

Menurut Komaidi, selain minyak, risiko yang tak kalah penting adalah pasokan LPG. Konsumsi LPG dalam negeri mencapai sekitar 9 juta metrik ton per tahun, sementara produksi domestik baru sekitar 1,8 juta metrik ton.

"LPG ini konsumsi dalam negeri per tahun adalah 9 juta metrik ton. Sementara produksi domestik baru 1,8 juta metrik ton berarti ada 7,2 juta metrik ton yang harus kita impor per tahun itu sumbernya nya dari dua lokasi utama," kata Komaidi kepada CNBC Indonesia, Selasa (3/3/2026).

Setidaknya, sekitar 52% impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat dan sisanya 48% dari Timur Tengah. Sementara, saat ini dua-duanya sedang terlibat dalam konflik regional dengan eskalasi yang cukup serius.

Adapun, eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan Iran-Israel serta potensi keterlibatan proksi-proksi regional, dinilai berisiko mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengantisipasi kondisi tersebut, menggingat LPG berkaitan dengan kebutuhan energi yang paling mendasar yakni untuk memasak.

"Kalau sampai LPG gak ada rush nya akan lebih besar lagi dibandingkan hanya ketersediaan BBM. Kalau bbm mungkin kita bisa mensiasati untuk gak banyak berpergian transportasi di manage tapi kalau berkaitan dengan kebutuhan dapur gak bisa," tambahnya.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |