Jakarta, CNBC Indonesia - Kisruh perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kian memanas membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh lebih dari 2% sehari.
Pada penutupan Senin kemarin (2/3/2026), IHSG jeblok218,66 atau -2,66% ke level 8.016,83.
Dari sisi pergerakan teknikal, IHSG masih bergerak stabil di atas area psikologis 8.000 dan posisinya tetap berada di atas garis MA200, yang mencerminkan tren jangka menengah masih terjaga.
Namun, momentum penguatan mulai terlihat melemah seiring penyusutan histogram positif pada MACD yang mengindikasikan potensi terbentuknya pola Death Cross. Jika tekanan jual berlanjut hingga indeks menembus ke bawah 8.000, maka ruang koreksi diperkirakan terbuka menuju rentang support berikutnya di kisaran 7.860-7.900.
Dari sisi makroekonomi dalam negeri, tekanan harga kembali muncul pada Februari 2026 dengan inflasi bulanan sebesar 0,68%, setelah sebelumnya terjadi deflasi 0,15% pada Januari 2026.
Lonjakan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memang cenderung mengalami kenaikan menjelang periode Ramadan akibat peningkatan konsumsi masyarakat.
Secara tahunan, laju inflasi meningkat signifikan menjadi 4,76% dibandingkan 3,55% pada bulan sebelumnya, sekaligus mencatatkan level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir sejak Maret 2023. Akselerasi ini juga dipengaruhi efek basis rendah, mengingat pada awal tahun lalu terdapat kebijakan diskon tarif listrik yang sempat menahan kenaikan harga.
Di sektor eksternal, kinerja neraca perdagangan mengalami penyempitan surplus menjadi US$0,95 miliar pada Januari 2026, jauh lebih rendah dibandingkan US$3,49 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan impor yang melonjak 18,21% secara tahunan, sementara ekspor hanya tumbuh moderat sebesar 3,39%.
Meski demikian, sektor manufaktur masih menunjukkan ekspansi yang solid. PMI manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026 dari 52,6 pada Januari 2026, mencerminkan aktivitas produksi yang tetap kuat, terutama didukung oleh permintaan domestik yang membaik.
Sentimen geopolitik juga masih mempengaruhi pasar akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang makin meningkat menyusul kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa operasi tempur di Iran akan terus berlanjut setelah tiga personel militer AS tewas. Pernyataan tersebut memperburuk sentimen pasar global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351436/original/075591100_1758049411-noqcog0f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403623/original/076212200_1762332363-PSS.jpg)





