Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah perusahaan lobi yang dipimpin oleh salah satu rekan berburu Donald Trump Jr. dilaporkan membantu perusahaan asal China dalam menghadapi lembaga pengawas keamanan nasional Amerika Serikat (AS). Langkah ini membuahkan hasil langka di mana perusahaan China berhasil memenangkan perselisihan di Washington melawan perusahaan rintisan (startup) asal AS.
Mengutip Reuters, kasus ini melibatkan startup asal Minnesota, FastWave, yang berupaya mengeluarkan Grand Pharmaceutical Group asal China dari jajaran investornya karena kekhawatiran keamanan nasional. Namun, Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) justru menolak permohonan tinjauan keamanan yang diajukan FastWave, sebuah keputusan yang secara efektif memenangkan pihak China.
Perusahaan lobi bernama Checkmate membantu pengacara Grand Pharmaceutical Group untuk mendapatkan pertemuan dengan kepala CFIUS pada awal Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, pihak pengacara berargumen bahwa kasus ini murni perselisihan komersial tanpa implikasi keamanan nasional.
Profesor ilmu politik di James Madison University, Tim LaPira, menilai praktik lobi seperti ini adalah hal yang sangat lumrah terjadi di pusat kekuasaan AS. "Jika Anda ingin berbicara dengan pihak yang sedang berkuasa, Anda perlu menyewa seseorang yang memiliki koneksi partisan tersebut," kata LaPira dikutip Jumat (10/4/2026).
Keputusan CFIUS yang memihak perusahaan China ini memicu kekhawatiran dari sejumlah ahli dan politisi Partai Demokrat. Mereka menilai hal ini menjadi celah bagi perusahaan China untuk mendapatkan pengaruh di pemerintahan Trump melalui pelobi yang dekat dengan lingkaran dalamnya.
Peneliti senior di Hudson Institute, Michael Sobolik, memberikan kritik tajam terkait situasi di mana perusahaan China bisa melobi pemerintah AS untuk melawan perusahaan domestik dalam isu keamanan nasional. "Jika sebuah perusahaan China dapat melobi pemerintah AS untuk memihaknya melawan perusahaan Amerika dalam masalah keamanan nasional, itu adalah puncak dari 'swamp' (istilah untuk korupsi/nepotisme di birokrasi)," ujar Sobolik.
Senator Demokrat, Elizabeth Warren, juga menyatakan keprihatinannya atas fenomena ini. Menurutnya, keterlibatan pelobi yang terkoneksi dengan keluarga Trump dalam keputusan keamanan nasional adalah hal yang sangat mengganggu.
"Sangat mengkhawatirkan bahwa perusahaan-perusahaan China mempekerjakan pelobi yang terkoneksi dengan Trump untuk memengaruhi keputusan independen tentang keamanan nasional Amerika," tutur Warren.
Kata Gedung Putih
Menanggapi kritik tersebut, pihak Gedung Putih membantah adanya intervensi atau pelemahan prosedur keamanan. Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan bahwa operasional CFIUS tetap berjalan secara ketat dan waspada.
"Tidak ada yang berubah dengan ketelitian, investigasi, atau operasi penegakan hukum CFIUS, yang terus secara kuat dan waspada menjaga kepentingan keamanan nasional Amerika. Implikasi bahwa pemerintahan Trump akan melemahkan CFIUS demi kepentingan khusus adalah sepenuhnya salah," tegas Desai.
Juru bicara Checkmate, Chris LaCivita Jr., mengonfirmasi bahwa Grand Pharma adalah klien singkat mereka untuk urusan regulasi. Ia menegaskan bahwa perusahaan tersebut bukan merupakan ancaman bagi Amerika Serikat.
"Grand Pharma adalah investor di perusahaan Amerika yang dibantu Checkmate sebentar untuk menavigasi masalah regulasi. Perusahaan tersebut tidak menimbulkan ancaman keamanan nasional," ucap LaCivita.
Dekat dengan Putra Trump?
Checkmate sendiri dipimpin oleh Ches McDowell, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan putra sulung Presiden, Donald Trump Jr. Meski nama McDowell tercantum dalam dokumen pengungkapan lobi, LaCivita menyatakan bahwa McDowell tidak bekerja secara pribadi dalam urusan Grand Pharma ini.
Pengacara Grand Pharma, Jeff Bialos, yang merupakan mantan pejabat senior Pentagon, menyatakan bahwa kemenangan kliennya murni berdasarkan fakta dan bukan karena dorongan politik.
"Ini adalah investigasi berbasis fakta yang panjang yang hasilnya tidak didorong secara politik. Kasus ini hanyalah perselisihan komersial swasta yang dipaksakan masuk ke dalam kotak CFIUS," kata Bialos.
Di sisi lain, CEO FastWave, Scott Nelson, merasa dirugikan oleh keputusan prosedur CFIUS yang dianggapnya tidak transparan. Ia menyebut keputusan tersebut membuat perusahaannya kesulitan melindungi teknologi kritis dari investor China.
"Keputusan prosedural yang tidak transparan dan sangat tidak teratur dari CFIUS mempersulit perusahaan kami untuk melindungi teknologi kritis kami dari investor China," pungkas Nelson.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450746/original/023400300_1766159119-national-773x380.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
