Siaga Bencana Gerakan Tanah-Sinkhole Intai Wilayah RI, Ini Pemicunya

2 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Musibah pergerakan tanah melanda sejumlah wilayah Indonesia di sejak awal tahun 2026 ini. Tak hanya itu, fenomena sinkhole juga bermunculan.

Pergerakan tanah yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada 6 Februari 2026 lalu memaksa lebih 2.400 warga harus mengungsi. Pergerakan tanah dilaporkan terus terjadi, bahkan pada malam hari.

Lalu, pada Senin (16/2/2026), musibah pergerakan tanah melanda Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menyebabkan 2 rumah rusak erat dan 47 Kepala Keluarga (KK) terancam.

Pergerakan tanah juga melanda Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang pada 18 Februari 2026. Kejadian ini dilaporkan sudah berlangsung sejak awal Januari 2026.

Sementara itu, tercatat temuan pertama kejadian fenomena sinkhole (lubah runtuhan) tahun dilaporkan pada 7 Januari 2026. Sinkhole berukuran 2x5 meter dengan kejadalaman 4 meter dilaporkan muncul di rumah warga di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Lalu muncul sinkhole di lokasi tak jauh, berukuran 3x4 dengan kedalaman sekitar 3 meter.

Fenomena sinkhole kembali memicu kehebohan pascabencana banjir bandang yang turut melanda Sumatra Barat pada pekan akhir November 2025 lalu. Sinkhole ini dilaporkan muncul pada 4 Januari 2026 di persawahan di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Dengan kedalaman sekitar 5,7 meter, ukuran diameter sekitar 10 meter.

Lalu, muncul lubah raksasa yang terus meluas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Meski BRIN kemudian menyebab kejadian ini bukanlah fenomena sinkhole.

Lantas apa pemicu kejadian pergerakan tanah dan sinkhole tersebut?

Pengaruh Musim Hujan hingga Zona Gempa Aktif

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan,  terjadinya bencana pergerakan tanah pada dasarnya bukan fenomena yang berdiri sendiri, tetapi sangat erat kaitannya dengan dinamika musim hujan di Indonesia.

"Indonesia memang memiliki karakter iklim dengan curah hujan tinggi dan durasi hujan yang panjang, terutama pada puncak musim hujan. Dalam kondisi seperti ini, tanah mengalami proses yang kita sebut sebagai kejenuhan air," jelasnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (23/2/2026). 

"Air hujan meresap ke dalam lapisan tanah pelapukan yang tebal, mengisi pori-pori tanah, lalu meningkatkan tekanan air pori. Ketika tekanan air pori meningkat, kekuatan geser tanah menurun, sehingga lereng yang sebelumnya dalam kondisi kritis menjadi tidak stabil dan akhirnya bergerak," tambah Lana. 

Dia menjelaskan, dari kasus pergerakan tanah di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, wilayah tersebut berada pada lereng curam 25-43° dengan litologi batu pasir yang berada di atas serpih dan napal yang kedap air. Saat hujan berlangsung lama, air tertahan di atas lapisan kedap tersebut dan membentuk bidang gelincir alami.

"Hasilnya adalah gerakan tanah tipe rayapan yang berkembang cepat setelah hujan intensitas tinggi," ujarnya.

"Contoh lain juga di Desa Pabuaran, Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Di sana tanah pelapukan lempung yang tebal berada di atas batuan napal dan serpih yang kohesinya rendah saat jenuh. Walaupun lereng relatif landai, infiltrasi air yang terus-menerus selama musim hujan mempercepat rayapan tanah dan menyebabkan retakan serta amblesan signifikan," sambung Lana. 

Karena itu, imbuh dia, ada faktor musim hujan yang menyertai munculnya bencana pergerakan tanah.

"Peningkatan kejenuhan tanah dan tekanan air pori yang secara langsung mempercepat proses pergerakan tanah. Inilah sebabnya pada puncak musim hujan kita sering melihat peningkatan kejadian longsor secara nasional," ucapnya. 

"Apakah ada kaitan dengan gempa? Secara umum, pada kasus-kasus seperti di Tegal maupun Tasik, faktor utama pemicu adalah curah hujan, bukan gempa. Namun, Indonesia memang berada pada zona tektonik aktif. Gempa dapat berperan sebagai pemicu tambahan apabila terjadi pada lereng yang sudah jenuh dan dalam kondisi kritis. Getaran gempa bisa menurunkan stabilitas lereng secara tiba-tiba. Tetapi tanpa adanya hujan yang menjenuhkan tanah, biasanya potensi longsor tidak sebesar saat musim hujan," terang Lana. 

Zona Rentan

Lana mengungkapkan, banyak wilayah di Indonesia, termasuk Tasikmalaya, memang sudah berada dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah hingga Tinggi berdasarkan peta yang diterbitkan oleh Badan Geologi.

"Artinya, secara geologi wilayah tersebut memang memiliki kondisi batuan dan morfologi yang rentan. Saat musim hujan ekstrem, gerakan tanah lama bisa aktif kembali, dan gerakan baru bisa muncul," kata dia.

"Jadi yang kita hadapi bukan fenomena baru, melainkan akumulasi faktor alami yaitu geologi yang memang sudah ada. Kemudian dipercepat oleh musim hujan, ditambah faktor tata guna lahan dan kepadatan permukiman di lereng," sambungnya. 

Karena itu, tegas Lana, setiap memasuki puncak musim hujan, kewaspadaan harus ditingkatkan. Terutama di wilayah yang sudah dipetakan sebagai zona kerentanan menengah dan tinggi.

Peta prakiraan wilayah potensi terjadinya gerakan tanah Indonesia bulan Maret 2026. (Dok. Badan Geologi)Foto: Peta prakiraan wilayah potensi terjadinya gerakan tanah Indonesia bulan Maret 2026. (Dok. Badan Geologi)
Peta prakiraan wilayah potensi terjadinya gerakan tanah Indonesia bulan Maret 2026. (Dok. Badan Geologi)

Penyebab Sinkhole Bermunculan

Sementara terkait fenomena sinkhole, Lana mengatakan, kejenuhan tanah akibat musim hujan bisa memicu fenomena lain seperti sinkhole, tetapi tergantung pada kondisi geologi setempat.

Pada prinsipnya, terang dia, saat musim hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, tanah mengalami peningkatan infiltrasi air. Air ini meningkatkan tekanan air pori, menurunkan kuat geser tanah, dan memicu pergerakan tanah seperti yang terjadi di Tegal dan Bogor.

"Namun dalam kondisi geologi tertentu, kejenuhan ini juga dapat memicu proses pelarutan atau erosi bawah permukaan (subsurface erosion/piping) yang pada akhirnya menyebabkan amblesan atau sinkhole," kata Lana. 

"Fenomena sinkhole umumnya berkembang pada daerah dengan batuan karbonat seperti batu gamping (karst) walaupun di beberapa tempat muncul juga di daerah vulkanik. Di mana air hujan yang sedikit asam melarutkan batuan dan membentuk rongga bawah tanah. Ketika atap rongga tersebut tidak lagi mampu menahan beban, terjadilah amblesan mendada," jelasnya. 

Namun di luar kawasan karst, kejenuhan air juga bisa memicu amblesan melalui mekanisme berbeda, seperti pelunakan lapisan lempung yang tebal, erosi internal (piping), runtuhan tanah urug pada area cut and fill perumahan, atau kegagalan lereng yang berkembang menjadi depresi lokal.

"Secara sederhana, kejenuhan air adalah faktor kunci yang dapat memicu berbagai jenis kegagalan tanah - baik longsor, rayapan, amblesan, hingga dalam kondisi tertentu sinkhole, tergantung litologi dan struktur geologi wilayah tersebut," paaprnya. 

"Dalam konteks wilayah seperti Tasikmalaya, Bogor, atau Tegal, yang didominasi batuan sedimen muda, napal, serpih, dan tanah pelapukan tebal, fenomena yang lebih umum adalah gerakan tanah tipe rayapan, longsoran translasi, atau aliran bahan rombakan, bukan sinkhole karstik klasik. Tetapi amblesan lokal tetap bisa terjadi jika ada erosi bawah permukaan atau tanah urug yang jenuh," tambah Lana. 

Tata Ruang Jadi Kunci

Merespons fenomena alam tersebut, kata Lana, Badan Geologi smelalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi secara rutin menerbitkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah dan Peta Prakiraan Gerakan Tanah bulanan berbasis curah hujan.

"Rekomendasi teknis pasca-kejadian melalui laporan resmi kajian dari Badan Geologi. Dalam kasus Tegal dan Bogor yang kita bahas, kedua wilayah tersebut sudah masuk dalam Zona Kerentanan Menengah hingga Tinggi. Artinya, secara tata ruang, wilayah tersebut seharusnya mendapatkan pengaturan khusus," ungkapnya.

Menurut Lana, rekomendasi Badan Geologi kepada pemerintah daerah umumnya meliputi:

- Tidak mengembangkan permukiman baru di zona gerakan tanah aktif
- Membatasi pembangunan pada lereng dengan kemiringan tertentu tanpa kajian geoteknik rinci
- Mengatur sistem drainase permukaan dan bawah permukaan secara ketat
- Mewajibkan kajian geologi teknik untuk pembangunan perumahan skala besar, terutama pada sistem cut and fill
- Relokasi permanen pada zona rayapan aktif atau zona longsor berulang
- Integrasi peta kerentanan ke dalam RTRW dan RDTR sebagai dasar perizinan.

"Masalahnya sering kali bukan pada ketiadaan peta, tetapi pada implementasi tata ruang dan pengawasan pembangunan. Tekanan kebutuhan lahan dan pertumbuhan penduduk membuat banyak permukiman berkembang di lereng-lereng yang sebenarnya sudah terpetakan sebagai zona rentan," tukas Lana.

"Pesan pentingnya adalah musim hujan bukanlah satu-satunya penyebab, melainkan pemicu pada wilayah yang memang secara geologi sudah rentan. Jika tata ruang tidak berbasis pada peta kerentanan yang sudah tersedia, maka setiap musim hujan kita akan terus menghadapi pola kejadian yang berulang," ucapnya.

Karena itu, Lana mengingatkan, pendekatan mitigasi harus berbasis peta, regulasi tata ruang, dan disiplin dalam implementasi teknis, bukan hanya respons saat bencana sudah terjadi.

Personil BNPB melakukan asesmen di wilayah terdampak pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal pada Minggu (8/2/2026). (Dok. BNPB)Foto: Personil BNPB melakukan asesmen di wilayah terdampak pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal pada Minggu (8/2/2026). (Dok. BNPB)
Personil BNPB melakukan asesmen di wilayah terdampak pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal pada Minggu (8/2/2026). (Dok. BNPB)

(dce/dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |