Siaga Perang Baru di Arab, Houthi Yaman Ancam Kepung Arab Saudi

13 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang baru di Arab dikhawatirkan meletus. Ini terkait eskalasi konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

Dilaporkan laman Al-Jazeera, kelompok Houthi melontarkan ancaman baru terhadap Arab Saudi setelah serangan yang menghantam Bandara Internasional Sanaa. Houthi memperingatkan akan mengepung Arab Saudi dan tidak menutup kemungkinan menutup Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

Hal ini ditegaskan anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti. Ia mengatakan kelompoknya akan membalas setiap serangan yang mereka yakini berasal dari Arab Saudi.

"Keputusan mereka menyerang Bandara Sanaa untuk mencegah penerbangan datang dan pergi memberi Yaman hak untuk menyerang bandara-bandara mereka dan memberlakukan pengepungan seperti yang mereka lakukan kepada kami," katanya dimuat laman tersebut.

Juru bicara Houthi Yahya Saree menyatakan serangan ke Bandara Sanaa mengakhiri fase deeskalasi perang Yaman yang telah berlangsung sejak gencatan senjata. Sebelumnya kedua pihak berkonflik menandatangani kesepakatan di 2022.

Perlu diketahui, serangan terhadap Bandara Sanaa terjadi Senin. Houthi kemudian menuduh Arab Saudi berada di balik serangan tersebut sementara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengklaim bertanggung jawab atas operasi itu.

Pemerintah Yaman menyatakan serangan dilakukan untuk mencegah pesawat Iran mendarat di Sanaa, wilayah yang dikuasai Houthi. Pesawat tersebut membawa delegasi Houthi yang baru kembali dari Teheran setelah menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Houthi kemudian meluncurkan rudal balistik ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi, Selasa. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim seluruh rudal berhasil dicegat.

Selat Bab al-Mandeb Terancam Ditutup

Sementara itu, ketegangan terbaru juga memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan Selat Bab al-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah yang menjadi jalur penting perdagangan global.

Saat ditanya mengenai kemungkinan penutupan selat tersebut, al-Bukhaiti menegaskan semua opsi masih terbuka.

"Bab al-Mandeb adalah aset strategis yang dimiliki Yaman," tegasnya.

"Kami akan menggunakan kartu ini terhadap negara-negara yang melakukan agresi terhadap kami," ujarnya.

Menurut Houthi, jalur tersebut hanya akan dijadikan alat tekanan terhadap negara-negara yang dianggap terlibat dalam aksi militer terhadap Yaman. Jika ancaman itu benar-benar direalisasikan, dampaknya berpotensi meluas ke pasar energi dunia.

Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dari Teluk menuju Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Kekhawatiran semakin meningkat karena ancaman terhadap Selat Bab al-Mandeb muncul bersamaan dengan memanasnya situasi di Selat Hormuz, yang sebelumnya juga menjadi pusat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Apabila dua jalur pelayaran strategis tersebut terganggu secara bersamaan, distribusi minyak global berpotensi mengalami hambatan besar yang dapat mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu rantai pasok perdagangan internasional. Sebelumnya, Houthi juga pernah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diklaim memiliki hubungan dengan Israel dan Amerika Serikat di Laut Merah.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |