Tanda Kiamat Makin Nyata! Luas Es Laut Terus Menyusut dalam 40 Tahun

2 hours ago 1

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

23 February 2026 16:24

Jakarta, CNBC Indonesia - Pencairan es laut Arktik terus menunjukkan tren penurunan yang signifikan dalam empat dekade terakhir.

Berdasarkan data NASA dan World Bank, luas minimum es laut tahunan di Arktik telah menyusut sekitar 1,1 juta mil persegi sejak 1980. Skala kehilangan ini setara dengan luas daratan Argentina. Angka tersebut menggambarkan besarnya perubahan yang terjadi di kawasan kutub utara.

Secara historis, luas es laut minimum pada akhir musim panas mencatat penurunan rata-rata sekitar 12% per dekade. Artinya, setiap sepuluh tahun, cakupan es yang tersisa semakin tipis dan menyempit dibanding periode sebelumnya.

Jika tren ini berlanjut, para ilmuwan memperkirakan Arktik berpotensi mengalami musim panas hampir tanpa es pada pertengahan abad ini. Kondisi tersebut akan menjadi tonggak perubahan iklim global yang sangat signifikan karena es laut berperan penting dalam memantulkan radiasi matahari dan menjaga keseimbangan suhu bumi.

Dampak Ekonomi

Penyusutan es membuka peluang jalur pelayaran baru di wilayah utara yang dapat memangkas waktu distribusi antara Asia dan Eropa. Selain itu, kawasan Arktik diperkirakan menyimpan cadangan energi dan mineral strategis dalam jumlah besar.

Akses yang semakin terbuka berpotensi mengubah peta perdagangan global sekaligus meningkatkan kompetisi geopolitik antarnegara besar.

Dampak Geopolitik

Di sisi lain, pencairan es mempercepat perubahan ekosistem, meningkatkan risiko cuaca ekstrem, serta memperburuk kenaikan permukaan laut secara global. Dengan demikian, fenomena ini tidak hanya mencerminkan krisis lingkungan, tetapi juga menjadi variabel strategis dalam perhitungan ekonomi dan keamanan jangka panjang.

Kekuatan Global dalam Penyusutan Es Arktik

Sejumlah kekuatan besar seperti China, Rusia, Uni Eropa, dan Amerika Serikat mulai memperkuat strategi nasional mereka di Arktik, seiring meningkatnya nilai geopolitik kawasan tersebut. Pada 2018, China meluncurkan konsep "Jalur Sutra Kutub" sebagai bagian dari Belt and Road Initiative, dengan fokus pada Jalur Laut Utara yang dapat memangkas waktu pelayaran hingga 20 hari dibandingkan Terusan Suez.

Selain jalur perdagangan, Arktik juga diperkirakan menyimpan sekitar 412 miliar barel minyak yang belum ditemukan. Di Greenland, cadangan logam tanah jarang mencapai sekitar 1,5 juta metrik ton. Pencairan es berpotensi membuka akses ekonomi baru, sekaligus meningkatkan persaingan strategis antarnegara di kawasan tersebut.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |